Kamis, 09 Juni 2016

APA ITU IMSAK?

Imsak adalah penanda waktu sekitar sepuluh menit sebelum waktu fajar untuk memberitahukan supaya segera selesaikan makan sahur.

Imsak hanya dikenal di Asia Tenggara (Khususnya Indonesia), kemungkinan yang membuat ajaran Imsak ini berniat baik agar kita ada waktu untuk bersiap diri melaksanakan sholat dan mempersiapkan waktu terbitnya fajar.

Namun Islam yg diajarkan Rasulullah Saw sudah sempurna sehingga tidak perlu ditambah atau dikurangi. Akibatnya pada hari ini banyak umat menganggap batas akhir makan sahur adalah Imsak Sehingga menghilangkan Ajaran Rasulullah Saw yg

Sesungguhnya.
Dalilnya :
"Jika salah seorang dari Kamu Mendengar Adzan Sedangkan ia Masih Memegang Piring (Makanan), Maka Janganlah Ia Meletakkannya Hingga Ia Menyelesaikan Hajatnya (makannya).
[HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Hakim, dishahihkan oleh Adz Zahabi]

Ibnu Umar berkata, "Alqamah Bin Alatsah Pernah Bersama Rasulullah, Kemudian Datang Bilal akan mengumandangkan adzan, kemudian Rasulullah Saw Bersabda, "Tunggu sebentar wahai bilal..❗️, Alqamah sedang makan sahur".
[Hadist ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani]

"Dan Makan Dan Minumlah Kamu Hingga Terang Bagimu Benang Putih Dan Benang Hitam Yaitu Fajar". (QS Al Baqarah 2 : 187)

Jadi sahabatku,Batas Santap Sahur Adalah waktu fajar (saat adzan subuh/fajar), Bukan IMSAK.

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah". (QS Al Hasyr 59 : 7)
Mohon sebarkan pesan ini, agar tidak makin tersebar kesalahan dan kekeliruan di masyarakat, terutama keluarga kita dalam melaksanakan amalan di bulan Ramadhan..
بَارَكَ اللهُ فِيْك....

@dakwahislam

Kisah 70.000 Malaikat menghalangi matahari

Ada sebuah cerita yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA Disuatu pagi Rasulullah SAW berbarengan dengan sahabatnya Anas bin Malik RA saksikan satu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat sekian redup dan kurang bersinar seperti umumnya.

Selang beberapa saat Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril.

Lantas Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan pada Malaikat Jibril : “Wahai Jibril, mengapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Walaupun sesungguhnya tak mendung? ”

“Ya Rasulullah, Matahari ini tampak redup karena demikian banyak sayap sebagian malaikat yang menghalanginya. ” jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan lagi : “Wahai Jibril, berapakah jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini? ” “Ya Rasulullah, 70 ribu Malaikat. ” jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan lagi : “Apa sangkanya yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari? ”

Lantas Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT sudah mengutus 70 ribu Malaikat supaya membacakan shalawat pada satu di antara umatmu. ”

“Siapakah dia, wahai Jibril? ” ajukan pertanyaan Rasulullah SAW.

“Dialah Muawiyah…!!! ”jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan lagi : “Apa yang telah ditangani oleh Muawiyah hingga saat ia wafat dapatkan kemuliaan yang sekian mengagumkan ini? ”

Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sebenarnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al‐Ikhlas di saat malam, siang, pagi, saat duduk, saat jalan, waktu berdiri, bahkan juga dalam tiap-tiap keadaan selalu membaca Surat Al‐Ikhlas. ”

Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : “Dari itu Allah SWT mengutus sebagian 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat pada umatmu yang bernama Muawiyah itu. ”

Subhanallah, sungguh besar kekuasaan Allah SWT Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Silahkan LIKE&SHARE jika dirasa bermanfaat.....

cek juga IG instagram.com/dakwahislamid

Ada Cinta Di Papua

Inilah salah satu akhlak yang di ajarkan oleh agama manapun. Karna yang kutahu semua Agama mengajarkan cinta kasih sesama manusia, kelembutan, kesabaran.
Seperti dalam foto ini. Terlihat sebuah keharmonisan antara orang tua dan anak meski beda Agama.

Rudi kecil memilih memeluk agama Islam, sedang sang ayah beragama Keristen.
Meski beda agama keharmonisan Anak dan orangtua di Papua ini tidak sedikitpun menimbulkan sebuah masalah dalam kehidupan sehari".

