Minggu, 26 Oktober 2014

Sahabat jadi Cinta.

Ada perasaan takut untuk ditinggal ketika perasaan nyaman mulai bersemayam. Jadi merasa memiliki, padahal sadar bahwa semua adalah titipan.

Aku bagai embun yang bermimpi menjadi samudra. Bagai debu yang bermimpi menjadi sahara. Bagai rumput yang bermimpi menjadi hutan.

Kamu terlalu jauh untuk ku gapai. Tidak pantas rasanya walau hanya sekedar berhayal untuk bersamamu. Kamu terlalu indah, terlalu baik, aku terlalu takut akan melukaimu.

Kita sangat dekat. Kita sangat akrab. Tapi kenapa dalam hati, aku merasa jarak kita seperti satu juta tahun cahaya.

Bagai punguk yang merindukan bulan. Bagai matahari yang menuntut kebersamaan bersama bintang. Itulah aku.

Aku telah menyimpan semuanya begitu lama. Sengaja. Karena aku takut akan kehilanganmu dan persahabatan kita.

Andai saja orang itu bukan kamu, suatu saat nanti aku pasti akan mengatakannya. Tapi, itu kamu yang ku angap sahabat. Kurang berhak perasaan ini ada.

Biarlah dia hilang bersama waktu. Biarlah ku kubur semuanya bersama masa lalu. Aku akan selalu disini, menjadi sahabat terbaikmu. Aku memang menyanyangi mu tapi aku lebih sayang persahabatan kita.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Kekasih Halalmu

Jangan coba coba sentuh hatiku kalau kau tak niat serius. Bila ku benar-benar jatuh cinta, apa kau mau tanggung jawab? Bukan berarti ku tak suka kau dekati aku,tapi aku takut kau hanya memberiku harapan palsu.

Apakah kau menaruh hati pada ku? Dan berniat untuk menjadikan aku kekasih halalmu? Only one for you?

Jangan coba-coba dekati aku.Hanya karena kau ingin tahu. Bila ku benar-benar jatuh cinta, aku pasti akan selalu setia. Bukan berarti kau tak boleh mendekati aku, tapi aku takut kau hanya memberiku harapan palsu.

Apakah kau menaruh hati pada ku? Dan berniat untuk menjadikan aku kekasih halalmu? Only one for you.

Kalau kau benar sayang, jangan pernah kecewakan diri ku. Promise me you’ll marry me and I will be the best for you.

Little sister.

Gadis kecil bertubuh gemuk itu berlari-lari kecil ke kamar ku. Dengan rambut ikal sepundak yang basah sehabis keramas membuatnya tampak lucu.

Setiap sabtu dan minggu memang dia rutin ke rumah ku. Gadis kecil bermata sipit dan berkulit putih mirip cina. Gadis kecil yang selalu membawa aura ceria setiap masuk ke dalam kamarku.

Tak kulihat beban di ke dua bola matanya. Tak ku lihat senyum yang tertekan di bibir kecilnya. Sepertinya dia tidak pernah mengenal masalah dalam hidupnya. Hanya ke cerian dan gelak tawa yang selalu aku lihat darinya.

Gadis kecil angota pramuka yang semangat dan pantang menyerah. Aku selalu iri jika melihatnya. Ingin rasanya aku kembali ke masa dimana yang aku tau hanya bermain dan tertawa. Tidak mengenal cinta, duka, dan luka. Tidak menjadi dewasa. Stay young. Tidak ada senyum yang tersekat. Tidak ada tertawa yang tertekan. Jadi apa yang aku mau.

Tapi ini hidup. Tidak semua yang aku suka baik untuk ku dan tidak semua yang aku benci tidak baik untuk ku. Tuhan sudah merencanakan sedimikian rupa. Menyelipkan pelajaran-pelajaran berharga dalam setiap kejadian.

Cicak di dinding.

Ada seorang teman yang diam-diam mencintaimu. Dia telah menyimpan perasaannya dalam-dalam. Dia tidak pernah mengungkapkanya pada siapa pun, karena dia takut hatinya akan terlukan dan kehilanganmu.

Aku menyembunyikan perasaan ini begitu lama. Hal itu membuatku frustasi. Semakin dekat kita semakin membuat jantungku berdebar. Ketika kau melihatku sedang memandangmu, saat itu selalu ku alihkan pandanganku kepadamu.

Kau hanya berada sejengkal tetapi aku merasa jau sekali. Kau adalah teman baik ku kurang berhak aku memberi tahumu tentang semua ini.

Aku bagaikan cicak di dinding yang selalu bersembunyi dan mengendap-ngendap padahal sang nyamuk tepat di depannya. Tidak berani maju apa lagi menangkap. Hanya berdiam dan bersembunyi.

Jikalau orang itu bukan kamu suatu hari nanti aku pasti akan mengatakannya dan biarkan kamu tau. Tapi itu kamu, yang ku angap sahabat. Jadi ku putuskan untuk menahan diri.

Ini aneh, kau hanya berada sejengkal dari ku tapi aku tetap merasa jauh sekali. Kau adalah teman baik ku, kurang berhak aku memberitahumu bahwa aku mencintaimu.

Kamis.

Siang ini begitu terik. Matahari serasa sejengkal dari atas kepala, tapi entah kenapa perasaan ku begitu gembira. Kamis, seakan menjadi hari favoritku sekarang.

Dengan dres levis warna biru dan kerudung merah aku berjalan di tengah panasnya siang. Dengan segelas jus alpukat ditangan aku melengang santai ke depan perpustakaan.

