Kamis, 24 Maret 2016

Maryam

11 tahun yang lalu aku menemuimu sebagai gadis yang ayu dan lugu. Dengan rambut sebahu dan kulit putih semakin menambah manis dirimu.

Kau menyapaku dengan senyum yang menampakan ke dua gigi kelincimu. Awalnya aku menilaimu sebagai wanita yang pendiam dan pemalu. Lama waktu memandu, ternyata kau adalah gadis yang ceria. Harus di sapa dulu maka kau akan membuka dirimu.

Sekarang gadis kecil itu sudah tumbuh semakin dewasa dan mempesona. Dengan kerudung panjangnya dia membawa perubahan-perubahan yang mampu mencerahkan para sahabatnya.

Seorang yang dulunya adalah gadis desa biasa kini hadir menjadi aktifis yang mengetarkan keimanan kita. Menyiarkan apa yang harus tersiar.

Dia bagaikan mercusuar bagi kami. Yang selalu mendampingi dan mengawasi di setiap langkah kami.  Walau pun terlihat lembut dia tergolong wanita yang tegas.

Apa lagi jika itu menyangkut soal kemunkaran. Tak segan ia menegur jika kami salah. Dengan tutur kata yang santun dan tidak menyakiti.

Dia juga gadis yang pandai menjaga harga dirinya. Yang selalu mengingatkan kami bahwa tak semua perasaan harus di siarkan. Yang menyadarkan bahwa pandangan harus di tahan. Aku suka menamainya sebagai Maryam. Karena kuatnya dalam menjaga dirinya dan sangat mempesonanya dia.

Betapa takutnya dia akan amarah Tuhan. Mencerminkan bahwa dia adalah gadis yang bertakwa. Selalu ada Allah dalam setiap langkahnya dan membawa para sahabat dalam kebaikan.

Bukankah kata orang sahabat yang baik apa bila engaku melihatnya semakin dekat engkau pada Tuhanya. Ketika engkau mendengar suaranya, yabg terdengar seruan mengajak pada kebaikan dan ketika engkau ada di sampingnya kebaikan-kebaikan yang tercipta.

Katanya Allah, tidak akan membiarkan seorang hamba masuk ke dalam surga seorang diri. Maka Allah akan menyuruhnya membawa sahabatnya. Semoga Allah menjaga kita dan kita bisa selalu bersama tak hanya di dunia tapi sampai di surga. Aamiin.

-Hana Larasati



Rabu, 23 Maret 2016

Khadijah

Aku menjulukimu sebagai Khadijah. Perempuan percontohan pada zamannya dan salah satu pedangan wanita yang berjaya pada saat itu. Khadijah juga istri yang paling di cinta oleh baginda Rasulullah SAW. Dia di lambangkan sebagai wanita yang kuat dan pemberani.

Hampir 11 tahun kita bersahabat. Tak ada perubahan yang mencolok pada dirimu, kalau pun ada itu berarah pada kebaikan. Perempuan dengan perawakan tinggi dan cantik itu kini bertambah dewasa. Dia memiliki hidung mancung dan mata yang indah.

Bukan tanpa alasan aku menjulikimu sebagai Khadijah. Terlahir sebagai anak ke dua dari 6 bersaudara, membuat nyalimu pantang surut. Membuat setiap mata memandang salut. Pembawaan yang ceria adalah ciri khasmu. Entah apa yang sedang kau hadapi, kau selalu tersenyum seakan hidup selalu baik-baik saja.

Bukan hanya cantik di luar tapi engkau pun cantik dari dalam. Mengayomi dan penyabar dalam setiap masalah semakin menjadikanmu istimewa. Jalan hidup yang terkadang tidak mudah, tak pernah meruntuhkan nyalimu. Karena engkau selalu yakin bahwa Allah selalu mendampingimu.

Kau ibarat matahari yang menundukan setiap mata sebelum sempat melihat. Kau juga tipe perempuan yang cerdas, tangkas, dan tegas. Sekali lagi aku berterima kasih pada Allah karena Ia menganugrahkan engkau sebagai sahabat terbaik ku. Yang mengingatkan di saat salah dan menghibur di saat lelah.

