Jumat, 04 Juli 2014

Berbaik Sangka



Pernahkah kita merencanakan sesuatu hal tetapi ternyata kita tidak bisa melakukannya? Sebut saja, ketika kita hendak pergi ke suatu tempat. Namun, kita tak bisa pergi ke tempat yang sudah kita rencanakan.

Bagaimanakah perasaan kita setelah mengalaminya? Apakah akan marah kepada diri sendiri ataukah kita tetap berbaik sangka pada kondisi yang telah menimpa diri.

Masih ingatkah dengan sebuah kisah seorang pemuda yang hendak pergi keluar kota? Pada saat itu dilaksanakan acara liburan bersama teman-teman kerjanya. Namun, karena suatu masalah dia tak mengikuti acara liburan itu. Padahal, sebelumnya dia sudah menanti-nanti masa rekreasi untuk melepaskan lelah akibat banyak pekerjaan yang telah dia selesaikan.

Pemuda tersebut sempat kecewa pada dirinya sebab tak bisa mengabulkan keinginan dia untuk bisa bersenang-senang bersama teman-teman sekerja. Hampr-hampir dia mencaci maki dirinya karena tak kuasa menghadapi masalah yang menimpa dirinya.

Keesokan harinya, salah satu stasiun televisi menanyangkan berita tentang tabrakan yang terjadi di perbatasan kota. Tabrakan yang mengakibatkan para penumpang bis dan mobil terluka parah yang dialami oleh teman-teman dia yang kemarin sore berangkat untuk berlibur.

Subhanallah itulah kuasa-Nya. Terlirihlah dia mengucapkan syukur atas kejadian yang tidak dia alami. Bagaimana jadinya jika kemarin dia juga ikut bersama-sama pergi. Mungkin, dia pun akan mengalami luka parah sama seperti halnya teman-temannya.

Begitulah cara Dia menunjukkan kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya atas berbagai hal yang ada di muka bumi ini. Manusia hanya bisa berencana tetapi Dialah Sang Penentu atas rencana-rencana yang telah dibuat makhluk-Nya.

Manusia berusaha membuat rencana-rencana yang indah untuk dilaluinya. Tapi, seindah-indahnya rencana yang dibuat oleh manusia. Ternyata, lebih indah lagi rencana yang telah ditentukan-Nya.

Pada sebuah hadits Qudsi, Rasulullah menjelaskan tentang prasangka manusia yang berbunyi,

“Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku”(HR.Turmudzi)

Apabila prasangka manusia kepada Sang Kholiq buruk, maka Sang Kholiq pun akan menurunkan keburukan kepada diri manusia tersebut. Sebaliknya, apabila manusia berprasangka baik kepada-Nya, maka kebaikan akan terlimpahkan kepada manusia yang berpikir positif tersebut.

Prasangka manusia itulah yang akan menjadi kenyataan. Maka dari itu, kita dianjurkan untuk selalu berprasangka baik terdapat setiap kejadian yang telah dialami. Yakinlah, setiap peristiwa yang terjadi mengandung hikmah yang kadang kala tak semua orang mampu menterjemahkannya.

Seburuk apapun kejadian yang menimpa diri manusia, pasti ada hikmah dan nilai-nilai kebaikan yang tersirat di dalamnya, lewat prasangka baik, kita berusaha memahami dan memikirkan sejenak mutiara-mutiara pesan nan indah yang tersirat pada setiap kejadian.

Manusia tak pernah lepas dari kejadian buruk ataupun baik. Kehidupan selalu berputar, kadang kala mengalami peristiwa baik, ada kalanya pula mendapati kejadian yang buruk. Tapi, manusia tetap diperintahkan untuk berbaik sangka kepada-Nya. Apapun kejadiannya, tetap berbaik sangka kepada-Nya.

Dengan berbaik sangka, hati manusia akan terasa tenang dan tentram melihat berbagai peristiwa yang menimpa dirinya. Sebaliknya, apabila berburuk sangka dengan sebuah peristiwa, hati manusia akan gelisah dan tidak terkontrol akibat masukan-masukan buruk yang berkeliaran di hati dan pikiran.

Kejadian buruk apabila dihadapi dengan prasangka buruk maka akan bertambah buruk pula hasil yang akan diperoleh. Bahkan, akan memperburuk keadaan ketika dihadapi dengan prasangka buruk.

