Kamis, 16 April 2020

Jingga

Rebah tubuhmu dalam betangan sayapku,
Dalam senyap, dadamu berdebar hebat. 

Tangismu pecah di penghujung malam, memantik pedih dalam dekapan alam. 

Tarik lagi nafasmu panjang, yang hilang suatu hari nanti akan ingat jalan untuk pulang. 

Kemudian yang pergi akan ingat, dimana awal ia berdiri. 

Tapi pada masa itu, kau sudah sangat cantik dengan sinarmu. 
Sudah sangat bahagia dalam dekap langit biru. 

Jingga itu sudah direngut senja. Lalu air matanya mengalir, membuat riak sungai semakin deras terukir. Ia kehilangannya, karena ego yang menguasai dirinya. 

-Hana Larasati


Senin, 10 September 2018

Rindu

Rindu ini dengan angkuh merasuk ke nadiku. Bergerak tak mau tau dan mengobrak-abrik tatanan jatungku.

Kesal, marah, kecewa tak dilihatnya. Digantikan egoisme ingin disapa pemilik mata dengan tatanan rasi bintang semesta.

Aku rindu. Cukup sulit. Namun saat detik itu aku harus melupakanmu. Tuan Maret.

10 September 2018

-Hana Larasati

Minggu, 09 September 2018

Anyelir

Jika hilang baru bertanya dimana
Jika pergi baru dicari kemana.
Sewaktu ada tak terlihat mata.

Angkuh itu mengudara.
Ditengah elok pilihan yang tersedia.
Bak anyelir ditengah ribuan mawar merah merona. Tak terlihat pada mata-mata serakah sang tuan legenda.

Saat darah mengalir karena duri. Baru sadar yang indah menyakiti. Lalu anyelir itu dicari. Pada tuan yang tengah sakit hati.

9 September 2018
-Hana Larasati

Rabu, 11 April 2018

Perempuan

Lentera hitam memancarkan gurat mencekam. Ronanya tak bernyawa pada waktu matahari tenggelam.

Diibaratkan kaca, lentera sudah hancur tak bersisa. Sianarnya terengut dalam kecaman diam hati yang temaram.

Disudut pintu ada kamu yang menanggis. Aku hanya tersenyum sambil memegang gagang pintu.

"Bagaimana sekarang?" Ucapmu dengan mata yang menahan air mata supaya tak tumpah berantakan.

Dia pernah bercahaya, indah sekali. Lalu perlahan mati, terpelanting disana-sini.

"Bagaimana sekarang?" Tanyanya sekali lagi.

Perempuan itu masih diam sambil mengengam gagang pintu.

Hatinya lelah, bagai anai-anai roboh terkena angin malam.

"Jangan pergi sekarang." Ucapnya menahan tangan yang siap membuka pintu..

Perempuan itu masih diam. Lelahnya tak tertahankan. Tidak ada alasan lagi untuk menetap. Semuanya sirna pupus dihapus ketidak tegasan.

"Tetaplah menetap!" Teriaknya saat perempuan itu sudah pergi dengan tegap. Semua terlambat.

8 September 2018

-Hana Larasati

Senin, 05 Maret 2018

Perjumpaan

Dia terlihat gagah hari itu, dengan kemeja hitamnya dan rambut yang tidak lagi sebahu. Dia tersenyum saat menatap mataku yang hari ini memakai baju coklat muda.

Sepatu tinggiku membuatnya tersenyum mencibir. Dia bilang aku kaku jika memakai itu. Tapi aku terlihat cantik dengan dandanan sederhana.

Kami mengadiri acara pertemuan para dosen. Dia menawarkan lengannya untuk ku gengam, namun aku mengantupkan tanganku sembari bergeleng lembut.

Dia menepuk jidatnya pelan dibarengi dengan senyuman. Dia mempersilahkan ku jalan duluan dan dia mengikuti di sebelahku laksana adipati dan putri.

Aku tersenyum bahagia hari ini. Sebagian orang berkata kami tampak serasi hari ini. Dia tersenyum salah tingkah, sama denganku yang tak jauh beda.

Aku tak tahu, akan bertahan berapa lama perasaan kami sekarang. Yang aku ketahui hanya kami, adalah dua orang yang berjalan bersama Ridho Tuhan. Meski banyak salahnya, banyak ketidak tahuannya namun setiap derap langkah dan pilihan kami selalu mengikutsertakan Tuhan sang pencipta alam.

Entah, apakan aku rusuknya yang baik atau dia kah tulang punggungku yang kuat. Yang ku tahu kami hanya saling menjaga satu dan lainnya. Dibumbui dengan cemburu dan rindu sebagai pemanis jalan hidup.