-Hana Larasati

Senin, 21 Maret 2016

Hujan dan Masa Lalu

"Bukan aku yang menghampirimu atau kau yang berlari kepadaku tapi takdir. Takdir yang membuat kita bertemu."

Aku berlari menerobos hujan. Deras sekali bagai tirai tanpa penyanga. Hampir setengah basah pakaianku. Tiba-tiba ada yang aneh. Kenapa hujannya reda hanya di kepalaku

"Pakai ini. Kamu tau ada teknologi bernama payung?" Kata suara yang sepertinya aku sudah tidak asing lagi.

"Gak sempet."

"Kamu mau kemana hujan-hujan begini?"

"Mau beli hvs buat merangkum."

"Mari saya antar."

"Gak usah makasih, deket kok."

"Sedeket-deketnya kalau hujan ya basah, Han." Katanya.

Aku pun menyerah, dan setuju diantarnya membeli hvs.

"Jauh banget beli hvs di Jakarta. Bogor emang gak jual?"

"Ada. Tapi kan lagi di sini yaudah beli aja di sini."

Aku duduk di tempat foto kopi. Dia masih menatap ku.

"Ada apa?" Kataku.

"Kamu masih gak kenal siapa saya?"

"Enggak."

"Ingatanmu lebih buruk dari ikan."

Aku hanya diam menatap hujan. Jujur aku bukan tipe wanita yang senang berbincang dengan orang asing. Terlebih itu laki-laki.

"Han."

"Ya?"

"Kamu sekolah dimana?"

"Di universitas yang kalau aku sebutkan pun kamu gak akan tau."

"Jangan bicara begitu."

"Pengalamanku yang bisa membuatku bicara seperti itu."

"Sekolah itu ibarat baju. Baju bagus tergantung siapa yang pakai."

"Haha itu hanya kiasan yang sering terdengar. Pengaplikasian di dunia nyatanya yang terkenal yang menang."

"Kalau kamu aja gak banga sama apa yang kamu punya gimana orang lain mau bangga?"

"Hah entahlah."

"Han. Kamu benar-benar lupa siapa saya?"

"Iya. Maklum lah saya pindah dari sini sudah 11 tahun yang lalu."

"Saya Abimanyu Senopati. Teman Tk kamu dulu?"

Aku berpikir sejenak. Ingatan ku, ku seret pada masa 15 tahun yang lalu. Entahlah nama itu terlalu asing. Aku tidak bisa mengingatnya.

"Maaf, tapi aku benar-benar lupa." Kataku

"Yasudah." Katanya.

"Kamu memang tinggal dimana?"

"Dulu rumahku dekat dengan Tk. Tapi sekarang pindah di sekitaran Cilandak."

"Oh begitu."

"Oh iya, tadi aku beli cup cake. Nih buat kamu. Kamu suka cup cake kan?"

"Iya suka. Terima kasih."

"Hujannya sudah reda. Aku pulang duluan ya. Tidak apa-apa kan kamu aku tinggal."

"Iya tidak apa-apa. Hati-hati dan terima kasih." Kataku

"Sama-sama." Ucapnya sambil tersenyum.
Dia pun berjalan pergi. Belum terlalu jauh aku pun berteriak.

"Sukses buat ujian terbangnnya." Dia menoleh sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

Buatku di sapa masa lalu, ibarat di sapa hujan di tengah kemarau. Walau  tidak tau sebabnya tapi merasa gembira karena kesejukan yang tiba-tiba menyapa.

Aku cukup terharu dia masih ingat kepadaku. Seseorang yang sudah 15 tahun hilang di hidupnya. Efek dari kejadian itu aku berpikir aku adalah bagian penting di hidupnya. Dia cukup sopan untuk di ajak berteman. Apa lagi statusnya sebagai calon pilot. Alhamdulillah sekali lagi Allah mengirimkan seorang teman yang baik untukku.

-Hana Larasati

Pria Kurus.

Kita bertemu lewat tatap ragu-ragu. Waktu itu Desember 2015 kau mengenalkan namamu padaku. Aku hanya diam menatap ragu.

"Seno (bukan nama sebenarnya)." Kau mengulurkan tanganmu.

"Hana." Kata ku ragu.

