Rabu, 24 Februari 2016

Lima Pembunuh Motivasi

Selamat siang, pasti diantara kita pernah drop semangatnya. Entah faktor dari luar atau dari diri sendiri yang membuat semangat patah. Kali ini yuk kita kenali lima hal yang bisa membunuh semangat dan motivasi :

1. Mudah puas

Menginginkan hidup yang "lebih baik" adalah suatu permulaan yang baik, tetapi jika hanya berakhir di situ-situ saja, maka motivasi tidaklah dibutuhkan. Kita harus mempunyai hasil yang jelas yang ingin dicapai, supaya terus bergerak maju. Buat target yang sangat spesifik dan jelas yang "hidup" dalam pikiran kita, sebuah tujuan atau mimpi yang dapat kita lihat, sentuh, dan rasakan. Ingatlah, bahwa pencapaian kita hari ini harus membawa kota selanjutnya kepada pencapaian selanjutnya. Masih ingatkan kata-kata Rasulullah, orang yang lebih baik hari ini dati hari kemarin maka ia beruntung. Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia rugi, dan orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia bangkai.

2. Mudah kompromi

Bergerak dari tempat kiat berada menuju ke tempat yang kita inginkan membutuhkan keberanian dalam menghadapi perubahan, risiko, dan rasa tidak nyaman. Ketika hal-hal demikian muncul, kebanyakan orang akan mulai membuat alasan-alasan untuk menghindari tantangan-tantangan yang mungkin timbul. Ketika alasan untuk mundur masuk dalam kepala kita, motivasi untuk tetap bergerak maju akan hilang. Untuk menghindari jebakan ini, perhatikan alasan-alasan menghambat apa yang sering muncul dan paksa diri kita untuk membuktikan bahwa alasan-alasan Anda tersebut salah!

3. Mudah jatuh

Ini adalah tantangan yang paling sering terjadi dan sangat penting untuk diperhatikan. Sebuah batu kecil sekalipun cukup untuk membuat seseorang yang sedang mengendarai sepeda berubah arah, dan mungkin sampai terjatuh. Demikian juga kehidupan kita. Latih dan biasakan pikiran kita bukan hanya tahu, tapi juga percaya bahwa setiap ‘batu’ yang ada di sepanjang jalan kita adalah sebuah pengalaman belajar yang menarik, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk sukses.

4. Mudah lupa

Seharusnya seseorang melakukan sesuatu karena sebuah alasan. Jangan lakukan sesuatu jika kita tidak tahu mengapa kita mau atau harus melakukannya. Apapun yang kita lakukan haruslah dilakukan karena sebuah alasan. Ketika kita tidak mempunyai cukup alasan untuk melakukan sesuatu, maka kita juga tidak akan memiliki cukup motivasi. Jangan pernah lupa alasan mengapa kita harus mencapai tujuan kita. Renungkan alasan tersebut terus-menerus.

5. Mudah menyerah

Hidup itu seperti berada dalam "medan perang", apabila kita tidak mau berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang kita inginkan, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Di dalam peperangan tidak boleh ada kata mundur atau menyerah. Berjuanglah untuk hidup kita atau bahkan untuk orang-orang yang kita sayang. Keberhasilan kita akan menjadi berkat bagi orang lain. Ingat, ketika motivasi dalam diri kita lenyap, maka sebenarnya kita sudah "mati", walaupun hidup secara raga.

-Hana Larasati

Selasa, 23 Februari 2016

Keraton III

Mataku semakin sipit sangking sembabnya. Aku terus menangis dan menangis. Dalam kamar tak henti-hentinya aku menghakimi Tuhan. Aku kecewa, marah, kesal, bertanya di mana janji Nya.

Tak terasa adzan asar sudah berkumandang. Suara muazim yang mengalun indah seakan memanggil-manggil ku. Tapi hatiku masih kecewa pada Nya.

"Gin.. ayo solat." Ajak sahabatku.