-Hana Larasati

Jumat, 02 Februari 2018

Merbabu dan Patahan Rusukku.

Pagi itu mendung masih mengelayuti mataku. Isi pesannya seolah merayuku untuk mengizinkan perjalannya mendaki ke merbabu.

"Kamu baru sembuh." Ujarku tak mau tahu.

"Tapi aku baik-baik saja." Dia tetap bersikukuh.

"Rusukmu patah satu bulan yang lalu!"

"Iya aku tahu, kan patahannya ada di kamu." Dia meledekku.

Aku harus bagaimana? Saat peringatan dianggap bualan. Ku matikan data ponselku. Kesal. Itu hal pertama yang ada di benakku sekarang.

"Buka pintu pagar." Sms nya masuk di kotak pesan.

Buru-buru ku buka jendela ruang tamu, dan benar saja sosoknya sudah berdiri tegap di depan pintu. Dia melambaikan tangannya, sambil memegang ponsel dengan casing warna biru.

"Mau apa?" Serbu ku saat sudah berada didepan pintu.

"Masuk. Di luar dingin."

"Tidak usah."

"Kenapa?"

"Latihan. Digunung lebih dingin dari ini."

Dia hanya tertawa. Dia pikir aku bercanda. Padahal jelas-jelas mataku mengancam dengan ancaman nyata.

"Eh, Fahri kenapa di luar aja?" Seru ibuku mengagetkan.

"Gak boleh masuk bu sama Hana." Dan akhirnya mau tidak mau, ku buka pintu gerbang, berbarengan dengan seringainya pertanda kemenangan.

Dia duduk di bangku kayu. Aku menatapnya masih dengan ancaman mautku.

"Aku gak di kasih minum?"

"Mau apa?"

"Gak usah repot-repot. Es cendol aja."

"Itu ngerepotin!" Ucapku sambil menyembunyikan tawa.

Ku taruh dua cangkir teh di meja kayuku. Dia mengambil satu dan meneguknya sambil sesekali melirik mataku.

"Kok dua?" Tanyanya.

"Satunya buat aku."

"Kenapa? Haus ya marah-marah mulu?" Dia masih dengan seringai yang membuatku salah tingkah untuk marah.

"Enggak."

"Udah apa. Gak capek emang marah-marah mulu?"

"Habis kamu."

"Lah aku kenapa?"

"Nyebelin."

"Kok nyebelin?"

"Iya, udah aku bilang jangan naik gunung dimusim kaya gini. Kamu tetep nekat. Mau cari apa sih disana? Penyakit?"

"Penyakit kok dicari. Penyakit mah di obatin." Dia tertawa.

"Aku kesana juga cuma mau cari refenensi tempat aja Han, buat bawa patahan rusukku. Kamu." Dia mencoba merayuku.

Lalu air mataku jatuh. Dia tidak tahu bagaimana khawatirnya aku.

"Lah...lah.. kok nangis? Jangan nangis dong. Aduhh. Eh jangan nangis dong."

"Yaudah sana pergi. Awas kalo gak pulang."

"Kenapa emang?"

"Gapapa."

"Ahh, kamu takut kehilangan yaaaa."

"Enggak."

"Bohong?"

"Iya. Enggak."

"Kalau ada aku dimarah-marah. Kalau pergi gak tega. Aku harus apa?" Wajahnya memelas.

Dan aku hanya membalasnya dengan tawa. Sambil sesekali melempar kacang ke wajahnya.

-Hana Larasati

Kamis, 18 Januari 2018

Pecahan Kaca

Tanganku memegang pecahan kaca, yang entah siapa yang memecahkannya.

Aku merapikannya. Satu demi satu ku pasang dengan seksama.

Lalu tanganku luka. Namun pecahan kaca masih ku gengam dengan tangan yang berbeda.

Aku suka merapikan yang berhamburan. Menyusun yang berantakan. Menyambungkan semua yang pecah kembali walau tak akan sama lagi.

Tak ada yang kudapat, walau hanya ucapan selamat. Memang aku tak menuntut hak apa pun termasuk luka-luka yang memenuhi tanganku.

Aku hanya ingin tak ada orang yang merasakan hal sama seperti aku. Yang untuk memasuki hatinya kau harus memakai alas kaki karena banyak pecahan yang tak sempat di rapikan lagi.

-Hana Larasati

Dari Sekat Jadi Dekat

Waktu itu kita bertengkar hebat, hingga aku ragu bahwa kita bisa jadi sahabat. Kau dengan argumenmu dan aku dengan presepsiku.

Lewat ego, kita bagai kutub magnet yang sama, namun jika dekat saling tolak menolak.

Aku tertawa saat membaca ulang semuanya. Kamu yang sarkastis bertemu aku yang egois.