Kejadian buruk apabila dihadapi dengan prasangka baik maka kejadian tersebut sedikit demi sedikit akan terselesaikan dan mereda dengan sendirinya yang akan membuat hati dan pikiran akan lebih tenang.

Kegelisahankah atau ketenangankah yang diharapkan? Jikalau, kegelisahan yang diharapkan maka hadapilah semua peristiwa yang buruk ketika menimpa diri ini dengan prasangka buruk. Tapi, jika sebaliknya, mengharapkan ketenangan maka hadapilah semua peristiwa buruk dengan prasangka baik yang akan berbuah ketenangan dan ketentraman hati bagi yang melaksanakannya.

Setiap orang memiliki takdir masing-masing yang tidak akan tertukar antara satu dengan yang lainnya. Takdir itulah yang harus dijalani oleh setiap insan untuk mengarungi kehidupan di dunia sebagai bekal menuju pengembaraan yang sejati di akhirat kelak.

Berkeluh kesah dan gelisah bukanlah salah satu cara untuk menyelesaikan dan menghadapi kejadian buruk yang meruntuhi diri ini. Setiap kejadian buruk yang terjadi bukan untuk diratapi dan ditangisi tapi untuk diambil pelajaran yang termuat di dalamnya, sebagai pelajaran hidup yang tak pernah ditemukan di sekolah atau kampus manapun.

Dengan berbaik sangka, semakin mendekatkan diri ini kepada-Nya yang akan berujung pada peningkatan taqwa demi mengharapkan keridhoan-Nya.

Manusia yang berburuk sangka, dia akan semakin jauh dengan-Nya, sehingga rahmat-Nya pun tak mau mengampiri. Wajarlah, jika rasa cemas, gelisah, kecewa dan berbagai rasa negatif lainnya berbondong-bondong menghampiri dirinya.

Mendekatkan dirikah atau menjauhkan dirikah yang ingin kita lakukan selama ini untuk menggapai surga-Nya?

Surga-Nya hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa yang selalu mendekatkan diri kepada Sang Pemiliki bumi, langit dan seisinya. Semoga dengan berbaik sangka menjadikan salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al-Ma’idah : 35)

www.fimadani.com

Ingatlah Kebaikanya



“Mata keridhaan, buta terhadap segala aib, tetapi mata kebencian, menampakkan segala keburukan” (Sa’id Hawwa, Al Mustakhlash fii Tazkiyatil Anfus)

Rasanya tak kan ada yang menyangkal bahwa persahabatan itu sangat indah. Betapa tidak, sungguh menyenangkan sekali mempunyai seseorang untuk melewatkan hari-hari, berbagi cerita, serta merasakan suka dan duka bersama-sama. Begitu hebatnya persahabatan ini, hingga seseorang bisa menganggap sahabatnya seperti saudara kandung sendiri, bahkan juga dapat melebihi. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa keindahan hidup ini belumlah lengkap tanpa kehadiran sahabat.

Tetapi kadangkala…

Persahabatan bisa saja tidak sesuai dengan apa yang diharapkan karena sang sahabat melakukan hal-hal yang tidak kita suka. Kadang kita merasa, sang soulmate mulai menjauh dan lebih memilih berteman akrab dengan orang lain entah karena alasan apa. Kecewa, marah, dan perasaan merasa diabaikan bercampur aduk menjadi satu. Pepatah “habis manis sepah dibuang” tiba-tiba saja dirasa sesuai dengan keadaan kita.

Kenangan lama tentang sang sahabat tak jarang datang kembali ke benak ini. Akan tetapi yang muncul hanyalah ingatan tentang sisi buruknya saja. Kebencian lalu menuntun kita untuk meneliti kekurangannya satu persatu. Kesalahannya di masa lampau mulai menari-nari di panggung pikiran. Berbagai prasangka yang tak beralasan pun perlahan-lahan menyeruak dan membelenggu akal sehat.

Begitulah. Sahabat yang pada awalnya kita sayangi berubah menjadi orang yang paling ingin kita hindari. Kita menjadi malas berbicara dengannya. Tak ada lagi keinginan untuk menelponnya barang beberapa menit saja. Kita pun tak berkehendak menyapanya lewat sms atau e-mail. Ya, dengan ungkapan lain, kita menjadi alergi dengan keberadaannya, dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.

Astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan biarkan kebencian kita bertahta, wahai kawan!

Memang, kita hanyalah manusia biasa. Adalah hal yang wajar jika kebencian terbit ketika kita mendapat perlakuan yang tidak sesuai kehendak hati. Tapi ingatlah, tak sedikitpun kita diperintahkan untuk memelihara kebencian. Tidak oleh Allah, tidak oleh para nabi dan rasul-Nya, tidak juga oleh para pecinta-Nya yang sejati. Tak ada satupun. Kebencian adalah bagian dari amarah. Dan bukankah Rasulullah telah berulangkali mewasiatkan supaya ummatnya tidak marah?

Berpikir jernihlah, wahai saudara!

Manusia diciptakan tak hanya dengan kelebihan, tapi juga kekurangan dan kelemahan. Sangatlah tidak mungkin kita menemukan orang yang segala perilakunya sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Maka janganlah membencinya apalagi memutuskan hubungan silaturahim dengannya.

Untuk mengusir rasa benci, mengapa kita tidak mengingat sisi yang baik saja darinya? Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang amanah. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu menepati janji. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dia yang selalu berkata jujur. Mungkin saja, di antara sahabat-sahabatmu yang lain, hanya dialah pendengar yang baik. Mungkin saja, dia mempunyai kebaikan yang tidak ditemukan pada sahabat kita yang lain… Sekarang, kita hanya perlu membimbing pikiran kita untuk mencari kebaikan-kebaikannya itu.

Masih ada noktah hitam yang menodai hati?

Janganlah biarkan pikiran buruk yang berkuasa. Ingat saja kenangan indah yang lain. Ketika kita merenda hari-hari bersamanya. Ketika kita melakukan banyak hal yang menggembirakan dengannya. Sungguh tiada guna mengingat kenangan yang kurang menyenangkan karena bisa saja timbul prasangka dan pikiran buruk terhadapnya. Dikarenakan itu, Rasulullah SAW bersabda,

“Hati-hatilah dengan prasangka karena prasangka adalah yang terburuk dari kabar palsu, jangan mencari-cari dan mematai-matai kesalahan orang lain, jangan saling mencemburui (iri) satu sama lain, dan jangan memutuskan hubungan satu sama lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara” (HR Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah)
Masih ada berkas-berkas kebencian yang menyusup di relung hati?

Ayolah, coba ingat yang baik-baik dari dirinya. Tentu ada! Jikalau dia memang bersalah, serahkan saja pada yang Maha Adil. Apa keuntungan yang kita peroleh dengan membencinya? Bukankah kebencian hanya akan menyuburkan amarah dan perlahan-lahan akan mengotori jiwa? Maka dengarkanlah firman Allah,

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams [91] : 9 – 10)
Dan mengapa kita mesti terpaku dengan “karena nilai setitik, rusaklah susu sebelanga”? Bukankah kita bisa memindahkannya ke belanga yang lebih besar lalu menambahkan lebih banyak susu untuk memperkecil kadar nila dalam campuran itu?

Kemudian, tak ada ruginya untuk menengok sejenak apa yang ada dalam hati kita sekarang. Apa yang menjadi pendorong sewaktu kita menjalin persahabatan dengan orang lain? Adakah kita yakin bahwa kita mengharapkan pujian, penghormatan, ataupun semacam bentuk balasan dari sahabat itu? Sekali lagi, astaghfirullahal ‘azhim…

Jangan. Buanglah jauh-jauh niat-niat seperti itu. Percayalah, kekecewaan itu muncul karena kita menghadirkan tujuan-tujuan selain-Nya. Sejatinya, tidak ada balasan yang lebih baik selain yang diberikan-Nya. Dan betapa rendahnya kita jika mengharap balasan selain dari-Nya. Maka bersahabatlah karena Allah. Jalinlah hubungan persahabatan jika itu membuat kita makin dekat dengan-Nya. Seandainya kelakuan sang sahabat tidak sesuai dengan harapan, kita akan bisa mengerti bahwa dia hanya seorang ciptaan Allah yang pasti jauh dari kesempurnaan.

Teman, masih ada kebencian yang seadang bersemai?