Bahkan Rudi juga di izinkan oleh sang ayah untuk menimba ilmu di Pon Pes Al Payage.
Lihatlah betapa perbedaan suatu agama tidak menjadi sebuah sekat dalam keluarga. Rudi yang setiap hari mengaji, mendengar petuah" Kh Saiful Islam Al Payage di Pondok, mengerti betul pentingnya Akhlak terhadap orang tua meski berbeda Agama.

Saya jadi teringat sebuah kisah. Dimana dahulu ketika Kanjeng Rasulullah SAW mengakhiri salat subuh berjamaah dengan salam, lalu melakukan zikir bersama-sama dan selesai berdoa, Sahabat Umar bin Khaththab memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, mengapa hari ini salat Subuhmu tidak seperti biasanya?”

“Kenapa? Apa yang berbeda?” Tanya Nabi.

“Sangat lain, ya Rasulullah.
Biasanya engkau ruku dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi engkau ruku lama sekali. Mengapa?”

“Aku juga tidak tahu. Cuma tadi, pada saat aku sedang ruku dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun I’tidal.”

Umar semakin heran.
“Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasul?”

Nabi menggeleng ramah seraya berkata, “Aku juga belum tahu, karena Malaikat JIbril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan perkenan Allah SWT, beberapa waktu kemudian, Malaikat Jibril, berkata kepada Nabi SAW:

“Ya Muhammad. Aku tadi diperintahkan Allah SWT untuk menekan punggungmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapat kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agama-Nya secara bertanggung jawab, yaitu dengan menghormati seorang kakek tua beragama Yahudi. Dari penghormatannya itu sampai terpaksa dia berjalan pelan sekali. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak memperoleh peluang untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah bersama denganmu.”

Kenapa dengan Sahabat Ali?
Inilah kisahnya:

Pada hari itu Sahabat Ali bin Abi Thalib bergegas bangun untuk dapat mengerjakan shalat Subuh berjamaah seperti biasanya di masjid bersama Rasulullah SAW.

Langit masih amat gelap ketika Sahabat Ali keluar dari rumahnya dan berjalan tergesa-gesa menuju ke masjid.

Sahabat Bilal sudah memanggil-manggil dengan suara azannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru dan sudut-sudut kota Madinah.

Namun ketika Sahabat Ali bin Abi Thalib berada di jalan menuju tempat jamaah yang jaraknya masih cukup jauh, ternyata di depannya ada seorang kakek tua beragama Yahudi yang melangkah pelan sekali karena usianya yang telah lanjut (uzur).

Kakek itu berjalan tertatih-tatih.
Sahabar Ali sebenarnya sudah berusaha agar tidak ketinggalan mengerjakan salat tahiyatul masjid dan qab liyah Subuh sebelum bersama Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya melaksanakan jamaah.
Tapi, lantaran Nabi mengajarkan supaya setiap umat Islam menghormati orang tua, siapa pun orang tua itu dan apa pun agamanya, maka Sahabat Ali terpaksa berjalan di belakang kakek itu.

Karena si kakek berjaan amat lambat, Sahabat Ali pun melangkah sangat pelan. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya, takut kalau-kalau kakek Yahudi tersebut kena celaka atau terjatuh.
Akibatnya, ketika mendekati masjid langit sudah hampir kuning.

Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid dan tidak masuk ke dalamnya, sebab tempat ibadah agama Yahudi bukan di masjid. Sahabat Ali menyangka shalat Subuh pasti sudah usai. Namun ia tetap cepat-cepat masuk ke dalam masjid.

Alangkah herannya Sahabat Ali. Tahu-tahu Nabi dan para sahabat masih ruku pada rakaat yang kedua, berarti ia masih bisa mengerjakan shalat subuh berjamaah walaupun tertinggal rakaatnya.

Wallohu'alam

Silahkan LIKE&SHARE jika dirasa bermanfaat.....

cek juga IG instagram.com/dakwahislamid

Mr.Kumis

Dia menatapku lewat mata bulatnya. Meyakinkan aku bahwa tidak sedang baik-baik saja.

Kaos hijau toska yang berkibar di terpa angin sore membuatnya tampak gagah. Rambutnya masih sepundak dan berkumis tipis.