Tapi dari kelapangan hatimu kau mau menerimaku yang pada saat itu adalah bayangan masa lalu dan dengan kerendahan hatiku, aku bisa menerimamu yang dulu pernah ku sebut perebut kekasihku.

Meski berat, terkadang bicara dapat mengubah hal yang sekarat menjadi sesuatu yang lebih manfaat.

Kita bukan nabi yang tidak punya kesal di hati. Namun untuk menjadi orang yang lebih baik, kita seharusnya bisa menurunkan ego hati.

Akhirnya dia jadi sahabat dan kita jadi dekat.

-Hana Larasati

Sabtu, 13 Januari 2018

Menulis Itu Mengasikkan.

Pada detak yang menghasilkan detik. Tergulir pemikiran untuk menanyakan hal yang sudah mengakar.

"Bagaimana jika pengagummu seorang penulis?" 

Kutanya begitu, saat hari Selasa tepat pukul 02:00 AM. Dia hanya membalas pesanku dengan tawa.

"Bagaimana jika pengangummu seorang penulis?" Ku tanya lagi padanya.

"Aku akan jadi pembaca setianya."

"Meski kau tak suka baca?"

"Iya, meski aku tidak suka membaca?"

"Kenapa?"

"Karena jika penulis jatuh cinta, maka aku akan selalu abadi dalam karyanya."

Sekarang aku yang tertawa.

"Kenapa kamu suka menulis?" Kali ini dia yang balik bertanya.

"Menyenangkan."

"Makan ice cream juga menyenangkan."

"Tapi makan ice cream gak bisa setiap hari. Nanti pilek. Menulis bisa dan gak bikin pilek."

Dia tertawa. "Serius Hana."

"Aku suka menulis karena aku bisa berbicara pada diriku sendiri, namun orang lain bisa ikut merasakannya."

"Itu sebabnya banyak orang yang bisa kau menangkan hatinya?" Dia terkekeh.

"Menulis itu bukan tentang memenangkan hati siapa pun. Tapi lebih kepada memenangkan hatiku sendiri dan menebarkan cinta kepada para pembaca. Masalah bahagia atau tidak biar mereka yang memaknainnya."

"Pantas banyak yang bilang penulis itu romantis."

"Menurutmu aku begitu?" Tawaku.

"Tidak."

"Kenapa bukan kamu saja yang jadi penulis?"

"Biar apa?"

"Romantis."

"Aku gak bisa nulis."

"Bukan gak bisa. Hanya belum ada kemauan. Ilmu itu diusahakan, bukan ditunggu untuk datang. Termasuk ilmu menulis."

"Apa untungnya buatku?"

"Banyak, jika kau mau tau. Salah satunya adalah kau bisa menembus jutaan kepala hanya dari satu karya."

Jika kau seorang penulis kau tak perlu marah-marah untuk menyampaikan argumentasimu. Tak perlu juga menangis untuk mendeskripsikan perasaanmu. Kau cukup menulis dengan jujur apa yang ada dihatimu dan mereka pun akan tau tanpa perlu susah payah kau beri tau. Menulis itu menyenangkan kan? Jadi kapan kamu mau beralih dari seorang pembaca ke penulis?

-Hana Larasati

Rabu, 16 Agustus 2017

Kemerdekaan

Kemerdekaan  bukan hanya sekedar tentang merebut apa yang menjadi hak. Melainkan lebih dari itu, kemerdekaan adalah bagaimana menjaga apa yang sudah di peroleh, merakitnya menjadi lebih baik.

Bagaimana meneruskan perjuangan, tidak hanya dengan senjata tapi lewat suara. Tidak hanya dengan gerilya melainkan lewat aksi nyata.

Dan bagaimana mewujudkannya dengan cita-cita dan impian nyata. Kemajuan bukan hanya sekedar tugas anak mudanya, melainkan tugas semua masyarakat yang mengaku Indonesia.

-Hana Larasati

Sabtu, 12 Agustus 2017

Pelita

Dan lagi,
nurani terpenjara saat menatap bola matanya.

Dia sangat banyak tersenyum dan bertanya. Celotehnnya semakin meruntuhkan nuraniku.

Dia bertanya kepadaku perihal matematika, aku menjawabnnya sambil terus menatap matanya.

Sebelumnya ibunya bercerita, anaknya memiliki sebuah kelebihan, ku sebut saja begitu.
Susah ingat dan mudah lupa.
Dia sering terasing karena kelebihannya.

Banyak yang menyerah untuk mengajarinya. Ibunya datang padaku sambil berkata.

"Anak saya punya kekurangan. Dia susah ingat dan gampang lupa. Bicaranya pun belum lancar karena dia telat bicara. Sewaktu kecil dia pun pernah mengalami gagal jantung."