"Buat apa solat.. Tuhan aja ingkar janji sama gua."

"Astagfirullah... jadi lu mau marahan nih sama Allah? Lu punya apa Gin gua tanya? Semua yang ada di elu itu di sponsori Allah. Lu gak pantes menghakimi Allah kaya gitu. Dia Maha Tau Gin. Ayok solat.. minta ampun sama Allah."

Aku pun terdiam. Aku semakin terisak, tangisku semakin keras.

"Astagfirullah.. Astagfirullah.. Astagfirullah wa atubbu illaih." Kata ku dalam suara yang terisak.

Apa yang aku ucapkan tadi. Setan benar-benar telah menang sekarang. Aku mengadaikan cinta sejatiku demi seseorang yang aku tidak tau apa aku akan menjadi jodohnya atau bukan.

Astagfirullah.. ampuni aku Ya Allah. Ampuni mulutku dan hatiku yang tidak bisa berkata dan berprasangkan baik pada Mu. Allah, jangan palingkan wajahMu dari ku karena kata-kataku. Sesungguhnya aku makhluk yang jahil, makhluk yang bodoh. Ampuni hambaMu Ya Rabb.

Dalam pekatnya malam hatiku terbuka. Jalan ku salah selama ini hijab itu di niatkan untuk Allah semata. Bukan karena yang lainnya. Allah Maha Sayang terhadap hamba Nya, Dia pilihkan dan jauhkan sesuatu karena Dia tau yang terbaik itu apa.

Esok paginya, aku meniatkan diri untuk bertemu Malik. Laki-laki pingitan itu kini telah meniatkan diri memingit gadis pujaannya. Bissmillah, aku berikrar untuk kuat dalam ucapan selamat yang akan aku katakan padanya.

"Assalamualaikum, Lik."

"Waalaikumsalam, Gin. Ada apa?"

"Begini Lik, aku denger kamu sudah mau melamar seseorang ya."

"Masya Allah kabar itu sudah sampai di kamu ya? Padahal Malik mau bilang langsung loh."

"Iya gapapa Lik. Aku cuma mau ngucapin selamat, semoga kalian selalu dalam lindungan Allah." Kata ku dalam mata yang berkaca-kaca. Kuatkan aku Allah. Kuatkan hamba Mu.

"Aku tau gadis itu pasti cantik dan baik sama kaya kamu. In shaa Allah kalian gak cuma sama-sama di dunia tapi sampai di surga. Aamiin." Lanjutku yang kini mulai sedikit kuat.

"Kamu mau aku kenalkan pada calonku Gin?"

Deg.. Hati ku langsung berdetak tak karuhan. Allah apa aku sanggup melihat calon laki-laki idamanku. Allah, kuatkan aku.

"Bo..boleh.."

"Sini.." Dia menyuruhku mengikutinya. Mau kemana dia, siapa gadis itu. Apa dia satu sekolah denganku? Pertanya-pertanyaan standar itu muncul dalam otakku. Aku pun mulai mengikutinya.

Setelah di bingungkan dengan kata kemana kita, akhirnya kita sampai di depan masjid. Masjid tempat biasa Malik solat dan membaca Al-qur'an. Masjidnya berwarna hijau dengan indah kaligrafi emas yang mendayu-dayu di setiap sudutnya. Masjid itu memiliki tembok yang kokoh, dan banyak jendela kaca besar di sekelilingnya.

"Mana Lik..?" Kata ku yang semakin mencoba ikhlas.

"Ayo sini.." Dia menyuruhku berjalan menuju jendela yang paling lebar.

"Tuh dia ada di sana." Katanya malu dan mulai menjauh dariku. Aku yang tak menemukan sesosok wanita itu pun bingung di buatnya. Ada wanita tua, tapi apa iya itu jodohnya?

"Mana Lik? Perempuan yang memakai kerudung merah bukan?"

