Rabu, 15 Juni 2016

Aku hanya mendengar gema, yang berbisik lirih merasuk ke hati. Tangismu. Iya tangismu ada di sana. Tersembunyi di balik sudut mata yang terlihat baik-baik saja.

Ketika kau mengusirku pergi. Aku lihat dengan jelas guratan penyesalan di sudut mata beningmu. Dan kau harusnya tau sudut matamu tak pandai berbohong seperti lidahmu.

Bias itu, mengisyaratkan aku untuk menetap dan jangan pernah menghilang. Tapi seperti ada tekanan yang membuncah di ronga-ronga rusukmu. Kau tertekan Tuan!

Baiklah jika kau ingin aku pergi. Tapi aku pergi bukan terusir. Aku sudah lama berkemas hanya kau saja yang tidak tau bahwa hatiku sudah lama hijrah.

Jangan khawatir. Kau bukan lagi prioritasku jadi kau bukan urusanku. Dan segala hal yang menyangkut dirimu bukan menjadi topikku.

Satu pertanyaan ku. Bahagiamu di sana bukan semu seperti fatamorganakan?

*cerita hanya fiktif dan jangan baper!!!

*Hana Larasati

Senin, 13 Juni 2016

TISARIANA

12 tahun dalam satu hari. Tidak ada yang berubah dari ukhuwah kami. Selalu terikat kuat karena cinta Ilahi.

9 Agustus 2004 kami membuat sepakat. Tak terpikir hari ini akan semakin kuat. Cinta, pengertian, kasih sayang, selalu tercurah dalam rahmat Tuhan.

Kita tertawa tanpa jeda. Pembicaraan kali agak berbeda. Jika 12 tahun yang lalu kita hanya berbincang soal sekolah, kali ini kita berbincang tentang dunia dan rencana.

Sebuah ikatan yang di restui Ilahi. Tak akan luntur hanya karena ego diri. Semoga semakin kuat dan terikat. Bukan hanya di dunia tapi sampai di akhirat. Aamiin.

Kamis, 09 Juni 2016

APA ITU IMSAK?

Imsak adalah penanda waktu sekitar sepuluh menit sebelum waktu fajar untuk memberitahukan supaya segera selesaikan makan sahur.

Imsak hanya dikenal di Asia Tenggara (Khususnya Indonesia), kemungkinan yang membuat ajaran Imsak ini berniat baik agar kita ada waktu untuk bersiap diri melaksanakan sholat dan mempersiapkan waktu terbitnya fajar.

Namun Islam yg diajarkan Rasulullah Saw sudah sempurna sehingga tidak perlu ditambah atau dikurangi. Akibatnya pada hari ini banyak umat menganggap batas akhir makan sahur adalah Imsak Sehingga menghilangkan Ajaran Rasulullah Saw yg

Sesungguhnya.
Dalilnya :
"Jika salah seorang dari Kamu Mendengar Adzan Sedangkan ia Masih Memegang Piring (Makanan), Maka Janganlah Ia Meletakkannya Hingga Ia Menyelesaikan Hajatnya (makannya).
[HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Hakim, dishahihkan oleh Adz Zahabi]

Ibnu Umar berkata, "Alqamah Bin Alatsah Pernah Bersama Rasulullah, Kemudian Datang Bilal akan mengumandangkan adzan, kemudian Rasulullah Saw Bersabda, "Tunggu sebentar wahai bilal..❗️, Alqamah sedang makan sahur".
[Hadist ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani]

"Dan Makan Dan Minumlah Kamu Hingga Terang Bagimu Benang Putih Dan Benang Hitam Yaitu Fajar". (QS Al Baqarah 2 : 187)

Jadi sahabatku,Batas Santap Sahur Adalah waktu fajar (saat adzan subuh/fajar), Bukan IMSAK.

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah". (QS Al Hasyr 59 : 7)
Mohon sebarkan pesan ini, agar tidak makin tersebar kesalahan dan kekeliruan di masyarakat, terutama keluarga kita dalam melaksanakan amalan di bulan Ramadhan..
بَارَكَ اللهُ فِيْك....

@dakwahislam

Kisah 70.000 Malaikat menghalangi matahari

Ada sebuah cerita yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA Disuatu pagi Rasulullah SAW berbarengan dengan sahabatnya Anas bin Malik RA saksikan satu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat sekian redup dan kurang bersinar seperti umumnya.

Selang beberapa saat Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril.