Aku tersenyum, tapi mataku tak bisa berbohong jika ini sangat menyakitkan.

"Setiap anak punya keistimewaannya sendiri bu."

Ibunya seperti memberi sinyal bahwa aku harus sabar dalam mengahadapinya.
Ku eja alif ba ta. Dan dia mengikuti walau agak lama.
Ku kenalkan A B C dan dia mengikutiku walau berbeda bunyi hurufnya.

Aku tidak tau harus mengartikan ini bagaimana? Dia adalah pelita, bagaimana pun wujudnya.

Minggu, 11 Juni 2017

Lorong Pisah.

Senja, akhirnya aku tau karma itu cepat datangnnya. Secepat kepakkan camar yang terbang pulang saat kau tiba dalam peraduan.

Saat ini aku duduk terhuyung menanti asa. Air mata sudah bosan keluar dari tempatnya. Lelah. Mungkin itu yang aku rasa dari dampaknya.

"Jadi, selama bersama ku hatinya masih tertahan di sana. Lalu, tawa itu? Pandainya ia dalam merekayasa." Batinku pilu.

Derap langkahnya bergemuruh di lorong-lorong. Satu persatu pintu kelas dia buka, demi mengetahui keberadaanku. Aku masih terduduk sayu, sambil menikmati hembusan anggin pengantar laraku.

Akhirnya dia tiba di pintuku, di bukanya perlahan dan dia masuk dengan langkah yang tenang. Sesaat dia duduk di sampingku. Menatap mataku yang kualihkan pada langit yang hampir kelabu.

"Kita harus bicara." Suaranya mengema dalam ruang yang tidak ada penghuninya.

Mataku masih menatap langit senja. Walau tidak menangis tapi manusia tetap punya sesak yang menghimpit dada.

"Kita benar-benar harus bicara." Ulangnya untuk kedua kalinya.

Seakan tuli, aku tetap tidak mengalihkan pandanganku pada senja yang mulai temaram.

"Kita harus bicara!" kali ini dibarengi dengan gebrakan meja. 

Aku bangkit. Ku tatap dalam matanya. Kualirkan segala rasa kecewa. Lalu aku berjalan melaluinya sambil membawa tas dan beberapa buku data.

Dia berlari mengejar, tapi aku lebih pandai menghindar.

"Aku mohon. Aku bisa jelaskan." Lolongnya dalam lorong-lorong tanpa tuan.

Aku pun berbalik. Menatapnya sejenak dan mulai berjalan menghampirinya.

Dia tersenyum, tapi keringatnya mengucur dari ujung kepala hingga ke hatinya.

"Aku menyesal. Iya oke, aku belum bisa melupakan perempuan itu. Tapi selama ini aku berusaha."

"Tidak ada manusia yang bisa lupa dengan sendirinya, kecuali amnesia." Kataku getir.

"Aku mohon maaf."

Aku terdiam cukup lama. Sangat lama hingga jam dinding menunjukan suaranya. Dia mencoba mendekat, tapi hatiku semakin menjauh.

"Kita bisa perbaiki semuanya." Lanjutnya tanpa putus asa.

"Percuma, aku gak bisa sama-sama dengan orang yang hatinya masih tertahan pada masa lalunya." Ujarku.

"Kita pisah?"

"Dari dulu kita juga bukan pasangan kan? Hanya dua orang yang kebetulan memiliki perasaan yang sama."

"Oh sorry, ralat. Hanya aku yang punya perasaan itu." Seringaiku.

Dia terdiam. Ku rasa apa pun yang dia katakan, tak akan merubah apa pun dalam keadaan ini.

"Aku sayang kamu Han."

"Tapi kamu juga sayang dia kan?"

Dia melorot jatuh. Tangan kanannya mengacak rambut yang sebahu itu. Matanya nanar, senyumnnya hilang, hatinya hancur dan harapannya lebur.

Aku berjalan menjauh, cardigan hitam ku berkelebat di tiup angin sore. Sekarang aku jadi lebih mirip kelelawar jahat perampas kabahagian orang.

Di lorong itu dia terus menatapku, dan aku semakin memantapkan langkahku. Di setiap perpisahan harus ada yang luka. Entah salah satunya atau keduanya. Tapi semua itu pasti ada. Seakan wajib hukumnya. Kali ini bukan aku yang terluka. Iya bukan aku. Batinku sambil menghapus titik air mata.

-Hana Larasati

Kamis, 08 Juni 2017

Pada Akhirnya Hanya Butuh Yang Cukup

Angin selalu membawa kesejukan tersendiri untuk penikmatnya. Obat untuk hati yang patah, senyuman untuk rindu yang buta arah dan kebahagian untuk mereka yang lapang hatinya.