"Bukan.. itu sih bu dosen algoritma. Itu.. masa gak liat sih. Yang pakai kerudung hitam."

"Yang mana sih? Gak ada yang pakai kerudung hitam di dalam. "

"Siapa yang bilang dia di dalam. Dia ada di pantulan cermin."

Masya Allah hatiku entah harus bagaimana. Sedihkan, haru, atau senang. Aku tak berani menatap wajahnya sangking gugupnya.

" Uhibukki Fiilah, Gina."

"Ke..kenapa bisa? Bukannya kata Dinda kamu mau melamar seseorang yang bukan dari kelasku?"

"Hahah itu bohong aku melakukan itu hanya karena ingin kau memperbaiki niatmu, dalam berhijab."

"Semua hal itu niatnya harus karena Allah. Bukan karena makhluk ciptaanNya. Aku sengaja mengetesmu hanya ingin tau masih setiakah kerudung panjangmu ketika kamu tau aku tidak ada di sisimu dan ternyata kerudung itu masih istiqomah."

"Jadi maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?"

"Iya."

Keraton menjadi saksi pertemuan kita. Aku bahagia sekali bukan hanyq cinta tapi iman.

Senin, 22 Februari 2016

Keraton II

Teurai jilbab panjang dari kepala hinga dada. Riasan wajah sederhana tapi tetap manis di pandang mata. Diamku bukan diam tanpa perjuangan.

"Gin, lu sehat?" Kata temanku sambil melihat ku dari ujung kepala hingga kaki.

"Sehat Nda."

"Lu kenapa?" Kata nya yang sekarang menatapku sambil memegang lenganku.

"Gua mau hijrah.. wanita yang baik kan buat laki-laki yang baik Nda. Gua mau jadi wanita baik-baik."

"Gua tau nih arahnya kemana. Jangan bilang lu lagi ngincer Malik ya makanya jadi begini."

"Ah.. enggak." Padahal dalam hatiku berkata "Ini orang keturunan limbad apa. Bisa aja baca pikiran orang."

Aku pun mulai melangkah menuju masjid tempat biasa Malik solat. Aku duduk di bangku taman sekitaran masjid. Pikirku aku ingin Malik melihat perubahanku.

Lama aku tunggu dia. Dari mulai adzan zuhur sampai sekarang sudah mendekati adzan ashar.

"Duh Malik mana ya." Bisik ku kecil.

"Assalamualaikum Gin." Kata suara yang sudah aku kenal baik.

"Waalaikumsalam Lik." Kata ku sedikit gugup.

"Nunggu siapa?"

"Dinda, Lik."

"Loh Dinda bukannya udah pulang ya dari tadi?"

"Ah.. iyaa. Duh kenapa bisa lupa gini ya. Yaudah makasih Lik." Aku pun berlari pergi.

"Dasar bodoh." Umpatku dalam hati. Untuk berbohong saja aku tidak bakat. Tapi setidaknya Malik melihat penampilanku yang baru. Karena Malik aku menekatkan diri untuk menjadi wanita yang lebih baik. Bukankan yang baik untuk yang baik?

Pagi ini menjadi pagi pembuka yang indah. Langitnya terang, kicau burung pun mengikuti dengan riang. Aku masih memakai jilbab panjangku. Kali ini aku memilih warna hitam untuk jilbabku.

Sampai di kelas Dinda menatapku penuh arti. Matanya tak lepas dari mataku. Sepertinya dia mau mengatakan sesuatu yang penting.

"Gin.." katanya yang masih saja menatap mataku lekat.

"Kenapa lu?"

"Malik Gin.. dia udah mau ngelamar orang."
Hatiku remuk seketika. Lalu apa hasilnya lerjuanganku. Ya Allah bukan kah Kau bilang perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik? Lalu kenapa ketika aku menjadi baik, dia kau tarik dari kehidupanku? Tuhan apa ini yang Kau bilang janji Mu?