Tidak usah merusak kebahagiaan kita dengan hal-hal yang buruk. Pikirkan saja sesuatu yang membuat iman kita tidak luntur dan suasana hati menjadi lebih tenang. Dengan begitu, insyaAllah kita akan tetap berada dalam kondisi emosi yang stabil. Maka Alfred Adler, seorang psikiater pun berkata, “Di antara keistimewaan yang paling indah pada manusia adalah kemampuannya mengubah negatif menjadi positif.”

Lalu, mengapa kita tidak mencoba?

Allahu a’lam bish-showab,

http://www.fimadani.com/ingatlah-kebaikannya/

Ketika Umar bin Khattab Dimarahi Istrinya



Ada  seseorang bermaksud menghadap Umar bin khattab hendak mengadukan perihal perangai buruk istrinya. Sampai ke rumah yang dituju, orang itu menanti Umar ra di depan pintu. Saat itu ia mendengar istri umar mengomeli diri Umar, sementara Umar sendiri hanya berdiam diri saja tanpa bereaksi.

Orang itu bermaksud balik kembali sambil melangkahkan kaki seraya bergumam, “Kalau keadaan Amirul Mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku.”

Bersamaan itu Umar keluar, ketika melihat orang itu hendak kembali, Umar memanggilnya. Umar bertanya, “Ada keperluan penting?”

Lelaki itu menjawab, “Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak mengadukan perihal istriku lantaran suka memarahiku.

“Tetapi begitu aku mendengar istrimu sendiri berbuat serupa, maka aku bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata, ‘Kalau keadaan Amirul Mukminin saja diperlakukan istrinya seperti itu, bagaimana halnya dengan diriku?’”

Umar berkata kepada lelaki itu, “Saudara, sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari istriku karena adanya beberapa hak yang ada padanya. Istriku bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencucikan pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku, padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tentram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu aku menerimanya sekalipun dimarahi.”

Sukses Menghadapi Ujian Hidup



Allah Mahabaik. Semua yang diciptakan-Nya, selalu diberikan pasangan. Jika ujian adalah salah satu makhluk-Nya, maka sudah barang tentu bahwa Dia telah menyertakan solusinya. Sebagaimana sebuah penyakit, pasti sudah disertakan obatnya oleh Sang Pencipta penyakit. Sehingga, sebagai manusia, kita hanya perlu belajar dan menemukan formula yang tepat untuk semua jenis ujian yang sudah pasti akan ditimpakan kepada kita, hingga ajal menjemput diri.

Pertama, sadari bahwa ujian adalah keniscayaan.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar .” (al-Baqarah [2]: 155)

Dengan adanya pemahaman yang baik tentang keniscayaan ujian ini, maka kita bisa bersikap bijak jika suatu ketika ujian itu benar-benar datang menghampiri kehidupan kita yang sedianya damai dan menentramkan.

Kesadaran ini juga akan membuat diri lebih waspada. Semakin sadar untuk mempersiapkan solusi. Juga, rajin menuntut ilmu untuk menyikapi segala kemungkinan ujian yang akan Allah berikan.

Dua, gunakan keimanan sebagai solusi sejati. Rasul pernah berkata :

“Sungguh ajaib keberadaan orang beriman. Jika diberi nikmat, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika diberi ujian, dia bersabar, dan itu baik pula baginya.”

Jika perkataan seorang Presiden saja –misalnya- sangat kita hormati dan dipegang teguh sebagai rujukan, maka perkataan seorang nabi jauh lebih layak untuk dirujuk, diingat-ingat dan dijadikan sebagai pedoman hidup. Apalagi, Rasulullah tak pernah sekalipun berbohong. Bahkan, setelah ilmu sedemikian maju, semua perkataan beliau bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah kebenarannya. Jika kita bersabar terhadap ujian yang diberikan, maka janji Allah sudah sangat pasti kejelasannya,

“Mereka (orang-orang sabar) itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah [2]: 157)
Tiga, minta tolong kepada Allah. Ujian yang diberikan, sejatinya adalah sebuah sarana agar kita semakin mendekat pada-Nya. Karena memang, Dialah zat Yang seharusnya kita dekati di sepanjang usia kehidupan kita. Allah yang memberikan ujian, sudah melengkapinya dengan banyak tools pertolongan yang bisa kita gunakan setiap saat, sesering mungkin.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (al-Baqarah [2]: 153)

           Sungguh, tidak ada yang lebih baik dari meminta tolong kepada Allah, dan menjadikan sabar dan shalat sebagai tools agar kita mendapat pertolongan dari-Nya. Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong.