Sore ini antara ashar dan senja Tuhan mengirimkan hadiah dari penantian yang panjang. Hadiah dari rindu yang lama tertahan, yang tak bergerak karena semua berasal dari perasaan yang sulit di ungkapkan.

Di temani hembusan angin, aku melihat matanya lagi Tuhan, mata yang aku kagumi sejak pertama kali kita bertatap. Dan senyumnnya bagaimana aku bisa melupakannya? Aku tidak tau sample galaksi mana yang Kau sematkan di bibir manisnya.

"Hana, di panggil Eki." Kata seorang sahabat ketika aku baru duduk dengan beberapa anak yatim.

"Kenapa?"

"Gak tau di panggil aja."

Aku langsung bergegas menghampirinya.

"Ada apa?" Kataku.

"Tuh yang kemarin di tanyain."

Seketika ku alihkan pandanganku. Dia tampak lebih gemuk, rambutnya di pangkas habis.

"Apa sih Ki." Muka ku seketika masam dan aku pun langsung bergegas pergi.

Ya Allah, bukan mau ku menghindarinya, tapi apalah aku di matanya. Begitu banyak yang indah di sekelilingnya. Jadi salahkah aku jika aku melindungi diriku dari perasaanku sendiri?

Aku mulai berbaur lagi dengan, beberapa anak yatim. Sesekali kita berbicara dan lebih banyak kita bercanda.

"Kamu gak suka sama gaya rambutku?" Katanya mengagetkan saat aku sedang bercanda dengan anak-anak yatim.

"Eh, Apa kabar?" Sedikit salah tingkah.

"Kamu masih belum berubah ya." Katanya yang sekarang mulai berbaur denganku.

"Berubah kenapa deh?"

"Kalau ditanya tuh jawab bukan balik nanya." Terdengar sedikit kesinisan dari nadanya.

"Aku bingung jawabnya." Kataku sambil tersenyum.

Dia hanya tersenyum.

"Sebentar lagi kita pisah." Matanya tak beralih dari mataku.

"Kita emang udah pisah."

"Kamu udah terbiasa ya."

"Biasa gak biasa harus terbiasa. Pertemuan di ciptakan untuk perpisahan."

Kita berjalan keluar, sedikit menikmati bintang dan banyak menceritakan kisah tentang hidup dan kehidupan.

"Kamu gak suka ya aku yang gini."

"Kenapa mikir gitu sih."

Dia hanya terdiam.

"Ada masanya, segala sesuatu berubah. Fisik, penampilan, pola pikir dan hal lainnya. Aku gak bisa nuntut perubah itu, dan kamu gak perlu merasa bersalah akan hal itu."

"Tapi di akhir cerita kamu, kamu tulis..."

"Ceritanya gak berakhir sampai situ. Ada tulisan lain di lembar baru."

"Tetep aja kamu suka yang kurus."

"Gak juga."

"Mantan kamu kurus."

"Berarti kamu suka yang putih ya."

"Enggak?"

"Mantan kamu putih."

"Hannn."

"Siapa yang mulai?"

Dia hanya tersenyum.

"Di akhir cerita nanti wajah, fisik, dan tipe-tipe yang menjadi idaman akan menjadi nomer kesekian. Karena pada akhirnya, kita hanya butuh pendamping, yang ketika bersamanya semua masalah terasa baik-baik saja. Yang ketika bersamanya, semua kesulitan tak semenakutkan seperti biasanya."

Dia terdiam dan kemudian tersenyum.

"Jadi gapapa aku botak, aku tembem, aku gemukan?"

"Gemukan = Bahagia. Berarti kamu bahagia sama aku. 😙"

Dan aku pun meninggalkannya pergi. Sekilas kulihat senyum tersemat di bibirnya.

"Tungguin aku Cungkring." Katanya sambil mempercepat langkahnya menujuku.

"Gak mau ah, kelamaan sama kamu bisa batal puasa aku."

"Kan aku cuma ngajak ngobrol gak ngajak makan es buah." Katanya.

"Dasar gak sadar diri. Kamu tuh manis!" Aku langsung menghilang ke balik pintu, tapi masih terdengar gelak tawanya.

Pada akhirnya kita hanya butuh yang cukup. Cukup mendengarkan, cukup memperhatikan, cukup mengayomi dan cukup berbagi kebahagiaan atau masalah bersama.

-Hana Larasati

Rabu, 07 Juni 2017

Angkatan 2013

Di hari ini aku belajar.
Apa yang terlihat mata tidak selalu memcerminkan apa yang ada di hati.

Dari mereka aku belajar, bahwa hal baik bisa di lakukan oleh siapa saja. Kampus ini bukan hanya sekedar tempat untuk belajar eksak, tapi juga pelajaran hidup.