-Hana Larasati

Keraton.

Merindukan pagi di kala malam baru meninggi. Ah.. pagi cepatlah datang. Rajukku dalam hati. Aku ingin melihat sosok yang mengetarkan hatiku lagi.

Ini pertama kalinya. Aku jatuh cinta. Rasanya bagai melihat matahari senja di pantai selatan jogja. Sangat indah.

Sepertinya kali ini aku menjatuhkan hatiku pada orang yang tepat. Laki-laki dengan badan tinggi dan putih itu menjadi penyemangat hari-hariku. Matanya sipit dan wajahnya oval oriental. Aku selalu mengintipnya dari jendela kelas setiap hari.

Bagai fans yang tergila-gila pada idola, aku pun tau jadwal kegiatannya. Setiap pagi dia selalu menyempatkan untuk solat duha. Baru ketika jam 07:30 dia kembali lagi ke kelas.

Dalam hati aku yakin dialah orang yang tepat. Laki-laki soleh yang selalu menjaga solatnya. Setiap hari aku terus-menerus memperhatikannya.

Malam ini pikiran ku masih mengelana. Memikirkan sosok tentang dia. Dia itu sangat baik. Akhlaknya bagus dan prestasinya mulus.

Muhammad Malik Ibrahim. Laki-laki penyandang dua gelar nama nabi  pada namanya mampu merontokan hatiku. Tapi aku berpikiri mana mungkin aku bisa bersanding dengannya jika aku masih seperti ini.

Terbayang lagi wajahnya yang bersih dan mulus, apa lagi ketika ia terkena sinar matahari. Wajahnya semakin bersinar layaknya matahari pagi. Laki-laki yang selalu datang di awal untuk menyempatkan solat duha.

Apa aku bisa memiliki laki-laki keraton. Laki-laki yang pemalu seperti gadis pingitan. Laki-laki sopan dalam kata dan santun dalam sikap.

Sabtu, 20 Februari 2016

Indonesia Pintar?

"Indonesia kaya, tapi kenapa masyarakatnya miskin?"  Pasti kalian pernah nemuin pertanyaan kaya gini. Entah itu dalam otak kalian tau dari omongan orang yang sekelebat lewat.

Kali ini saya mulai tertarik membahas soal ini. Kenapa sih Indonesia itu jadi negara yang berkembang padahal SDA sangat mendukung dia menjadi negara yang maju?

Kurang Percaya Diri.

Kurang percaya diri adalah hal yang menyebabkan kita masih saja jalan di tempat ketika yang lain sudah mulai berlari ke depan. Perubahan besar bermula dari kepercayaan pada diri sendiri bahwa kitalah andil dalam sebuah perubahaan.

Kebanyakan dari kita punya banyak ide brilian tapi hanya mengendap di otak karena kurang yakin dengan potensi yang kita punya. "Bisa gak ya?", "Kalo gak bisa gimana?" Pikiran-pikiran negatif itu yang menghambat kita untuk maju. Ketika ide itu sudah di aplikasikan oleh bangsa lain baru kita berkata "Coba aja dulu..."

Mulai lah untuk yakin dengan apa yang diri kita miliki toh Tuhan sudah memberikan potensi pada setiap makluknya, tinggal kita menggali potensi itu supaya menjadi lebih baik.

Jadi Smart People

"Indonesia kan banyak orang pintarnya tapi kok masih saja tertinggal?" Karena kebanyakan dari kita hanya menajdi manusia yang pintar bukan cerdas. Jadilah manusia yang cerdas bukan manusia yang pintar. Cerdas itu memaksimalkan apa yang kita punya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan diri sendiri. Kalau pintar hanya terpusat pada otak saja.

Kebanyakan dari kita hanya menjadi manusia yang pintar. Tidak salah memang tapi kalau bisa menjadi cerdas kenapa tidak? Kadang otak yang cerdas akan sia-sia jika tidak di barengi dengan simpati dan empati pada lingkungan sekitar.