           Empat, Allah bersama anda. Sabar ketika mendapati ujian bukan bermakna pasif. Tapi aktif mencari solusi dengan berbekal ilmu yang tepat. Sering bertanya kepad ahlinya, membuka semua peluang solusi yang mungkin dan juga menyiapkan opsi-opsi lain jika langkah pertama gagal.

        Jika kita berhasil mengeja sabar, maka itulah jalan terbaik yang memang harus kita lalui. Selain itu, sabar membuat pelakunya menjadi salah satu hamba kesayangan Allah. Apakah ada yang lebih baik bagi seorang hamba selain disayangi Sang Pencipta?

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah [2]: 153)

Allah mencintai siapa saja yang sabar. Sehingga, Dia menyertai golongan-golongan itu.

         Lima, ilmui setiap laku. Langkah teknis tak boleh ditinggalkan. Karena durian runtuh, sangat jarang adanya. Hujan duit juga menjadi sesuatu yang mustahil jika diri hanya berongkang-kaki di dalam rumah, tanpa melakukan upaya apapun. Sesering mungkin mendekatkan diri kepada Allah itu sangat baik, tapi akan jauh lebih baik jika disertai dengan upaya keras untuk menjemput turunnya pertolongan Allah.

         Mengilmui adalah upaya agar ujian menjadi tantangan. Agar prahara menjadi anugrah. Agar kita tak salah langkah. Karena kebodohan adalah pangkal keterjerumusan.

          Rajin-rajinlah membaca buku, berdiskusi dengan pakar, sering mengunjungi orang shaleh, jangan malu bertanya, dekati mereka yang sudah lebih berpengalaman dalam hidupnya. Banyak berdiskusi dengan orang yang tepat adalah hal-hal yang bisa membuat diri tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

          Kenali diri dengan baik. Fahami kelebihan dan kekurangannya. Karena biasanya, ujian diberikan bersesuaian dengan letak kekurangan seseorang. Dengan mengetahui kekurangan diri, seseorang bisa melakukan tindakan-tindakan antisipatif. Ini juga bisa membuat seseorang menghindari dan menjauhkan segala sebab yang mungkin mengantarkannya pada kesalahan dalam menyikapi ujian yang diberikan.

          Misalnya seseorang yang lemah dalam pengelolaan uang. Maka, sebisa mungkin, untuk tidak menerima amanah dari keluarga, organisasi, atau instansi tempat bekerja yang terkait dengan pengelolaan dan pengaturan uang.

          Atau, misalnya seorang pemuda yang labil dalam masalah syahwat. Maka, seiring diri menyiapkan untuk mampu menikah, minimalisir setiap penyebab yang mungkin menggoda. Mulai dari menahan pandangan, bergaul dengan orang shaleh, mencari lingkungan yang baik, sibukkan dengan amal shaleh dan hindari ketersendirian. Karena, ketika sendiri, setan akan lebih mudah menggoda.

            Enam, anda tidak sendiri. Seringkali, ujian berat terasa begitu menyesakkan. Dalam tahap ini, ketika salah menyikapi, mungkin saja seseorang akan menyalahkan Allah. Bahwa Dia tidak adil, dholim dan sejenisnya. Padahal Allah sangat tidak mungkin memiliki sifat itu semua.

           Hal ini pula yang pernah terjadi di zaman Rasulullah. Ketika banyak orang beriman Makkah yang disiksa oleh kafir quraisy. Para sahabat datang kepada Rasul dan berkata, “Dimanakah pertolongan Allah?” Lalu dengan air muka sumringah yang meneduhkan, manusia mulia itu berkata, penuh makna, “Apa yang kita alami tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan umat terdahulu. Ada diantara mereka yang dikubur hidup-hidup, disiksa dengan ditusuk dari duburnya, disisir menggunakan besi dan dikuliti layaknya hewan sembelihan.”

            Menyeksami riwayat ini, pantaskan kita mengatakan, “Alllah dimana?” Padahal kita hanya diuji dengan urusan dunia yang tak seberapa jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (al-Baqarah [2]: 250)

http://www.bersamadakwah.com/2014/04/sukses-menghadapi-ujian-hidup.html


Top of Form