Pelajaran untuk tidak cepat menilai. Pelajaran untuk tidak memetakan manusia. Setiap orang toh punya sisi baik dan buruknya.

Setan selalu salah, malaikat selalu benar dan manusia ada di keduanya. Jadi masih pantaskah kita untuk menghakimi orang lain hanya karena dia seorang perokok, berandal, dan hal lainnya.

Coba belajar untuk melihat seseorang dari sisi lain dirinya. Kamu juga tidak mau kan dinilai hanya dari sisi burukmu.

Di sini aku semakin terpana, bahwa beauty in the beast. 😊

Sabtu, 25 Februari 2017

Hujan dan Hal-hal yang Diabadikan

Sejujurnya dulu aku adalah orang yang paling patah,  saat kamu menginginkan kita pisah. -Boy Chandra 

Ku tutup lembar buku itu, tapi ku buka lebar pikiranku. Mencari-cari dimana kamu yang berdiam lama disudut sisi lain hatiku.  Lalu menikmati segala piringan hitam kenangan di tengah hujan. 

Untuk tuan yang sempat menyandang gelar cinta pertama.  Pertama-tamakan kan ku tanya  bagaimana kabarmu ? Dan bagaimana kabar perempuan itu? 

Tuan,  setelah kehilangan, pikiran pertama yang datang adalah aku akan hampa dan tidak memiliki jalan pulang.  Aku pikir semua tidak akan berjalan semestinya.  Semua keluar dari orbitnya.

Tapi itu kesalahan terbesarku,  menjadikan kamu dunia dan menghindar dari dunia yang sesungguhnya. Mengakrabi luka dan menolak bahagia. 

Ada yang orang lupa saat berduka.  Dia mengejar satu dan menyianyiakan yang seribu. Terlalu fokus pada luka dan lupa berapa banyak orang yang berusaha membuatnya bahagia. 

Dia berpikir semuanya berubah saat dia terluka. Padahal semuanya masih di posisinya. Dia akan tetap bekerja,  temannya masih sama,  skripsinya akan selalu menyapanya.

Lalu apa yang membuat beda? Yang membuat semuanya berbeda adalah dia.  Dia mengkondisikan semua nya akan berubah saat luka mengakar dengan parah. 

Setelah bisa bangkit dan sadar. Aku sudah siap bertemu mu lagi. Menanyakan kabar dan berbincang sekedarnnya.  Menceritakan hal-hal yang baru,  buka pertengkaran atau luka yang di ungkit.  Semoga kau juga begitu.

Akan ku perkenalkan kau dengan seseorang yang kini menggantikan posisimu.  He can't wait to meet you. And I can't to meet she.

Hari itu pasti tiba.  Semoga. 

-Hana Larasati

Sabtu, 11 Februari 2017

Bogor

Rekam jejak semakin menyeruak, seiring hujan jatuh dengan perasaan yang luruh.

Ekspektasiku berkata, hari ini aku akan menemui kota Bogor dengan langit yang lebih biru dari biasanya. Hingga nostalgia kata tak kan cukup untuk mewakilkan keindahannya.

Namun realitannya, yang ku temu hari ini adalah Bogor dengan gemericik hujan dan kabutnnya yang mulai menebal.

"Bogor selalu begitu Hana. Di musim hujan sudah semestinnya berkabut dan basah. Setelah ini pasti berganti dengan matahari, hanya perlu cukup sabar untuk menanti.

Aku tersenyum. Lalu menimang-nimang segala macam presepsi. Toh bukan sifatku juga untuk menawar keadaan. Memaksa hujan berhenti untuk di ganti dengan matahari buatku tak ada bedanya dengan memaksa bumi berhenti mengitari porosnnya.

Satu-satunnya hal yang bisa ku lakukan adalah aku harus terus membiasakan diriku dengan semuannya. Menyamarkan keadaan lewat hiruk pikuk aktivitas yang berjalan semestinya. Mencoba menciptakan cinta di kota tempat berdirinya istana kebun raya.

Tapi sekali lagi aku bilang terjebak itu bukan sesuatu yang menyenangkan, sesingkat apa pun waktunya. Salahkah jika aku mulai muak?

Kau pun pasti mengerti bahwa perasaan manusia selalu ada batasnnya. Terlihat baik-baik saja tak akan mengubah keadaan menjadi baik-baik saja.

Dan seperti biasannya saat aku sudah sampai di ujung batasanku dia datang. Dan mungkin ini yang terbaik di hari ini. Saat dia berjalan mengampiriku dengan payung hitamnya. Senyumnnya sedikit membuat udara tak sedingin kenyataannya.

Aku memepersilahkannya duduk.

