Kamis, 03 Desember 2015

Rasa Takut

Aku akan membaca tulisanmu yang setiap hari berganti sambil mendoakanmu dari jauh, selama aku tidak bisa melakukan apapun saat ini. Sekalipun kesempatan itu ada, aku merasa tidak semua kesempatan mesti diambil.

Aku masih menatap layar handphone sambil mendoakanmu dari jauh. Sekalipun tangan dan kaki ini begitu ingin bergerak menolongmu ketika kamu bersedih. Tapi apa yang bisa aku lakukan. Memelukmu? Tidak mungkin laki-laki itu masih punya agama Han.

Aku masih memperhatikan mu lewat kata-kata yang tetulis di media sosialmu sambil mendoakanmu dari jauh. Aku hanya memastikanmu baik-baik saja, setidaknya aku tau apakah kau sedang bersedih atau bahagia hari ini. Sebab aku tidak bisa berada di dekatmu saat ini. Tuhan tidak menyukainnya. Bahkan ketika aku bersembunyi-sembunyi seperti ini pun aku masih merasa takut bahwa Dia cemburu karena aku menduakan-Nya.

Lalu aku bersimpuh, menanyakan pada diri sendiri mengapa aku takut untuk melangkah lebih jauh. Aku terlalu takut pada kenyataan bahwa aku memang penakut. Aku ingin bertanya pada Tuhan mengapa aku begitu takut. Apakah Tuhan cemburu karena aku lebih mencintai makhlukNya dari pada diri sendiri?

-Hujan Matahari

Karena Apa?

Kira-kira apa yang membuatmu jatuh cinta? Aku penasaran ingin tau. Aku ini tidak baik, menurutku.

Aku kurus kata orang-orang. Kusam. Tidak lebih menarik dari orang di luar sana. Aku tidak suka memakai pakaian terkini. Aku, ya seperti ini. Aku berantakan. Kira-kira apa yang membuatmu cinta?

Aku tidak suka membaca buku seperti kamu. Apa lagi tentang cinta walaupun tulisanku kebanyakan soal cinta tapi aku tidak suka.

Aku juga jarang melakukan perjalanan menyeramkan. Bagiku naik gunung itu menyeramkan. Asal kamu tau, meski aku ingin sekali tau bagaimana rasanya. Kira-kira apa yang membuatmu cinta?

Almamater sekolahku pun tidak sepopuler kamu. Almamaterku hanyalah butiran debu. Tidak di kenal nasional apa lagi internasional. Orang lokal pun bertanya itu apa dan dimana? Aku sudah biasa mendapat pertanyaan itu. Kira-kira apa yang membuatmu cinta?

Agamaku pun belum begitu baik. Aku tidak sebaik dirimu dalam hal ini. Tidak serutin kamu membaca kitab suci. Tidak sepandai kamu menjaga pergaulan. Aku masih bersalaman dengan lawan jenis. Sementara kamu, begitu santun menjaga diri. Kira-kira apa yang membuatmu cinta?

Aku tidak lemah lembut. Kata kataku keras dan tegas. Aku termasuk galak. Aku tidak tau, kira-kira apa yang membuatmu cinta?
Aku tidak suka kopi. Tentu tidak bisa menemanimu minum kopi seperti keseharianmu. Lebih dari itu, aku mungkin tidak bisa menemanimu minum kopi kesukaanmu sambil membaca buku. Ah aneh, kira-kira apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?

Rabu, 02 Desember 2015

Jarak Samudra

Jarak yang harus kamu ambil denganku adalah serupa bentang samudra. Harus jauh membentang. Tidak perlu tanggung tanggung: dekat tidak-jaih juga tidak. Jauh sekalian.

Aku hanya ingin melihat kesungguhanmu. Karena jarak yang jauh dan rintangan yang besar akan membuat padam nyali orang yang tidak berani.

Aku membuat mundur orang yang tak cukup ilmu. Membuat takut orang yang tak cukup percaya kepada Tuhan.

Jarak yang harus aku ambil terhadapmu aku pilih sejauh mungkin. Biarkan aku menjadi tujuanmu. Agar kamu memaksimalkan usahamu untuk mencapainya.