Belum pernah hatiku bergetar seperti ini lagi, di saat aku yakin pasti ada sesuatu yang tidak baik. Pipiku pun bersemburat merah seperti matahari sore ketika dia menatap ku lama.

Dia hanya tertawa mengejek rona merah pada pipiku dan menyentil keningku. Kebiasaan buruknya yang selalu aku cela.

"Kamu masih belum bisa move on?" Dia berdiri menatap lurus ke jalan. Entah kenapa kata-kata itu tiba-tiba muncul dari mulutnya.

"Manusia introvert yang gak peduli sama orang lain tumben nanya gitu?" Kataku yang duduk di pinggir gedung lantai 2 sambil mengoyang-goyangkan kaki.

"Bisa gak sih, kalo orang nanya itu di jawab jangan di tanya balik."

"Oke, Mr.Kumis oke."

"Kamu maunya aku jawab apa?" Lanjutku.

"Jujur."

"Sudah."

"Kenapa kamu masih menulis soal dia? Kamu masih sayang kan?"

"Hahaha. Apa Taylor Swift menulis lagu untuk Joe Jonas karena dia masih sayang?"

"Jangan sependek itulah pikiranmu." Kataku sambil melemparkan kertas ke arahnya.

"Semua yang di abadikan pastilah berarti." Katanya yang kembali menatap lurus ke jalan.

"Iya dia berarti. Dia membuat luka yang parah lebih dari siapa pun. Aku mengabadikannya supaya aku tau, bahwa aku jangan sampai kembali padanya."

Dia hanya tersenyum getir. Sepertinya dia masih saja tidak percaya dengan kata-kataku. Memang sulit meyakinkan hal ini, tapi jika dia cinta dia harus percaya.

"Aku hilang akal jika sudah membahas masa lalu mu Han."

"Kenapa? Dia sudah tertinggal jauh di belakang, apa yang perlu kau khawatirkan."

"Yang masih aku khawatirkan. Hatimu juga masih tertinggal di sana."

"Kalau hatiku masih disana. Bukan kamu yang aku pilih untuk menemaniku saat ini. Mungkin sekarang aku masih mengejar-ngejarnya."

"Aku ragu."

"Tapi selama ini kamu diam dan tidak protes?"

"Karena aku malas berdebat Han, aku pikir kamu akan paham dengan sendirinya."

"Jadi selama ini kau bermanin dengan dugaanmu saja?"

"Bukan dugaan tapi kenyataan."

"Bagaimana kau tau itu nyata, sedangkan aku sebagai objeknya menyangkalnya?"

Dia masih diam. Sepertinya dia marah. Aku bisa melihat perubahaan air mukanya.

"Kenapa kamu begini?"  Kataku.

"Kamu harusnya paham!" Dia meninggikan suaranya dari pada yang dia inginkan.

"Bagaimana bisa aku paham jika kamu tidak memberi tau. Allah tidak memberiku kemampuan telepati. Pikirkanlah."

Dia masih diam. Pertemuan laki-laki introvert dan perempuan tidak peka benar-benar bencana.

Dia mulai duduk di sampingku. Ikut mengoyang-goyangkan kaki menendang udara di balkon lantai 2 kampus.

"Aku merasa saat aku di sampingmu kau tidak ada di sana. Imajinasimu selalu menuntunmu pada masa lalumu. Itu selalu membuatku sakit."

"Tapi saat kau di sampingku. Aku tau masa lalu hanya sekedar imajinasi dan kau yang sekarang bersama ku di masa depan." Kataku sambil menatap wajahnya.

Mungkin aku tidak sepeka wanita pada umumnya. Tapi aku sadar, aku telah melukai hati laki-laki di sampingku yang selalu terlihat baik-baik saja.

Dia masih menatap jalan dan engan melihat wajahku. Sedikit geli dan takut. Aku mengenalnya sebagai laki-laki yang introvert dan tak peduli pada masalah orang lain.

Tapi kini dia duduk di sampingku sambil membicarakan masa laluku. Begitu serius hingga aku tak tahan untuk tidak tersenyum.

Dia tampaknya kesal. Aku pun mencoba bicara lagi padanya.

"Bukannya dulu pernah aku katakan padamu sebelum kau bilang kau mencintaiku. Aku tidak sama seperti wanita pada umumnya. Kau tidak akan pernah bisa menyentuhku walau sekedar tangan. Kita tidak akan bisa foto berdua seperti pasangan pada umumnya..."