"Pesanmu, apa benar?" Katanya sambil menggosok buku-buku jari yang memutih akibat udara yang menjadi dingin di luar kemauannya.

"Iya."

"Apa jogja tempat pelarian terbaik?"

"Bukan pelarian, hanya persinggahan."

"Kenapa? Apa Bogor kurang baik hingga harus memilih Jogja."

"Bukan. Jangan membandingkan keduannya seperti itu."

"Lantas? Apa Jogja yang lebih baik buatmu?"

"Manusia gak pernah tau apa yang terbaik buatnya."

"Aku tau tentangmu dan apa yang kamu rasakan. Tapi lari bukan suatu pilihan terbaik.."

"Sudah aku bilang manusia gak pernah tau apa yang terbaik buatnya."

"Haruskah menyerah?"

"Pada beberapa hal kita tidak bisa menembunyikan batasan."

"Batasan manusia tercipta saat dia menyerah pada keadaan yang ada."

"Kemana Hana ku? Kenapa harus bersembunyi. Kau bisa bercerita dan kita bisa memecahkah semua masalahnya." Lanjutnya.

"Kau tau? Terkadang seseorang ingin bercerita tapi terlalu malas karena berpikir masalahnya bukan konsumsi manusia."

"Jika itu maumu semoga ini bisa menyembuhkan sedikit laramu."

Dia mengambil gitarnya dan mulai bernyayi di tenggah luka yang mengakar.

Datanglah bila engkau menangis ceritakan semua yang engkau mau, percaya padaku aku lelakimu. Mungkin pelukku tak sehangat senja, ucapku tak menghapus air mata, tapi ku disini sebagai lelakimu.

Akulah yang tetap memelukmu erat saat kau berpikir mungkinkah berpaling . Akulah yang nanti menenangkan badai agar tetap tegak kau berjalan nanti.

Aku tersenyum. Sangat menyembuhkan aku rasa untuk saat ini.

"Jangan menangis. Bogor memang dingin, tapi bukan berarti dia tidak baik."

"Iya aku tau. Jogja pun tidak selalu lebih baik. Tapi aku rasa saat ini aku harus memberi jarak pada semuanya."

"Jadi kapan? Kapan kau akan pergi?"

"Setelah lulus nanti."

"Apa aku salah sati yang akan kau lupa? "

"Tidak. Kau malah satu-satunya yang akan ku ingat di kota seribu budaya itu."

Dia tersenyum.

"Jangan mencoba memakai topeng sepertiku. Jika sedih tunjukan sedihmu jangan bersembunyi di balik senyummu. Aku hanya membutuhkan ketenangan, dan Jogja satu-satunya kota yang bisa ku pikirkan."

"Baiklah, ku tunggu hingga kau kembali. Sahabat."

Aku pun tersenyum.

Kau tau, meninggalkan sesuatu untuk sesuatu yang baru terkadang tidak semenyenangkan permainan di dufan.

Tapi seseorang butuh waktu menepi dan membiarkan dirinya sendiri. Mencoba bercengkrama dengan nurani dan mengintropeksi.

Ini bukan akhir tapi ini awal. Awal untuk menjadi Hanamu yang dulu.

Selasa, 03 Januari 2017

Hujan Dia Awal Januari

Yang kau tunggu sudah hadir nona.
Hujan di bulan januari.
Tak kau sambut dia?

Hei nona!
Kenapa kau malah berlari?
Bukannya kau suka hujan?

Oh iya aku lupa,
Tidak semua rasa suka haru berakhir dengan kebersamaan.
Kadang harus ada penghindaran untuk melindungi salah satunya.

Seperti kau yang mencintai aku di teduh mata sayumu.

4 Januari 2017

-Hana Larasti

Jumat, 30 Desember 2016

Jalan Cinta Para Pejuang

Masih jam 07:00 pagi, terlalu dini untuk iri pada mereka yang membuat hati berseri. Terbayang bagaimana mereka jatuh cinta lalu melibatkan Tuhan nya. Cinta di atas titik ketaatan.

Mereka yang bisa menjaga matanya, mereka yang bisa menahan hatinya, mereka yang bisa berkomitmen atas dasar agama.

Sudah waktunya aku rasa. Membiarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci.Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi.

Tuan, maafkan hati yang dengan lancang memasukanmu dan menjadikanmu yang nomer satu. Aku harap kau maklum, seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat.

Berat itu pasti. Saat taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas. Tapi aku yakin, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Saatnya untuk memilih tinggalkan atau halalkan.

-Hana Larasati

Kamis, 29 Desember 2016

Mengakrabi Hampa dengan Aksara

Hanya suara detak jarum jam yang menemaniku malam ini. Aku merasa, suaranya lebih ramai dari biasanya atau mungkin hidupku yang terlalu sepi?