Entah kenapa aku begitu menantikannya. Orang yang semester lalu sangat aku benci. Yang bahkan untuk mengetahui namanya pun aku engan. Orang yang jangankan aku lihat wajahnya, untuk sekedar melirik pun rasanya sangat berat.

Tapi kini justru ia yang paling aku nanti. Setiap Kamis aku diam-diam mencuri pandang padanya. Tema pakaiannya hari ini adalah kemeja coklat kotak-kotak panjang dan celana levis.

Aku tidak tau kenapa bisa begini. Si sipit dengan nada ketus saat bicara yang dulu sangat aku benci kini menjadi sangat aku nanti. Aku geli jika mengingat ini.

Agota mapala dan asisten dosen itu sukses menarik perhatianku kini. Orang yang dulu setiap bicara selalu aku abaikan kini menjadi seseorang yang mungkin sangat aku nantikan.

Simpati ini muncul ketika ia mengatakan apa yang selama ini aku pikirkan. Mungkin cara bicaranya agak merendahkan, tapi jika dipikir dan di lihat dari sudut pandang lain dia ada benarnya. Intinya "Gak semua yang bagus itu bagus, semua itu tergantung bagaimana mengelolanya."

Kini aku hanya bisa diam-diam mentap wajahnya dari kejauhan. Perasaan kagum akan aku simpan. Entah berapa lama.

Rabu, 22 Oktober 2014

Sepatu vans.

Bukan soal rupa hati ini tertarik, bukan soal harta hati ini terusik, tapi soal kepribadian dan kearifan sifat yang membuat hati ini tak henti-hentinya mengagumi sosok itu.

Kulit coklat khas jawa dengan tutur kata yang lembut mampu meluluhkan hati ini. Jujur aku akui dia memang tidak tampan. Tapi bukankah, tolak ukur seseorang untuk mencintai tidak hanya sekedar rupa? Jika semua hal melulu tentang rupa, bagaimana caramu mencintai Tuhan yang kau pun belum tau bagaimana rupanya?

Aku mencintai sifatnya, aku mencintai kepribadianya, aku mencintai prinsipnya, aku mencintai keimanannya. Dia adalah calon imam impianku. Sederhana dalam berperilaku dan bertutur kata.

Laki-laki kurus dan jangkung itu telah menarik perhatianku kini. Mata coklat kehitam-hitaman miliknya, yang ramah sangup membuat rindu siapa pun yang pernah menatapnya. Hidung yang mancung dan senyuman yang lebar ah.....sudahlah aku pun bingung untuk mendreskripsikannya lagi.

Pengalaman yang sangat mengesankan ketika aku melihatnya berbelanja. Ketika dia masuk di sebuah tempat yang aku kaget sekali. Pasar tradisional, ya dia berbelanja di tempat itu. Aneh rasanya, melihat seorang dia masuk ke dalam pasar tradisional dan memilih barang barang kualitas biasa padahal uangnya mungkin sangup membeli sepatu bermerk keluaran luar negri. Tapi ini beda, ini yang membuatku tertarik. Dia memilih sepatu vans kw yang di jual di pelataran pasar tradisional. Harganya pun sangat murah.

Mulai dari situ kecintaanku padanya pun bertambah. Kesederhanaannya mampu meluluhkan hati ku yang berkarat selama ini. Lewat sosoknya timbulah kepercayaan ku yang selama ini hilang, yaitu masih ada populasi laki-laki baik di muka bumi ini.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Let it go

Bintang berkilau di langit malam ini. Sekolah yang di asingkan, seperti akulah muridnya. Angin berhembus seperti badai, berputar-putar di dalam diri. Tidak bisa di biarkan, penduduk langit pun tau aku selalu berusaha. "Jangan biarkan mereka tau, jangan biarkan mereka lihat. Jadilah kau gadis yang sesungguhnya. Sembunyikan, jangan rasakan, jangan biarkan" Kata-kata itu selalu membuatku tertekan. Tapi sekarang akan ku biarkan mereka tau!

Relakan...
Biarkan...
Perasaan ini tidak bisa lagi di tahan. Ku tak peduli dengan apa yang mereka katakan. Sekarang akan ku persilahkan badai berkecamuk, dinginnya tidak akan mengganguku lagi. Akan ku hadapi mereka semua satu persatu. Akan ku perlihatkan kepada mereka siapa diriku sesungguhnya.

Kau tak tau betapa lucunya jarak membuat segalanya terlihat aneh. Dan rasa takut yang selama ini mengatur ku, ku pastikan tidak akan pernah bisa kembali. Sekarang waktunya melihat apa yang bisa aku lakukan, untuk menguji ruang dan waktu. Tidak ada kata benar, tidak ada kata salah, tidak ada aturan bagiku. Aku bebas!

Relakan...
Biarkan aku menyatu dengan angin dan awan. Lepaskan... kau tak akan pernah melihatku menangis lagi. Di sini aku berdiri, di sini aku berada. Biarkan ku hadapi sendiri badai yang berkecamuk itu.

Kini seakan kekuatan ku membanjiri seluruh permukaan bumi, dari udara hingga tanah. Jiwa ku berputar dalam pecahan yang membeku dan pikiranku pun ikut membeku seperti ledakan es. Aku tidak akan pernah kembali, sekali pun kau tertunduk memohon. Untuk pertama kalinya bagijau masa lalu biarlah masa lalu.