"Aku terima itu." Katanya memutus perkataanku.

"Yang aku belum bisa terima kau masih mengenangnya. Hilangkan ingatanmu darinya."

"Kalau begitu kau harus membuatku kecelakaan parah supaya aku jadi amnesia. Manusia tidak bisa dengan sengaja menghilangkan ingatan. Kecuali kau memukulku keras dan ingatanku hilang." Kataku sambil sedikit tersenyum di ujung bibirku.

" Apa yang kamu takutkan? Aku mencintaimu. Apa itu masih kurang?" Lanjutku.

Akhirnya dia berani menatap wajahku. Dia tersenyum lebih ikhlas dari senyumnya yang sebelumnya.

"Aku hanya takut kau pergi Han."

"Haha aku bukan tipe orang yang mudah pindak kelain hati."

"Itu hanya teorimu."

Aku mengembungkan pipiku sebal.

"Sekarang aku yang bertanya." Kataku.

"Aku malas menjawabnya." Katanya sambil memasang muka meledek yang menyebalkan.

"Kenapa kamu memilih aku dari sekian banyak pilihan yang baik."

"Karena dari sekoan banyak pilihan yang baik itu. Kamu yang terbaik."

Muka ku bersemburat merah lagi. Dia senang jika aku seperti itu dan tak henti-hentinya mengejekku.

"Itu hanya teorimu." Kataku membalikan kata-katanya yang tadi.

"Kamu perempuan yang paling tidak peka, sembarangan, berantakan, apa adanya, dan menyebalkan. Itu yang membuat aku suka."

"Apa itu sebuah pujian?" Kata ku sambil mengerenyit.

"Yang paling penting. Kamu bisa merasakan perasaan orang lain. Ikut sedih saat orang lain sedih dan bahagia saat orang lain bahagia. Itu yang membuat manusia baik."

"Itu kata-kata di stand by me doraemon." Kataku mencela.

Aku terkekeh. Dia itu pendiam dan sangat aneh jika dia banyak bicara seperti ini. Entahlah kita pasangan paling aneh sedunia. Aku bahagia memilikinya.

M.F.G (Mr.Kumis)

-Hana Larasati

Selasa, 07 Juni 2016

Wanita Tidak Peka

Perjumpaan perempuan yang tidak peka dengan laki-laki yang pendiam adalah bencana. Adalah aku dan kamu.

Aku yang tak berbakat menerjemahkan keterdiaman. Aku terlalu lugu merasa bahwa semua baik baik saja. Aku yang punya keterampilan kurang memadai dalam mengerti apa yang ada di dalam hati.

Dan kamu yang batu atau patung tanpa ekspresi. Tak bergerak tak bersuara bahkan untuk sekedar berucap 'aduh' atau 'tidak'.

Karena kamu yang diam-diam hatinya terluka. Diam dalam sunyi untuk menyembunyikan kesedihan. Menyimpannya sendiri di tempat-tempat yang tak mungkin ku temui.

Karena aku wanita yang tidak peka.

Yang bisa-bisanya tertawa saat jiwamu merintih. Yang terus melangkah saat kau kelelahan dan tertinggal jauh di belakang.

Maafkan aku menjadi wanita yang tidak peka. Yang mungkin di matamu secara sengaja melubangi seluruh hatimu.

Tapi bisakah kau mulai belajar untuk tidak berteka-teki? Kau pun tau aku bukan wanita pencinta teka-teki. 

Maafkan aku menjadi wanita yang tidak peka.

Inspirasi tulisan : @azharnurunala

-Hana Larasati

Sabtu, 28 Mei 2016

Anna, Apa Kita Bersaudara?

Kereta Airku

"Mungkin kita akan tertatih di tengah perjalanan itu, tapi ingat selalu ada ganti untuk setiap hal yang kita lakukan walaupun itu hanya sebesar atom. "

Seminggu di Sumba terasa bagai setahun. Lokasi yang terletak di pedalaman dan di kelilingi pesisir serta bukit menyebabkan akses sinyal amat susah.

Mungkin jika aku mati di sini. Nyawaku lebih dulu sampai di akhirat sebelum jasadku di temukan.

Keseharian yang aku lakukan hanya mengajar dan mengajar. Terkadang untuk melepas penat aku dan Bella berkeliling kampung, memancing atau bermain air di pantai.

Siang itu ketika aku sedang mengajar bersama Fahri. Riffian memanggilku di depan pintu. Aku pun berjalan menujunya.