Toh para koruptor di negara kita itu kebanyakan berasal dari orang yang pintar. Latar belakang pendidikannya tinggi, status sosialnya baik, tapi empati dan simpatinya bobrok.

Manusia-manusia cerdas yang bisa kita contoh di negara kita ini seperti Bj. Habibie, Dahlan Iskan, dan masih banyak lagi.

Mengapresiasikan Karya Orang Lain

Yang membuat orang malas untuk berkarya adalah apresiasi masyarakat dalam menyambut karyanya itu kurang. Memandang sebelah mata atau bahkan ada yang mungkin menjatuhkan. Itu yang membuat drop mental anak-anak bangsa.

Ketika seseorang membuat suatu karya beri dukungan mental. Syukur syukur memberi dukungan materil. Kebanyakan dari kita, sudah gak memberikan dukungan mental maupun materil malah menjatuhkan sejatuh jatuhnya dengan komentar-komentar yang miring.

Memang baik mengomentari suatu karya karena dengan begitu kita tau dimana salah dan kurangnnya, tapi gunakan bahasa yang sopan dan kata-kata yang membangun. Jadi si pembuat semakin termotivasi dan terispirasi. Jangan mengunakan kata-kata yang malah menjatuhkan.

Jika kita ingin negara ini berubah mulailah dengan diri sendiri. Ayo jadi manusia yang cerdas bukan hanya manusia yang pintar. Manusia yang mempunyai simpati dan empati bukan manusia yang menghalalkan segala cara demi gengsi. Semoga menginspirasi.

-Hana Larasati.

Jumat, 19 Februari 2016

Jangan Terima Aku Apa Adanya

Tema kali ini sengaja di ambil dari pengalaman pribadi. Pasti di antara kita pernah merasakan ini. Sahabat kita atau orang terdekat atau kita sendiri selalu mengiyakan semua hal yang seseorang lakukan. Entah itu baik atau buruk hanya karena tidak enak bila menegur. Alasan klasiknya " Gue kan terima dia apa adanya." Nah kita liat yuk apa yang dimaksud "Terima apa adanya."

Definisi Menerima Apa Adanya.

Menurut pemikiran saya, terima apa adanya bukan kita mengiyakan semua hal yang dia lakukan. Entah itu baik atau buruk baginya, karena berlandaskan rasa gak enak. Menurut saya terima apa adanya itu, oke saya terima segala kekurangan kamu. Terima kamu sebagai orang yang pemarah, pemalas, pengeluh, pembohong, tapi selama kamu bersama-sama dengan saya kamu gak boleh memelihara sikap itu. Kamu harus berubah menjadi yang lebih baik dan sebagai sahabat saya akan membantu kamu, karena sahabat yang baik adalah yang mengingatkan di waktu salah dan menguatkan di waktu lemah.

Kita melakukan itu bukan karena kita jahat. Tapi kita membantu dia, supaya meninggalkan sifat-sifat jeleknya ketika sedang bersama kita. Syukur syukur bisa melekat selamanya. Bisa kan karena biasa.

Bahaya Salah Kaprah Dalam Terima Apa Adanya.

Mungkin ketika kita bersama dia yang sudah tau watak dan sikapnya kita bisa toleransi, nah kalau dia sedang bersama orang lain dan dia terus memelihara sikap itu apa gak bahaya?

Bisa-bisa dia jauhi karena sikapnya. Karena gak semua orang bisa menerima sikapnya. Maka dari itu sebagai sahabat yang baik kita wajib mengingatkan.

Takut Dia Marah

Penolakan untuk sesuatu yang berebeda dari kebiasaan itu biasa. Kalau kita meniatkannya karena Allah, in shaa Allah dia akan mengerti.

Gunakan bahasa yang baik lagi santun ketika mulai mengingatkan dia. Beri pengertian secara perlahan. Jangan memaksa. Karena untuk mengubah beras menjadi nasi pun butuh proses.