Kau lama menatapku. Aku hanya terdiam bingung. Entah apa yang sedang kau pikirkan.

"Sudah lama?" Katamu.

"Iya."

"Aku gugup." Katanya. Aku bingung apa maksud dari ucapannya.

"Maksudnya?"

"Sebentar lagi ujian terbang."

"Kamu pilot?"

"Iya."

Pemuda dengan tubuh tinggi tegap dan kurus yang menyapa ku ini ternyata pilot. Entahlah perasaanku bercampur aduk sekarang. Binggung, heran, aneh semuanya bercampur jadi satu.

"Kamu gak salah cerita sama orang yang baru kamu kenal?" Kataku.

"Apa kamu terganggu?" Katanya yang mulai menatapku lagi.

"Bukan.. bukan.. seperti itu."

"Baiklah aku pergi." Dia mulai bangkit dan berjalan pergi.

"Aku suka mendengar ceritamu." Kataku. Dia pun menoleh.

"Aku hanya heran kita baru kenal dan kau menceritakannya padaku." Lanjutku.

"Kita sudah lama kenal. Kau saja yang baru menyadari itu." Katanya sambil tersenyum.

"Maksudmu?"

"Benar kata mereka Hana, kamu bukan wanita yang peka." Dia pun berjalan pergi.

Aku jadi makin bingung. Dalam lapangan futsal aku hanya menatapnya bermain sambil berpikir, dia siapa?

-Hana Larasati

Sabtu, 19 Maret 2016

Teman Perjalanan

Memaknai cinta bagai menyulam benang menuju surga. Awalnya melelahkan dan membosankan. Penuh dengan derai air mata dan kekecewaan. Tapi perjuangan itu dibayar lunas saat ini. Ketika tau apa maksud Sang Pemilik Hati.

Awalnya kita memulai cinta bukan karena Allah. Di usia yang terbilang masih sangat muda, nafsu dan egois yang membuat cinta kita bermula. Namun kita bisa mengakhirinya karena Allah.

Aku menamaimu sebagai teman perjalanan. Kita sempat berpisah. Kau meninggalkan aku karena satu alasan kuat yang tertancap di hatimu. Aku sempat menangis dan memohon agar kau memikirkan keputusanmu. Tapi kau tetap pada pendirianmu.

Aku ingat saat kau meninggalkanku. Kau bilang "Pacaran itu bukan suatu pilihan tapi kesalahan dan aku tidak ingin menjadi manusia yang selalu salah. Kita putus karena tidak ada pacaran dalam islam."

Awalnya aku meragukan kata-katamu. Kau pasti sama dengan laki-laki lainnya. Hanya memainkan janji sesuka lidahmu. Aku benar-benar khawatir kau akan sama seperti yang lainnya. Allah hanya kau jadikan alasan untuk mencari penganti.

Tapi seiring berjalannya waktu. Aku akhirnya melihat kesungguhan ucapanmu. Kau benar-benar menjaga hatimu, menahan pendanganmu, menjaga hawa nafsumu. Kau tidak mendekat dengan perempuan yang bukan mukhrimmu.

Kau adalah laki-laki yang tampan dengan perawakan tinggi tegap dan gagah. Kau juga tergolong pintar dan santun. Tutur katamu lembut tapi tegas. Kau selalu menjaga sikapmu tidak pernah ku dengar kau berkata kasar. Maka tak heran jika banyak wanita yang mengidam-idamkanmu. Tapi kau hanya diam dan bersikap sopan secukupnya kepada mereka.

Kau tau? Kau menunjukan sesuatu yang membuat tangisku reda seketika. Kekhawatiranku juga memudar. Aku pun memutuskan untuk bangkit dan berpikir kenapa harus ditangisi kalau bisa di perjuangkan. Bukannya laki-laki yang baik untuk pempuan yang baik?

Mulai saat itu aku pun berbenah diri. Aku menjadi perempuan yang lebih baik. Aku ulurkan jilbabku hingga dada. Aku perdalam ilmu agama. Aku lakukan apa yang menjadi ridho Tuhanku.

Seiring berjalannya waktu aku tau perubahan bukan di niatkan karena mengejar suatu hal. Tapi lebih kepada membuat Allah ridho dunia akhirat pada kita. 