"An, ada yang mau ketemu kamu." Katanya. Dari dalam kelas aku tau Fahri mengamati kami.

"Siapa?"

"Aku gak tau. Laki-laki."

"Oh mungkin pak Ursula. Kemarin aku memesan sesuatu padanya."

"Bukan. Dia bukan orang lokal." Kata Riffian. Aku pun mengerutkan dahi dan berpikir.

"Dimana dia?"

"Di kantor An." Aku langsung berjalan menuju kantor dan Riffan pun membuntutiku dari belakang.

Sesampainya aku di kantor. Aku sedikit lupa dengan orang itu. Rambutnya sebahu, hitam manis dan mancung. Khas orang jawa.

"Selamat siang. Ada apa ya mencari saya?" Kata ku sopan.

"Anna, kamu gak banyak berubah."

"Maksud?" Aku mengtenyitkan dahi.

"Aku Radit, teman kuliahmu dulu."

"Astagfirullah, Raditya Bayu? Maaf maaf pangling gue. Apa kabar? " Kataku sambil menyalaminya.

"Baik. Jauh banget sampai ke sini Noy?"

"Iya nih panggilan alam." Kataku.

"Oh iya, sampai lupa. Dit kenalin ini Riffian. Dia temanku sewaktu SD yang sekarang mengajar di sini juga." Kataku sambil mengenalkan Riffian pada Radit. Riffian hanya tersenyum sopan dan Radit pun membalasnya.

"Yaudah An, aku tinggal ya." Kata Riffian

"Iya, makasih ya Rif." Kataku, dan Riffian pun berlalu pergi.

"Lu ngapain ke sini?" Kataku sambil duduk di sebelah Radit.

"Main aja." Jawabnya singkat.

"Dit, Jakarta Sumba jaraknya gak main-mainloh. Masa iye lu jauh-jauh cuma buat main?"

"Terus lu mau gua jawab apa?"

"Apa kek yang berkualitas."

"Hahaha."

"Hih malah ketawa." Aku pun mengrenyitkan dahi.

"Dari pada gua darah tinggi sendiri. Mending kita ketemu soulmate lu yuk. Si Fahri." Kata ku sambil beranjak dari tempat duduk.

"Fahri di sini?" Katanya yang ikut bangkit.

"Iya. Ayok." Kataku mengajaknya ke kelas tempat ku dan Fahri mengajar.

"Fahriii!!" Panggilku sambil menunjukan siapa yang datang.

Dia yang melihat kedatangan kami pun langsung berbicara pada murid-muridnya.

"Anak-anak kalian selesaikan soal yang bapak dan ibu Anna kasih ya di papan tulis."

Fahri sangat bersemangat menghampiri kita. Dia menuju kita dengan sedikit berlari. Fahri pun langsung memeluk dan memukul Radit.

"Nyukkkk... masih idup lu?" Kata Fahri sambil memeluk Radit.

"Ngana pikir?" Katanya dengan memasang muka yang menyebalkan khas Radit.

"Alhamdulillah, gua pikir gak bisa liat lu lagi. Eh lu kok bisa sampe sini?" Kata Fahri.

"Sial. Bisa lah gua kan punya kaki. Lah lu ngapain disini?"

"Ngajar, nemenin princess. Takut di ambil orang kalo gak di temenin." Katanya menggodaku.

"Dih males banget." Kataku sambil menunjukan ekspresi geli.

"Eh kalian, gua tinggal dulu ya.  Silahkan berkangen-kangenan deh lu." Kataku.

Aku pun pergi ke dalam kelas dan membiarkan mereka berbincang. Sudah lama juga mereka tak bertemu. Semenjak lulus kuliah Radit memisahkan diri dan sangat jarang bertemu dengan kita.

"Anak-anak bagaimana, ada yang ingin di tanyakan?" Kataku setelah sampai di kelas.

"Kakak guru, soal yang pak Fahri buat tentang kecepatan kereta e. Kami tidak bisa mengerjakannya, karena kami tidak pernah lihat bagaimana itu kereta." Kata salah satu murid kelas 6.

Aku pun berpikir -iya juga sih mana ada kereta di tempat ini.  Setelah lama berpikir akhirnya aku pun menemukan ide.