Jadi terima apa adanya adalah ketika kamu menerima segala kerurangannya dan gak membiarkan sifat jeleknya terus ada dalam dirinya. Semoga bermanfaat.

-Hana Larasati


Kamis, 18 Februari 2016

Matahari II

"Hujan menjadi pengawal pertemuan kita. Di saksikan gigil dan dingin. Semoga pertemuan ini berkah, seperti setiap tetes air hujan yang turun menghujami bumi. "

Entahlah dia masih menjadi sosok yqng memikat. Sudah lama aku memperhatikanya dalam diam. Aku tau ini salah. Jatuh cinta diam-diam itu menyerahkan semuannya pada Allah bukan menyimpannya dan memikirkannya dalam hati seperti ini.

Aku masih mencuri pandang lewat derai hujan yang mulai menjadi tirai sangking lebatnya. Tuhan maafkan hambaMu yang tidak bisa menjaga matanya. Tapi makhlukmu itu sangat mempesona.

Sekarang dia mulai mendekap tubuhnya dengan tangannya untuk sedikit menghangatkan. Karena dingin mulai mengelayuti tubuh kokohnya. Rambutnya yang panjang sebahu sepertinya lepek tetkena cipratan hujan.

Cinta di pelataran keraton Jogja. Rasanya aku ingin sekali menulis tentang itu saat ini. Kita terjebak di tempat dan suasana yang pastinya akan membuat orang iri dengan kita. Hujan dan keraton.

"Dila, ayok pulang. Hujan udah sedikit reda." Lamunanku pecah ketika sahabatku berkata sembari mengandeng tanganku. "Ah.. mengapa engkau buru-buru reda, padahal aku masih mau terpenjara dengannya. Yang deraimu menjadi jerujinya." Rajukku kepada hujan.

Tuhan aku tau ini salah, tapi Engkau pun pasti lebih tau bahwa ini ujian yang susah. Susah bagi hambaMu yang baru mengikrarkan untuk berhijrah. Menghijab hati itu lebih susah dari menghijab jiwa. Karena itu adalah hal yang benar-benar paling jujur.

"Kamu kenapa aneh gitu sih Dil?"

"Aneh? Aneh kenapa?"

"Itu celingukan gitu, kaya ada yang dicari."

"Sebenernya sih ada."

"Rum, aku mau cerita boleh?" Lanjutku lagi. Sambil menatap mata Rumi.

"Boleh, cerita aja."

"Aku kayanya suka sama laki-laki pengidap LGBT deh."

"Astagfirullah....... tobat Dil tobat."

"Heh.. jangan salah sangka dulu. Maksudnya laki-laki pengidap LGBT itu laki-laki gagah berakhlak tauladan."

"Mas Fahmi maksudmu?"

"Kamu kok tau?"

"Ayam yang lagi joging juga tau. Mata kamu gak pernah lepas kalo ada dia."

"Hmm... aku tau ini salah Rum. Aku juga gak mau kaya gini. Aku mau istiqomah sama pilihanku buat menahan pandangan. Tapi kayanya setan lebih istiqomah buat ngerontokin ke istiqomahan aku deh."

"Jangan salahin setan, salahin diri kamu sendiri kenapa kalah sama setan. Setan mah emang udah tugasnya menjerumuskan manusia supaya masuk ke dalam neraka. Tugasnnya gak akan berhenti sampai kiamat tiba. Tinggal dari kamunya aja Dil mau kalah apa enggak sama makhluk yang derajatnya di bawah kita, umat manusia."

Mendengar ucapan Rumi aku pun berpikir. Sepertinya memang hatiku sudah benar-benar melenceng. Aku seakan melupakan bahwa Allah cemburu melihat perilakuku, yang terlalu mengistimewakan makhluknya.