-Hujan Matahari

Keterjagaan.

Aku masih menyimpan tanganku untuk menggegammu, tangan laki-laki peryama kali.

Aku masih menyimpan hatiku untuk mencintaimu, hati laki-laki pertama kali.

Aku masih menyimpan bahuku untuk tempatmu bersandar, untuk laki-laki pertama kali.

Aku masih menjaga tubuhku untuk memelukmu, memeluk laki-laki pertama kali.

Aku masih menjaga bibirku untuk menciummu, mencium laki-laki peryama kali.

Kau tau menjaga itu susah? Keterjagaan itu penting. Menjadikanmu sebagai yang pertama kali adalah hadiah untuk pertemuan hidup kita nanti.

Semuannya akan ku berikan pertama kali. Tidak ada yang bekas, semua masih baru. Keterjagaan yang sulit aku lakukan seorang diri. Kau pasti setuju perempuan harus menjaga dirinya bukan?

-Hujan Matahari

Kamis, 26 November 2015

Isi Hati

Syukurlah manusia tidak di bekali kemampuan membaca isi hati. Karena jika seseorang di bekali kemampuan membaca isi hati aku mungkin harus berepot-repot menghindarimu untuk bisa menyembunyikan isi hatiku. Dan aku benci hal itu.

Aku tidak suka orang-orang yang berkata ingin bisa tau isi hati orang lain. Itu bisa merusak semua rencanaku.

Aku bisa berbicara nyaman denganmu karena aku pandai menyembunyikan isi hati. Kadang aku bungkus luka dalam tawa, kadang sebaliknya.

Aku tidak perlu khawatir kamu menghindariku jika kamu tau isi hatiku. Aku bisa bertegur sapa, bebas bercerita seolah tidak terjadi apa-apa walaupun tidak demikian di dalam hati.

Aku bersyukur atas semua itu. Syukurlah isi hati manusia masih rahasia. Seandainya tidak ada lagi rahasia di bumi ini, tidak akan ada lagi cerita bagaimana rasanya rindu yang tidak tersampaikan. Bagaimana rasanya menunggu. Bagaimana rasanya memendam. Bagaimana rasanya mendoakan diam-diam. Bagaimana rasanya berpapasan. Bagaimana rasanya bertemu.

Syukurlah Tuhan masih merahasiakan isi hati seseorang daro orang lain. Jika tidak mungkin tidak akan ada cerita seromantis Ali dan Fatimah, Muhammad dan Khadijah, lalu. Aku dan kamu.

-Hujan Matahari

Selasa, 24 November 2015

Apa kamu tau persamaan mu dengan hujan? Yak kalian sama-sama menyejukan. 😊

Senin, 23 November 2015

Nyanyian Teman

Sekarang sudah pukul 22:00. "Udah kalau ngantuk tidur aja." Itu katamu dalam ketikan singkat di chat. "Iya." Balasku yang sepertinya lebih singkat.

Tapi aku masih mau menunggu. Walau mata berat untuk tetap terjaga, walau badan lelah di hajar tugas. Aku masih mau menunggu.

"Gitarnya di pakai teman buat belajar, gak enak minjemnya." Begitu katamu. "Oh yaudah gapapa."

Entah sejak kapan suaramu menjadi candu. Malam ini aku hanya ingin mendengar lantunan syair indah dari mulutmu. Bukan tanpa alasan. Nyanyian mu ternyata mampu mengembalikan semangatku.

Sebuah nyanyian yang mungkin untuk sebagian orang biasa saja. Dari lirik atau nadanya. Tapi bukanya setiap orang punya seleranya masing-masing?

Semua nyanyianmu aku simpan rapih dalam memori handphoneku. Jika aku merasa sendiri, ku putar berulang-ulang lagu yang berisi suara mu.

Dalam bis, di rumah, di kampus selalu ku dengar lantunan indah suaramu. Tak sedikit yang bertanya aku sedang mendengarkan apa? Dan aku selalu bosan menjawab "Nyanyian temanku." Kau tau apa yang membuatku bosan. Aku bosan menjadi temanmu.

Hana Larasati.