Sekarang sudah pukul 02:58 dan mataku masih saja terjaga. Akhir-akhir ini aku sering tidur larut. Aku tidak tau kenapa bisa begitu, yang aku tau kepala ku terasa berat. Seperti pengap, entah apa yang kupikirkan. 

Mereka bilang itu namanya hampa. Hampa? Apa benar itu yang ku rasakan? Tapi bagaimana hampa bisa begitu menyakitkan? Hampa harusnya berarti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa berarti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit.

Aku ingin sekali mengubah rutinitasku agar rasa hampa itu tidak lagi aku rasa. Tapi, bukannya mengubah rutinitas itu sama saja dengan menawar bumi agar berhenti mengelilingi matahari?

Sesaat aku menatap langit, lalu aku berpikir. Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang-bintang kita tetap disana. Bumi hanya sedang berputar.

Aku menarik nafas panjang. Jika sudah begini, hal yang membuatku sedikit lega adalah melampiaskan semuannya dalam aksara.

Buatku, bermain dalam kata sama halnya dengan berimajinasi tapi kau memiliki bukti yang nyata.

Saat semua penat terjun dan dideskripsikan dengan sebebas-bebasnnya, aku benar-benar merasakan puas.

Menulis buatku tidak hanya menyalurkan aspirasi, tapi lebih kepada media untuk berbagi ilmu, nasihat, peringatan, pengalaman dan hal lain yang menakjubkan.

Setiap penulis punya gayanya masing-masing. Ada yang suka berprosa, puisi, diksi, fiksi dan yang lainnya.

Tulisannya adalah identitas dirinya. Bagaimana dia menyampaikan makna yang tidak bisa di ungkapkan kata. Mengajak mata berkelana dan membiarkan otak mencerna maknannya.

Bukan mimpiku awalnnya menjadi seorang penulis, tapi takdirku yang mengajakku berjalan untuk menjadi sang penyampai pesan.

Walaupun banyak yang mengatakan takdir di luar kenadali kita. Sama halnya dengan nasib yang tidak bisa di tentukan, tapi aku lebih tau diriku. Buatku, takdir ku hidup di dalam diri ku.

Tidak ada kekangan dalam menyampaikan tulisan. Kau bisa menjadikan siapa pun untuk masuk dalam ceritamu.

Sudah pukul 04:00 dan tulisanku pun sudah hampir jadi. Cerita ini tidak melulu soal hati, tapi lebih kepada kita yang harus mawasdiri.

-Hana Larasati

Rabu, 28 Desember 2016

Guratan Cinta Dalam Kumandang Adzan

Tepat pukul 04:05 suara penyerumu telah di perdengarkan. Jika aku tak bangkit, maka apa bedannya aku dengan kaum munafik dan para pengungkit.

Adzan itu adalah tanda bahwa kita harus istirahat, dan mulai merancang percakapan bersama Tuhan.
 
اَللهُ اَكْبَر

Nyaring kalimat itu dalam panggilanNya. Suatu kalimat persaksian bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah, bahkan semesta pun tunduk pada perintahNya.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّاللهُ

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Seketika hatiku bergetar. Apa itu sudah ku lakukan dengan benar? Berkelabat rasa Takut, malu, merasa bersalah saat persaksian itu di kumandangkan.

Tertarik semua bayangan, saat dengan tidak sengaja aku sering menduakanNya, padahal mulutku sering bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia.
 

 اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Terbayang sikap teduh sang Nabi. Bagaimana dia mengimami. Menyuruh kita memahami, bukan hanya mengikuti sugesti. Ah, Muhammadku bisakah aku bertemu denganmu. Sepersekian detik saja. Aku rindu, dan semoga engkau sudi menemui aku, umatmu.

            حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

Marilah kita sholat. Dekatkan dirimu dalam taat. Menangislah dan berserah untuk imanmu yang harus maju.

               حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

Saat Tuhan sudah berseru kemenangan hanya sebatas kening dan sajadah, masihkah engkau ingkar atas nikmatnya? Masihkah engkau menyerah dalam setiap ujiannya?

             اَللهُ اَكْبَر , اَللهُ اَكْبَر

Ya, Allah hanya Engkau yang pantas di sebut Maha Besar. Bukan sombongku yang membuat arsy marah hingga bergetar. Ampuni aku dan segala perilakuku.

                  لاَ إِلَهَ إِلاَّالله

Tiada Tuhan selainMu. Dalam hati aku berseru hanya Engkau Yang Maha Satu. Demi Allah, tidak ada selainMu. Maka lindungi hatiku dan diriku untuk selalu taat padaMu.

-Hana Larasati