Aku terus belajar dari saat itu. Bukan kau yang aku kejar, tapi Allah. Kamu bukan lagi prioritas untukku. Sekarang yang terpenting Allah ridho kepadaku.

Masalah kau akan jadi pendampingku atau tidak, biar Allah saja yang mengurus. Toh Dia pun tau, kau masih jadi tema yang selalu aku perbincangkan denganNya. Jika kau yang terbaik maka kita akan sama-sama membangun cinta sampai ke surga. Jika kau bukan yang terbaik maka akan ada yang lebih baik. Kita hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan hasil akhirnya.

Terima kasih teman perjalananku. Dari kau aku tau memaknai cinta di jalan yang benar.

-Hana Larasati

Senin, 14 Maret 2016

Teh Manis

Aku berjalan dalam dekapan dingin kota Bandung. Pikiranku mengelana entah kemana. Aku berjalan dengan bimbang, yang aku tau aku harus cepat dalam langkahku supaya tak bertemu laki-laki pembuat luka itu.

Setelah empat tahun berlalu, aku tidak menyangka kau datang lagi di hidupku. Alasan yang kau ucapkan benar-benar membuat aku sakit kepala. Kau bilang, kau hanya bercanda meninggalkan ku di gunung pangrango waktu itu. Kau tau? aku hampir mati beku di sana dan kini kau bilang itu hanya bercanda!

Menangis pun rasanya aku sudah amat sangat lelah. Terlalu banyak luka yang menghujamku hingga rasanya aku sudah mati rasa.  Penghianatan. Kebohongan. Gunung. Kekecewaan. Sekarang semuanya berputar di otakku. Aku benar-benar lelah. Kenapa kau kembali! Taukah kau bagaimana susahnya aku mengubur semuanya dan kau dengan seenaknya kembali membukanya?

Aku harap kau masih ingat ketika kau bilang ke semua orang kita bukan apa-apa. Kau tinggalkan aku bagai sampah waktu itu. Tidak terpikirkah kau bagaimana menderitanya aku? Ingatkah kau seberapa kuatnya usahaku menahanmu pergi. Aku menangis saat itu, dan kau membuang muka tak peduli. Hingga akhirnya aku menunggumu selama 3 jam dalam dekapan dingin gunung pangrango.

Sekarang kenapa kau datang lagi? Membawa semua harapan dan menjanjikan perbaikan. Apa kau pikir hidup sebercanda ini?

Aku terus mempercepat langkah kaki. Tak terasa sudah sampailah aku pada tujuan. Rumah Ayu, teman baikku yang memberikan aku tumpangan tinggal selama aku dinas di Bandung.

"Assalamualaikum." Kataku sambil mengetuk pintu.

"Wa'alaikumsalam Mary." Katanya. Dia menatapku lekat. Aku pun langsung masuk dan duduk dengan muka yang masih risau.

"Ada apa?"katanya lagi.

"Tidak ada apa-apa."

"Kata-kata andalan wanita. Cepat beritau aku ada apa?" Dia mulai memaksa.

"Laki-laki itu menemuiku lagi."

"Siapa? Riziq?"

"Iya."

"Mau apa lagi sih dia. Belum puaskah dia menyiksamu selama ini?"

"Entahlah. Mungkin ini hukuman untukku. Hukuman karena telah menjalin hubungan dengan seseorang yang bukan mukhrimku. Allah menampakkan semua dampaknya dan akan ku terima itu semua."

"Mary...." Dia mulai menatapku nanar.

"Aku yang salah. Andai saja waktu itu aku bisa menahan perasaanku dan menolaknya menjadi sesuatu yang berarti dalam hidupku. Mungkin ceritanya tak sesakit ini." Sekarang suaraku mulai bergetar.

"Berhentilah mengandai-andai Maryam, seakan kau menyalahkan takdir Tuhan. Itu semua sudah kehendakNya. Ingatkah kau tentang surat Tā Hā ayat 50?"

"Ya. Aku ingat. Kalau tidak salah begini bunyinya 'Dia (Musa) menjawab : "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk."'Itu kan?"