Lantas Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan pada Malaikat Jibril : “Wahai Jibril, mengapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Walaupun sesungguhnya tak mendung? ”

“Ya Rasulullah, Matahari ini tampak redup karena demikian banyak sayap sebagian malaikat yang menghalanginya. ” jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan lagi : “Wahai Jibril, berapakah jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini? ” “Ya Rasulullah, 70 ribu Malaikat. ” jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan lagi : “Apa sangkanya yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari? ”

Lantas Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT sudah mengutus 70 ribu Malaikat supaya membacakan shalawat pada satu di antara umatmu. ”

“Siapakah dia, wahai Jibril? ” ajukan pertanyaan Rasulullah SAW.

“Dialah Muawiyah…!!! ”jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW kemukakan pertanyaan lagi : “Apa yang telah ditangani oleh Muawiyah hingga saat ia wafat dapatkan kemuliaan yang sekian mengagumkan ini? ”

Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sebenarnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al‐Ikhlas di saat malam, siang, pagi, saat duduk, saat jalan, waktu berdiri, bahkan juga dalam tiap-tiap keadaan selalu membaca Surat Al‐Ikhlas. ”

Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : “Dari itu Allah SWT mengutus sebagian 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat pada umatmu yang bernama Muawiyah itu. ”

Subhanallah, sungguh besar kekuasaan Allah SWT Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Silahkan LIKE&SHARE jika dirasa bermanfaat.....

cek juga IG instagram.com/dakwahislamid

Ada Cinta Di Papua

Inilah salah satu akhlak yang di ajarkan oleh agama manapun. Karna yang kutahu semua Agama mengajarkan cinta kasih sesama manusia, kelembutan, kesabaran.
Seperti dalam foto ini. Terlihat sebuah keharmonisan antara orang tua dan anak meski beda Agama.

Rudi kecil memilih memeluk agama Islam, sedang sang ayah beragama Keristen.
Meski beda agama keharmonisan Anak dan orangtua di Papua ini tidak sedikitpun menimbulkan sebuah masalah dalam kehidupan sehari".

Bahkan Rudi juga di izinkan oleh sang ayah untuk menimba ilmu di Pon Pes Al Payage.
Lihatlah betapa perbedaan suatu agama tidak menjadi sebuah sekat dalam keluarga. Rudi yang setiap hari mengaji, mendengar petuah" Kh Saiful Islam Al Payage di Pondok, mengerti betul pentingnya Akhlak terhadap orang tua meski berbeda Agama.

Saya jadi teringat sebuah kisah. Dimana dahulu ketika Kanjeng Rasulullah SAW mengakhiri salat subuh berjamaah dengan salam, lalu melakukan zikir bersama-sama dan selesai berdoa, Sahabat Umar bin Khaththab memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, mengapa hari ini salat Subuhmu tidak seperti biasanya?”

“Kenapa? Apa yang berbeda?” Tanya Nabi.

“Sangat lain, ya Rasulullah.
Biasanya engkau ruku dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi engkau ruku lama sekali. Mengapa?”

“Aku juga tidak tahu. Cuma tadi, pada saat aku sedang ruku dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun I’tidal.”

Umar semakin heran.
“Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasul?”

Nabi menggeleng ramah seraya berkata, “Aku juga belum tahu, karena Malaikat JIbril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan perkenan Allah SWT, beberapa waktu kemudian, Malaikat Jibril, berkata kepada Nabi SAW:

“Ya Muhammad. Aku tadi diperintahkan Allah SWT untuk menekan punggungmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapat kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agama-Nya secara bertanggung jawab, yaitu dengan menghormati seorang kakek tua beragama Yahudi. Dari penghormatannya itu sampai terpaksa dia berjalan pelan sekali. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak memperoleh peluang untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah bersama denganmu.”

Kenapa dengan Sahabat Ali?
Inilah kisahnya:

Pada hari itu Sahabat Ali bin Abi Thalib bergegas bangun untuk dapat mengerjakan shalat Subuh berjamaah seperti biasanya di masjid bersama Rasulullah SAW.

Langit masih amat gelap ketika Sahabat Ali keluar dari rumahnya dan berjalan tergesa-gesa menuju ke masjid.

Sahabat Bilal sudah memanggil-manggil dengan suara azannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru dan sudut-sudut kota Madinah.

Namun ketika Sahabat Ali bin Abi Thalib berada di jalan menuju tempat jamaah yang jaraknya masih cukup jauh, ternyata di depannya ada seorang kakek tua beragama Yahudi yang melangkah pelan sekali karena usianya yang telah lanjut (uzur).

Kakek itu berjalan tertatih-tatih.
Sahabar Ali sebenarnya sudah berusaha agar tidak ketinggalan mengerjakan salat tahiyatul masjid dan qab liyah Subuh sebelum bersama Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya melaksanakan jamaah.
Tapi, lantaran Nabi mengajarkan supaya setiap umat Islam menghormati orang tua, siapa pun orang tua itu dan apa pun agamanya, maka Sahabat Ali terpaksa berjalan di belakang kakek itu.