"Ayok kalian semua ikut kakak keluar."
Dalam satu kelas yang aku dan Fahri ajar, terdapat 15 murid dari tingkatan yang berbeda-beda. 4 orang anak kelas 4, 6 orang anak kelas 5 , dan 5 orang anak kelas 4.

Setelah aku memberikan perintah, kita pun ramai-ramai keluar kelas. Di dermaga ada sebuah perahu mesin dan sebuah sampan kecil tanpa mesin. Aku pun menggambil tali dan mengikat di ujung perahu dan ujung sampan itu.

"Ayo yang anak kelas 6 naik ke sampan. Dan kamu. Siapa nama kamu?"

" Nataniel kakak guru."

"Kamu ikut kakak naik perahu biar kakak bisa kasih penjelasan."

Setelah semuanya naik, dan mesin perahu di nyalakan aku pun mulai menjelaskan bagaimana cara menghitung kecepatan kereta.

"Emm... sepertinya ada yang kurang. Kereta itu mempunyai bunyi. Coba yang di atas sampan bunyikan suara kereta." Kataku kepada murid-muridku.

"E kakak guru tapi kita orang tidak tau suara kereta itu bagaimana e." Kata anak muridku.

"Iya juga sih melihatnya saja belum pernah bagaimana bisa tau suaranya." Kataku mengerutu dengan pelan.

"Oke.. kalau begitu. Kalian semua ikuti kakak ya. 'Tutttt.... Tutttt..'" kata ku kepada mereka.

"Tuttt....tutttt." Dan mereka semua pun mengikuti ucapanku. Perahu dan sampan kita pun berjalan beriringan berkat tali yang saling di kaitkan.

Ketika hampir di tengah aku pun menjelaskan bagaimana kerja kereta api itu. Kepada muridku.

"Jadi kita anggap karang itu stasiun B dan dermaga ini stasiun A. Nah jika jarak stasiun A ke Stasiun B 60Km sedang kan kecepatan kereta 40 km/jam maka berapa waktu tempuh yang kita perlukan?"

Nataniel hanya terdiam. Mungkin dia masih belum mengerti apa maksudku.

"Oke Nataniel, kakak ganti pertanyaannya. Apa yang kita cari dalam masalah ini?"

"Waktu yang di tempuh e kakak guru?"

"Nah tepat sekali. Lalu apa yang kita ketahui?"

"Jarak dan kecepatan keretanya kakak guru."

"Jika jarak yang kita tempuh di bagi dengan kecepatan kereta yang kita naiki. Maka berapa lama waktu tempuh yang kita butuhkan?"

"Emm... 1,5 jam kakak guru."

"Nahh!!!! Anak cerdas." Kata ku sambil mengelus kepalanya.

Aku pun berteriak pada anak-anak muridku yang di sampan.

"Sekarang kalian sudah mengerti kan bagaimana menghitung waktu tempuh?"

"Sudah kakak guruuu!!" Kata mereka serempak.

"Ayo sekarang kita putar balik ke tepi." Kata ku sambil menyungingkan senyum yang sumringah.

Ilmu itu tentang apa yang mau kita usahakan. Sesulit apa pun, seberat apa pun jika kita memiliki kemauan yang kuat untuk meraihnya maka akan selalu ada jalan.

Mungkin kita akan tertatih di tengah perjalanan itu, tapi ingat selalu ada ganti untuk setiap hal yang kita lakukan walaupun itu hanya sebesar atom.

Lewat senyum mereka aku menemukan bahagia. Sederhana bukan. Karena yang manis tidak selalu mahal.

To be continue

-Hana Larasati

Anna, Apa Kita Bersudara?

Jangan Buka Kotak Hitam Itu Lagi!

"Benar kita bersatu untuk ilmu. Jika jalan ini terasa berat, ingat rencana awal." -Bella Adviani

Senja di sini adalah salah satu senja terindah di bumi. Semburat cahaya yang berwarna jingga sangat cantik berpadu dengan kepakan sayap burung camar laut yang berterbangan kesana kemari.

Aku duduk di dermaga tua yang mulai keropos. Menikmati keindahan alam yang sudah tersaji. Dalam hati aku berujar "Fa bi'ayyi ala'i robbikuma tukazziban." Sungguh nikmat Tuhan manakah yang berani aku dustakan.

Dalam dekapan lamunan, tiba-tiba ada yang mengelus lembut pundakku. Aku sempat tersentak. Tapi ternyata itu Bella. Dia pun ikut duduk di sebelahku.