"Ya. Setiap kejadian itu tidak ada yang kebetulan. Semuanya sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa."

"Tapi kenangan pahit itu seakan berputar kembali, Ay. Kau pun tau, bagaimana hancurnya aku saat dia tidak mengakui bahwa menjalin hubungan denganku? Dia menyangkal semua kenyataannya." Sekarang tangisku mulai pecah.

"Maryam...." Dia mencoba menenangkanku.

"Kau juga tau betapa susahnya aku untuk bangkit. Aku harus mengumpulkan tenagaku, hatiku, kepercayaanku dan setelah semua itu berhasil dia kembali dan merusaknya lagi." Kataku masih dalam tangis yang terisak.

Ayu menghampiriku sekarang, dia duduk dan mengelus pundakku. Aku masih saja dalam tangis. Kemudian dia berkata.

"Berarti saat ini Allah sedang mencintaimu. Ketika Allah mencintai seorang hamba dia akan menimpakan cobaan kepada hambaNya, dan jika kau bisa melewatinya dengan tetap berbuat baik dan tidak menyakiti siapa pun maka Ia akan mengangkat derajatmu."

Aku mulai bisa mengontrol emosiku setelah mendengar ucapannya. Tangisku mulai sedikit reda. Ayu pun beranjak dan mengambilkan teh hangat untukku. Tak lama berselang ada yang mengetuk pintu.

"Tok...tok..tokk."

"Sebentarr..." Kata Ayu sambil berteriak dari dapur.

"Tunggu, biar aku saja." Kata ku sambil beranjak dan berjalan menuju pintu.

"Assalamualaikum." Ujar orang itu ketika aku sudah membuka pintu.

"Waalaikumusalam, maaf cari siapa ya?" Kata ku bingung. Aku asing dengan orang itu karena orang itu bukan temanku atau teman Ayu. Sebelum aku mulai bertanya lagi, Fikri suami Ayu pun muncul.

"Oh.... Ken. Sudah aku tunggu dari tadi, mari silahkan masuk." Kata Fikri sambil mengandeng tangan Ken. Aku pun menyingkir dan mempersilahkannya masuk.

" Oh iya sampai lupa. Mary kenalkan ini Ken, dia temanku yang pilot, aku pernah menceritakannya padamu kan? Nah, Ken kenalkan ini Maryam, dia sahabat istriku yang sekarang sedang dinas di sini. Dia seorang penulis loh." Kata Fikri.

Aku hanya tersenyum tersipu mendengar ucapannya. Aku pun bergegas menghampiri Ayu yang sedang membuat teh.

"Maryam siapa yang datang, kayanya mas Fikri sampai turun juga ya?" Kata Ayu yang sedang mengaduk teh.

"Oh itu, temannya yang pilot."

"Oh si Ken. Iya memang dia teman mas Fikri sewaktu kuliah dulu."

"Lah bukannya Fikri itu kuliahnya Teknik Elektro, Ay?"

"Iya, jadi sewaktu semester satu Ken sempat satu kuliah sama mas Fikri. Ketika tau di terima di STPI dia pun hijrah kesana."

"Oh seperti itu."

"Yaudah yuk kedepan."

Aku dan Ayu pun melangkahkan kaki kami ke depan. Dengan membawa teh manis hangat dan beberapa kue kering.

"Wah ada tamu jauh, mari mari diminum dulu tehnya." Ucap Ayu ramah.

"Iya terima kasih Yu."

"Ken, tumben ke Bandung. Ada pekerjaan kah?"

"Oh enggak Yu. Kesini cuma mau jalan-jalan. Niatnya mau minta temani Fikri untuk jadi tourguide."

"Iya, dia memintaku menemani selama dia di Bandung, tapi sayangnya pekerjaanku gak mendukung. Jadi....." Kata Fikri yang mulai melirik kearahku. Perasaanku mulai tidak enak, pasti ada apa-apanya.

"Maryam kamu maukan sementara jadi tourguide-nya? Kamukan penulis artikel bebas. Mau ya Maryam." Katanya lagi yang sudah aku tebak akan seperti ini.

"Mas, Maryam kan sibuk." Kata Ayu yang mulai melirik Fikri.