Karena si kakek berjaan amat lambat, Sahabat Ali pun melangkah sangat pelan. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya, takut kalau-kalau kakek Yahudi tersebut kena celaka atau terjatuh.
Akibatnya, ketika mendekati masjid langit sudah hampir kuning.

Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid dan tidak masuk ke dalamnya, sebab tempat ibadah agama Yahudi bukan di masjid. Sahabat Ali menyangka shalat Subuh pasti sudah usai. Namun ia tetap cepat-cepat masuk ke dalam masjid.

Alangkah herannya Sahabat Ali. Tahu-tahu Nabi dan para sahabat masih ruku pada rakaat yang kedua, berarti ia masih bisa mengerjakan shalat subuh berjamaah walaupun tertinggal rakaatnya.

Wallohu'alam

Silahkan LIKE&SHARE jika dirasa bermanfaat.....

cek juga IG instagram.com/dakwahislamid

Mr.Kumis

Dia menatapku lewat mata bulatnya. Meyakinkan aku bahwa tidak sedang baik-baik saja.

Kaos hijau toska yang berkibar di terpa angin sore membuatnya tampak gagah. Rambutnya masih sepundak dan berkumis tipis.

Belum pernah hatiku bergetar seperti ini lagi, di saat aku yakin pasti ada sesuatu yang tidak baik. Pipiku pun bersemburat merah seperti matahari sore ketika dia menatap ku lama.

Dia hanya tertawa mengejek rona merah pada pipiku dan menyentil keningku. Kebiasaan buruknya yang selalu aku cela.

"Kamu masih belum bisa move on?" Dia berdiri menatap lurus ke jalan. Entah kenapa kata-kata itu tiba-tiba muncul dari mulutnya.

"Manusia introvert yang gak peduli sama orang lain tumben nanya gitu?" Kataku yang duduk di pinggir gedung lantai 2 sambil mengoyang-goyangkan kaki.

"Bisa gak sih, kalo orang nanya itu di jawab jangan di tanya balik."

"Oke, Mr.Kumis oke."

"Kamu maunya aku jawab apa?" Lanjutku.

"Jujur."

"Sudah."

"Kenapa kamu masih menulis soal dia? Kamu masih sayang kan?"

"Hahaha. Apa Taylor Swift menulis lagu untuk Joe Jonas karena dia masih sayang?"

"Jangan sependek itulah pikiranmu." Kataku sambil melemparkan kertas ke arahnya.

"Semua yang di abadikan pastilah berarti." Katanya yang kembali menatap lurus ke jalan.

"Iya dia berarti. Dia membuat luka yang parah lebih dari siapa pun. Aku mengabadikannya supaya aku tau, bahwa aku jangan sampai kembali padanya."

Dia hanya tersenyum getir. Sepertinya dia masih saja tidak percaya dengan kata-kataku. Memang sulit meyakinkan hal ini, tapi jika dia cinta dia harus percaya.

"Aku hilang akal jika sudah membahas masa lalu mu Han."

"Kenapa? Dia sudah tertinggal jauh di belakang, apa yang perlu kau khawatirkan."

"Yang masih aku khawatirkan. Hatimu juga masih tertinggal di sana."

"Kalau hatiku masih disana. Bukan kamu yang aku pilih untuk menemaniku saat ini. Mungkin sekarang aku masih mengejar-ngejarnya."

"Aku ragu."

"Tapi selama ini kamu diam dan tidak protes?"

"Karena aku malas berdebat Han, aku pikir kamu akan paham dengan sendirinya."

"Jadi selama ini kau bermanin dengan dugaanmu saja?"

"Bukan dugaan tapi kenyataan."

"Bagaimana kau tau itu nyata, sedangkan aku sebagai objeknya menyangkalnya?"

Dia masih diam. Sepertinya dia marah. Aku bisa melihat perubahaan air mukanya.

"Kenapa kamu begini?"  Kataku.

"Kamu harusnya paham!" Dia meninggikan suaranya dari pada yang dia inginkan.

"Bagaimana bisa aku paham jika kamu tidak memberi tau. Allah tidak memberiku kemampuan telepati. Pikirkanlah."

Dia masih diam. Pertemuan laki-laki introvert dan perempuan tidak peka benar-benar bencana.

Dia mulai duduk di sampingku. Ikut mengoyang-goyangkan kaki menendang udara di balkon lantai 2 kampus.

"Aku merasa saat aku di sampingmu kau tidak ada di sana. Imajinasimu selalu menuntunmu pada masa lalumu. Itu selalu membuatku sakit."