"Hari yang berat ya Han." Katanya

"Lumayan. Apa kamu merasakan itu juga?"

"Iya. Aku pikir mengajar itu semudah yang aku bayangkan, ternyata tidak."

"Aku pun begitu. Tapi Fahri bilang kalau kita sendiri saja tidak yakin, maka bagaimana kita bisa menyakinkan mereka."

"Benar Han."

Lama kita terdiam menatap senja. Tak ada kata yang keluar dari mulut kita. Entah terlalu asik menikmati senja, atau kita terlalu sibuk dengan pikiran kita masing-masing.

Tiba-tiba Bella mulai membuka pembicaraan. Tapi matanya masih menyorot ke depan.

"Han, apa aku boleh bertanya sesuatu?"

"E'hem. Tentu saja." Kataku

"Apa ada orang lain selain dia yang menjadi topik tulisanmu? Atau apa ada orang yang kamu suka?"

"Hahha. Ada. Akhir-akhir ini aku sering menulis tentang orang itu. Perasaan ini sudah lama. Tapi aku baru berani menuliskannya saat ini. Payah ya? Haha." Kataku tersipu.

"Orang itu bukan Riffian Rif'an kan?" Sekarang matanya mulai menatap ke arahku.

"Ada apa?"

"Tidak. Aku hanya bertanya?"

"Kenapa kamu setakut itu?" Sekarang aku mulai membalikan badanku ke arahnya.

"Tidak apa-apa."

"Orang itu bukan dia. Aku sudah sering bilang kepadamu bahwa aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya jadi kamu tidak perlu takut." Sekarang aku mulai bangkit dari tempat dudukku dan  berjalan menjauh darinya.

"Okey. " katanya yang samar-samar aku dengar dari jauh.

Aku berjalan dengan cepat menuju rumah tempat kami tinggal. Kerudungku berkibar meninggalkan wanita itu sendiri di dermaga.

Bukan marah, hanya kau tau kan saat sesuatu yang buruk dalam hidupmu berhasil kau tutup tiba-tiba di sangkut pautkan lagi dengan masa depanmu.

Aku hanya tidak mau membahasnya. Semua yang telah berlalu bagiku sudah tak usah lagi di singkap. Kita hidup untuk masa depan bukan untuk masa lalu.

Mungkin dulu kita sempat bersitegang karena sesuatu yang belum kita tau. Tapi itu dulu. Sekarang aku menyayangi Bella sama seperti aku menyayangi sahabat ku yang lain.

Dimataku dia selalu sama, gadis cerdas dan periang. Dia bisa melengkapi kekuranganku dari segi ilmu. Tapi jangan tanyakan masa laluku. Aku cukup sulit untuk bangkit dan menutupnya rapat-rapat.

Aku pun menutup rapat pintu kamar. Tiba-tiba ada yang mengetuknya dengan lembut.

"Han.. boleh aku masuk."

"Iya silahkan."

"Maafkan aku." Katanya sambil menundukan wajahnya.

"Tidak ada yang harus di maafkan. Karena tidak ada yang salah." Kataku mencoba tersenyum ke arahnya.

"Aku hanya..."

"Aku tau kau takut. Karena kau terlalu menyayanginya. Sudahlah." Aku mulai mengelus pundaknya dan dia pun memelukku.

"Masih banyak yang harus kita kerjakan. Anak-anak itu butuh kita untuk mempercayai mimpinya. Tinggal kau yang harus percaya padaku. Apa kau percaya? " kataku.

"Iya."

"Aku dan anak-anak itu butuh ibu guru cerdas sepertimu. "

"Iya tapi aku takut ini akan terlalu berat." Katanya.

"Sudah telat untuk takut. Kita sudah ada di sini. Saatnya kita berjuang."

"Benar kita bersatu untuk ilmu. Jika jalan ini terasa berat, ingat rencana awal." Dan kita pun tertawa bersama.

Itulah sahabat. Bukan berapa lama kau mengenalnya, atau seberapa sering kau bersamanya. Tapi bagaimana kau bisa saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

Tak peduli bagaimana kelamnya masa lalu kita atau apa yang terjadi sebelumnya. Sekarang Allah menakdirkan kita bersama dalam satu perahu yang sama. Anak-anak itu butuh kita dan kita pun butuh mereka untuk membangun generasi yang lebih baik.

To be continue

-Hana Larasati