"Gapapa Ay, jalan-jalannya sekalian buat ngambil foto buat artikel." Kataku.

"Tuh kan Maryam setuju Ay. Yaudah, mari diminum sebelum dingin tehnya." Kata Fikri.

"Mulai kapan saya menemani mas di Bandung?" Kata ku kepada Ken.

"Kalau besok gimana? Kamu bisa?"

"In shaa Allah bisa mas." Kataku dan kami semua pun menutup malam dengan teh serta perbincangan.

Sebagian orang percaya bahwa teh bisa merelaksasikan pikiran. Menjernihkannya dan menetramkan hati. Aku rasa iman dalam diri seseorang pun layaknya teh, menetramkan dan merelaksasi. Ketika kalut dan takut bergelayut dalam hati, hanya kepada Tuhan tempat kembali.

*to be continue

-Hana Larasati.

Sesuci Maryam

Temaram lampu di sekitaran jalan Asia-Afrika menjadi penerangku malam ini. Aku masih metap foto mu lekat. Satu-satunya foto yang aku punya.

Kau tersenyum manis di sana. Kau terlihat bahagia. Semoga kebahagiaanmu masih bertahta setelah dulu aku rengut dengan sengaja.

Aku tidak begitu paham bagaimana perasaan ini bermula. Aku merasa kau wanita pertama yang membuat aku merasa perasaan ini untuk pertama kalinya.

Rasanya ingin aku mengulang. Tapi ekspektasi itu terlalu tinggi rupanya. Kau benar-benar serius dengan ucapanmu. Kau pergi. Sebelum aku sempat mengemis dan memohon agar kau tetap di sini.

Sangat dalam lukamu itu sayang. Tidak sampai hati aku membayangkan bagaimana air mata mu berlinang dan nafasmu tersekat sangking sedihnya.

Sering aku menyesal kenapa kau harus mengenal aku. Kau mungkin bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik selainku. Yang bisa menjaga hatimu bukan mematahkannya sepertiku.

"Masih di pandang aja, Ziq." Suara itu memecahkan lamunanku.

"Iya."

"Rindu?"

"Mungkin."

"Gak mencoba untuk menghubungi?"

"Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya lagi."

"Jika dia perempuan baik dia pasti sudah memaafkanmu."

"Dia memang sudah memaafkanku. Mengikhlaskan pun juga iya. Tapi apa kau lupa tentang melupakan? Dia tidak akan pernah melupakannya."

"Sebegitu parahnya kah kau menyakitinya?"

"Sangat. Sangat parah."

"Terkadang memang maaf tidak pernah sepaket dengan lupa."

Ya sepertinya aku setuju dengan ucapannya. Maaf tidak pernah sepaket dengan lupa. Aku masih tengelam dengan pemikiranku. Fotomu masih menjadi fokusku. Tak peduli dengan ramainya hilir mudik orang yang berjalan di jalan Asia-Afrika atau  malam yang semakin kelabu.

"Sampai ketemu besok ya Maryam." Ujar seorang wanita.

Seketika aku menolehkan pandanganku. Fokusku beralih. Nama itu. Tapi ah tidak mungkin, nama Maryam banyak di kota Bandung ini. Sepertinya memang aku benar-benar rindu.

" Males ah ketemu kamu haha. Iya hati-hati di jalan ya." Ejek perempuan yang aku kenal betul suaranya. Dia mengenakan kerudung merah marun malam ini dengan baju terusan panjang warna hitam. Masih sama seperti 4 tahun yang lalu. Manis.

Dia lewat saja di depan ku. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku. Atau dia lupa denganku. Aku lebih suka dia melupakanku dari pada harus ingan tapi dengan kenangan pahit yang membuntuti.

"Maryam.. Woi Mary." Tak ku sangka Riza memanggilnya. Aku tertegun. Seketika dia menghentikan langkahnya. Dia menoleh dan menghampiri kami. Jantungku sudah tak aku mengerti bagaimana iramanya.

"Kamu Riza kan, teman SMA dulu?"

"Iya iya benar. Kalau sama dia masih ingat gak?" Kata Riza.