Dalam dekapan malam yang gulita. Aku menangis memohon ampun atas semua perilaku ku.  Aku takut jika cintaNya pudar dari hatiku.

Tak lama berselang handphone ku berbunyi. Ternyata mas Fahmi yang menghubungiku.

"Assalamualaikum, mas. Ada apa?"

"Waalaikumusalam, mba. Enggak saya hanya ingin ngobrol aja sama mbanya."

"Ngobrol? Di jam 3:00 pagi seperti ini? Ndak salah mas?"

"Maaf ya mba. Ngehubunginnya di waktu yang gak wajar."

"Iya gapapa mas. Ada apa gitu tumben mau ngobrol sama saya. Eh iya kok mas kenal saya?"

"Gapapa mba. Karena kelas mba kan pasti habis kelas saya kalo ngampus jadi saya tau mba."

"Oh iya juga sih mas. Tapi aneh aja kok mas bisa kenal saya dari sekian banya murid yang ada."

"Mba juga kok kenal saya?"

"Ya masnya kan asdos. Siapa yang ndak kenal. Yang aneh kenapa mas kenal sama saya. "

" Saya memang memperhatikan mba dari dulu."

"Loh? Saya emang punya salah sama mas?"

"Ndak mba ndak. Saya kagum sama mba."

"Kagum? Bagusnya saya yang bilang begitu ke masnya. Mas  mah banyak yang bisa di kagumi lah saya, apa yang bisa kagumi mas? "

"Ya kan hati orang gak ada yang tau mba."

"Jujur saya pun kagum sama mas. Walaupun kita sepantaran tapi mas sudah jadi asisten dosen. Mas juga rajin ibadah. Saya juga memeperhatikan mas diam-diam."

"Hah yang bener mba? Kok saya gak tau."

"Namanya juga diam-diam mas ya pastinya mas gak tau. Tapi sekarang saya pensiun untuk mengagumi mas. Saya takut ada yang cemburu ketika saya lebih mengistimewakan makhluknya. Saya takut Allah cemburu."

"Saya gak terpikir itu ya mba."

"Saya gak mau jadi Zulaika mas, yang mengoncangkan iman Yusuf. Saya takut murkanya Allah jadi saya memilih pensiun dini untuk jadi pengemar mas."

"Benar kamu mba."

" Untuk pengakuan mas yang tadi saya belum bisa menangapi. Jika mas benar-benar serius perjuangkan saya di jalan yang baik ya mas. Di jalan yang di ridhoi Allah."

"Bagaimana caranya?"

"Menikah. Tidak ada solusi untuk dua insan yang sedang jatuh cinta selain menikah. "

"Saya belum mampu mba."

"Ya kalau begitu kamu harus merelakan saya."

"Saya gak bisa mba."

"Solusi terbaik adalah saling memperbaiki diri."

"Saya sepertinya mengambil solusi yang terakhir mba."

"Kalau kita jodoh pasti bertemu mas."

"Aamiin mba."

Percakapan kita pun ditutup oleh aamiin. Semoga aamiin mu dan aamiinku di ijabah oleh Allah. Bukan kah doa yang gotong royong lebih cepat di ijabah.

Selang dua tahun dari hari itu Fahmi melamarku. Matahari keraton Jogjaku yang dulu hanya bisa aku lihat dari jauh. Kini dia selalu ada ketika aku membuka mata di pagi hari.

Ketika Allah yang menjadi tujuan, maka apa yang kamu impikan akan menjadi kenyataan. 

Hal yang paling sulit memang menahan perasaan pada orang yang di suka dan menyukai kita. Ketika semua harus di hijab dalam taat. Merelakan perasaan yang ada, menahan semua nafsu. Bukan hal yang mudah tapi Dila dan Fahmi bisa melakukan itu. Karena mereka tau, ketika kita meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang baik.

Diah Larasati & Muhammad Fahmi Gifahri
Semoga berkah dalam dekapan Allah.

-Hana Latasati