"Tapi saat kau di sampingku. Aku tau masa lalu hanya sekedar imajinasi dan kau yang sekarang bersama ku di masa depan." Kataku sambil menatap wajahnya.

Mungkin aku tidak sepeka wanita pada umumnya. Tapi aku sadar, aku telah melukai hati laki-laki di sampingku yang selalu terlihat baik-baik saja.

Dia masih menatap jalan dan engan melihat wajahku. Sedikit geli dan takut. Aku mengenalnya sebagai laki-laki yang introvert dan tak peduli pada masalah orang lain.

Tapi kini dia duduk di sampingku sambil membicarakan masa laluku. Begitu serius hingga aku tak tahan untuk tidak tersenyum.

Dia tampaknya kesal. Aku pun mencoba bicara lagi padanya.

"Bukannya dulu pernah aku katakan padamu sebelum kau bilang kau mencintaiku. Aku tidak sama seperti wanita pada umumnya. Kau tidak akan pernah bisa menyentuhku walau sekedar tangan. Kita tidak akan bisa foto berdua seperti pasangan pada umumnya..."

"Aku terima itu." Katanya memutus perkataanku.

"Yang aku belum bisa terima kau masih mengenangnya. Hilangkan ingatanmu darinya."

"Kalau begitu kau harus membuatku kecelakaan parah supaya aku jadi amnesia. Manusia tidak bisa dengan sengaja menghilangkan ingatan. Kecuali kau memukulku keras dan ingatanku hilang." Kataku sambil sedikit tersenyum di ujung bibirku.

" Apa yang kamu takutkan? Aku mencintaimu. Apa itu masih kurang?" Lanjutku.

Akhirnya dia berani menatap wajahku. Dia tersenyum lebih ikhlas dari senyumnya yang sebelumnya.

"Aku hanya takut kau pergi Han."

"Haha aku bukan tipe orang yang mudah pindak kelain hati."

"Itu hanya teorimu."

Aku mengembungkan pipiku sebal.

"Sekarang aku yang bertanya." Kataku.

"Aku malas menjawabnya." Katanya sambil memasang muka meledek yang menyebalkan.

"Kenapa kamu memilih aku dari sekian banyak pilihan yang baik."

"Karena dari sekoan banyak pilihan yang baik itu. Kamu yang terbaik."

Muka ku bersemburat merah lagi. Dia senang jika aku seperti itu dan tak henti-hentinya mengejekku.

"Itu hanya teorimu." Kataku membalikan kata-katanya yang tadi.

"Kamu perempuan yang paling tidak peka, sembarangan, berantakan, apa adanya, dan menyebalkan. Itu yang membuat aku suka."

"Apa itu sebuah pujian?" Kata ku sambil mengerenyit.

"Yang paling penting. Kamu bisa merasakan perasaan orang lain. Ikut sedih saat orang lain sedih dan bahagia saat orang lain bahagia. Itu yang membuat manusia baik."

"Itu kata-kata di stand by me doraemon." Kataku mencela.

Aku terkekeh. Dia itu pendiam dan sangat aneh jika dia banyak bicara seperti ini. Entahlah kita pasangan paling aneh sedunia. Aku bahagia memilikinya.

M.F.G (Mr.Kumis)

-Hana Larasati

Selasa, 07 Juni 2016

Wanita Tidak Peka

Perjumpaan perempuan yang tidak peka dengan laki-laki yang pendiam adalah bencana. Adalah aku dan kamu.

Aku yang tak berbakat menerjemahkan keterdiaman. Aku terlalu lugu merasa bahwa semua baik baik saja. Aku yang punya keterampilan kurang memadai dalam mengerti apa yang ada di dalam hati.

Dan kamu yang batu atau patung tanpa ekspresi. Tak bergerak tak bersuara bahkan untuk sekedar berucap 'aduh' atau 'tidak'.

Karena kamu yang diam-diam hatinya terluka. Diam dalam sunyi untuk menyembunyikan kesedihan. Menyimpannya sendiri di tempat-tempat yang tak mungkin ku temui.

Karena aku wanita yang tidak peka.

Yang bisa-bisanya tertawa saat jiwamu merintih. Yang terus melangkah saat kau kelelahan dan tertinggal jauh di belakang.

Maafkan aku menjadi wanita yang tidak peka. Yang mungkin di matamu secara sengaja melubangi seluruh hatimu.

Tapi bisakah kau mulai belajar untuk tidak berteka-teki? Kau pun tau aku bukan wanita pencinta teka-teki. 

Maafkan aku menjadi wanita yang tidak peka.

Inspirasi tulisan : @azharnurunala

-Hana Larasati