Rabu, 23 September 2015

Jika rasa sakit ku ada hadiahnya, aku ingin Engkau melembutkan hatiku, menajamkan pikiranku, dan mengokohkah imanku.

Jika sabarku ada hadiahnya, aku ingin Engkau melimpahkan kesabaran yang lebih lagi kepadaku, menguatkan hatiku, menjaga dan melindungiku dari hal buruk yang akan menimpaku.

Jika ikhlasku ada hadiahnya, aku ingin melakukan semuanya tanpa berpikir meminta hadiah dariMu. Mempercayakan apa yang terjadi kepada Mu. Menerima baik buruk dan segala sesuatu yang terjadi di hidupku karena Engkau tau yang terbaik untukku. Seperti yang dilakukan Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Ali, dan sederet sahabat Rasulullah yang lain.

Sabtu, 19 September 2015

Surga yang kurindukan.

Segenap rasaku, jiwaku, kupercayakan pada engkau. Kita pun berjanji, mengurai ikrar saling setia. Dan kini ada dia, mungkin Tuhan sedang menguji aku. Namun bagaimana, bila ikhlas tak hadir si hatiku?

Pertama denganmu, ku yakin engkau akan setia. Ku tak meminta cinta berlebih, hanya ingin kasih sayang. Namun mengapa dia kau undang ke istana kita? Perih hati ini pudar harap bahagia bersamamu.

Merelakan cinta untuk dibagi tak semua hati siap berbagi mungkin bisa saja hanya bilang Tuhan yang mau.

Akulah sayapmu yang kau butuhkan untuk nanti terbang ke surga dia namun bukan ini surga yang kurindukan.

Semoga kau berubah menjadi yang aku kenal dulu. Dan aku akan setia mejadi sayap yang nantinya akan membawa mu ke surga Nya. Dan biarkan aku tetap mendapatkan surga yang ku rindukan.

Kamis, 17 September 2015

Bahagia

Hari ini saya mendapatkan satu pelajaran lagi. Bahwa ternyata membahagiakan seseorang itu bisa membuat kita bahagia juga.

Keceriaan dari wajah mereka, kepolosan dan senda gurau anak-anak. Ketika saya mencoba membahagiakan mereka saya juga ikut bahagia.

Setiap tawa yang terlontar dari bibir munggil mereka kebahagian saya terlahir.

Ya Allah jangan cabut nikmat ini, jadikan aku orang yang bermanfaat, orang yang berilmu, orang yang bisa membahagiakan orang lain. Ya Allah lapangkanlah dadaku, kuatkanlah imanku, sayangilah aku seperti Engkau menyayangi hamba hambamu yang mukmin. Aamiin.

Kamis, 03 September 2015

Setiap kamu punya satu alasan untuk bersedih cari alasan lain untuk bangkit alasan apa pun itu. Sesederhana mungkin. Yang penting kamu punya alasan kenapa kamu untuk bangkit.

Sesakit apa pun itu. Cari terus alasan kenapa kamu harus bangkit dan terus berjuang. Mungkin hati mu rusak tapi jangan biarkan dia terus terusan rusak. Cari alasan sesederhana mungkin kenapa kamu harus memperbaikinya.

Rabu, 02 September 2015

Nobita dan doraemon

Hidup ini kadang lucu. Orang yang selama ini aku suka, aku bela, aku sayangi tidak pernah peduli sedikit pun. Tapi orang yang bukan siapa-siapa yang hanya sahabat dekatku, selalu ada di keadaan apa pun.

Dia salah satu alasan aku bisa bertahan. Dia yang tidak pernah jenuh walau hanya aku datangi ketika aku bosan. Tangisku, kesedihanku dia tukar dengan canda dan tawa.

Ini mungkin tulisan yang kesekian kalinya aku menulis tentang dia di blogku. Banyak hal yang aku kagumi dari dia. Dia baik, pekerja keras, penuh semangat, humoris, dan selalu optimis.

Sayang? Pastilah. Dia salah satu sahabat terbaik saya. Yang selalu ada di keadaan apa pun. Ketika aku tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi negri dan sangat drop, dia yang menyemangati aku. Ketika semua orabg berpaling dia yang tetap setia berada di sampingku.

Tapi kini aku mulai berpikir. Tidak selamanya kita bisa terus bersama. Ada masanya kita harus berpisah. Ketika dia harus pergi mengurusi dunianya. Aku yang selama ini bergantung padanya harus bersiap hidup tanpanya. Harus bersiap bahwa tidak ada dia yang membuat ku tertawa. Tidak ada dia yang selalu menghiburku. Aku harus bersiap. Sedih bila memikirkan tentang itu. Apa aku bisa?

Kita ibarat nobita dan doraemon. Aku sebagai nobita yang cengeng, pesimis, mudah drop, lemah. Dan dia ibarat doraemon yang punya banyak cara untuk membuatku tersenyum. Aku harap kita bisa terus bersama seperti doraemon dan nobita.

Hijrah

Malam ini mungkin menjadi awal hijrah saya. Perkataan sahabat saya malam ini mampu membuat saya terenyak.

"Kita gak boleh menargetkan seseorang untuk masa depan, karena itu menjadi penutup untuk orang yang lebih baik yang datangnya belakangan."

Ya benar apa yang dikatakan olehnya. Dan saya pun berpikir Gimana bisa kita menargetkan sesuatu padahal kita sendiri gak punya hak untuk menargetkan hal tersebut.

Manusia hanya di izinkan membuat rencana, masalah hasil akhir biar Tuhan yang mengurus semuannya.

Hati ini mungkin masih tertaut pada sosok itu. Tidak munafik, dia cinta pertamaku. Tapi jika aku mencintai Allah aku wajib taat pada-Nya. 

My best class

Mungkin kita bukan yang paling pintar, mungkin kita bukan yang paling kuat, mungkin sekolah kita juga bukan yang populer seperti sekolah kalian.

Tapi kita yang paling gigih usahanya. Yang pantang menyerah. Sekarang saya sadar, benar apa yang dikatakan ibu "Hidup gak cuma butuh pinter."

Kecewa itu pasti, ketika saya terasing di sekolah ini. Sekolah yang dimana semua orang merendahkan dan memandang sebelah mata.

Tapi lama kelamaan rasa kecewa itu terganti dengan rasa bangga. Bangga bisa menemukan sahabat, bangga bisa belajar tentang pelajaran hidup, bangga bisa mengenal mereka.

Saya selalu percaya kata-kata dari ibu saya "sekolah itu cuma bangunan, pintar itu gimana kamunya. Bukan dimana kamu sekolah tapi gimana cara kamu sekolah."

Untuk sahabat saya terima kasih sudah menemani dan mengajarkan banyak hal. Sekarang waktunya kita sama-sama mengejar mimpi.