Dia pun mulai menoleh ke arah ku. Dia kaget sekali. Aku masih bisa melihat ada luka di mata beningnya ketika dia menatapku. Seakan melihat hantu, dia pun bergegas pergi tanpa mengucapkan salam.

"Kejar!" Bentak Riza.

"Aku tidak ingin melukainya."

"Karena sikapmu yang tidak ingin membuatnya terluka justru itu yang selama ini melukainya. "

"Aku takut."

"Dasar pengecut! Penjelasanmu yang ia butuhkan selama ini."

"Kejarlah! Kalau pun dia tidak percaya dengan ucapanmu setidaknya kamu sudah mengatakan hal yang benar."

Aku pun menuruti ucapan Riza. Aku buru-buru berlari mengejarnya. Sedikit sulit menemukannya di tengah keramaian kota Bandung. Hilir mudik orang yang lewat benar-benar menyulitkan aku untuk menemuinya.

Aku terus berjalan. Beharap bisa menemukan sosoknya. Lama tak aku temukan dia. Lelah dan pasrah mulai mengelayuti ku. Langkahku benar-benar tak tau arah sekarang.

Dia duduk menyendiri di pinggiran jalan. Tatapan matanya kosong. Aku berjalan mendekat. Dia pun menoleh. Seketika dia bangkit dan berjalan pergi.

"Aku mohon, sekali saja dengarkan aku." Kataku sambil memengang tas selempangnya.

"Lepas. Selagi aku memintanya dengan baik." Katanya dingin.

"Bukan maksudku meninggalkanmu tanpa kabar waktu itu."

"Kau selalu seperti itu."

"Aku hanya bercanda saat itu Maryam. "

"Kau pikir itu lucu? Hampir 3 jam aku mati beku menunggumu dalam dingin di puncak pangrango."

"Maafkan aku."

"Apa perlu waktu hingga 4 tahun untuk bilang maaf?"

" Berhentilah bersikap kejam bagai Hitler, Maryam."

"Kau pikir meninggalkan perempuan yang hampir mati beku itu bukan sikap yang kejam?" Dia murka. Aku diam.

Dia pun menghempaskan tanganku dari tasnya. Dia berjalan pergi. Aku tak kuasa lagi mengejarnya. Melihat sikapnya yang bahkan menatapku saja enggan membuatku makin sakit. Aku harus apa sekarang?

Aku duduk dengan luka yang semakin bertambah parah. Andai dia tau apa yang terjadi di sana waktu itu. Riza yang dari tadi mengintai kita, mulai berjalan menghampiriku.

"Kenapa kau katakan itu lagi padanya? Itu semakin membuatnya terluka. Jujurlah."

"Aku tidak kuat melihat ekspresinya jika dia tau kenyataannya."

"Kau selalu seperti itu."

"Jangan berbicara sepertinya."

"Hah, aku bingung harus dengan apa lagi menasehatimu."

"Maryam itu sensitif. Dia mudah terenyuh dan khawatir. Biarkan saja dia mengangap aku yang jahat."

"Setidaknya kalau kau jujur kalian bisa berbaikan. Saling berbincang, bergandengan...."

"Aku tidak pernah menyentuh Maryam. Walaupun hanya tangan."

"Are you sure? Lalu yang naik gunung waktu itu?"

"Kita tidak berdua saja. Dia memintaku menemaninya bersama kedua temannya. Karena itu adalah pengalaman pertamanya mendaki dan aku menghancurkanya. Semenjak saat itu dia tidak pernah mendaki lagi."

"Tapi itu bukan maumu. Jangan terus menyiksanya dengan kebohonganmu. Kata temanku lebih baik di sakiti dengan kejujuran dari pada di bahagiakan dengan kebohongan. Tapi kebohonganmu toh tidak membuatnya bahagia sedikit pun. Lalu apa maanfaatnya yang kau lakukan selama ini? Jika kejujuran dan kebohongan nilainya sama lebih baik kau jujur."

Aku terdiam mendengar ucapan Riza. Aku bingung harus bagaimana. Aku terus terpaku diam menatap bintang. Bintang itu kesukaanmu. Kau selalu tersenyum menatapnya, dan aku selalu tersenyum jika mengingat itu.

*to be continue

-Hana Larasati