Selasa, 23 Agustus 2016

Niat

Kebanyakan orang berubah berawal dengan niat yang salah. Tapi seiring berjalannya waktu Allah yang akan meluruskan niatmu.

Tanamkan dalam diri pertanyaan-pertanyaan sederhana. Kenapa saya melakukan ini? Apa yang mendasari saya melakukan ini? Dan saya melakukan ini untuk siapa? Lalu tarik garis lurus jawaban menuju Allah.

Semoga berkah.

-Hananing S. Larasati

Minggu, 21 Agustus 2016

Mentari

Mentari, kau tau manusia ajaib di bumi? Ayo, tebaklah.

Superman? Oh tidak dia tidak nyata. Yang lebih realistis lah. Presiden? Dia ajaib karena kekuasaannya. Tanpa kekuasaan hidupnya sama seperti kita.

Kau menyerah? Huu, kau payah. Manusia ajaib di bumi adalah ibu! Kau tau kenapa?

Coba bayangkan. Seorang ibu bisa melakukan berbagai hal dalam satu waktu. Nyuci baju, goreng tempe, menyiapkan sayuran dalam waktu yang sama.

Belum lagi, gosok pakaian, jaga anak, dan menyuapinya dalam satu waktu juga.

Tak akan pernah habis pekerjaan seorang ibu demi mengurus anak-anak dan suaminya.

Tidak seperti orang kerja. Ibu tidak punya hari libur. Yang dia punya hanya hari sibuk dan sibuk banget.

Kau tau mentari, itu sebabnya Rasulullah menyebutnya hingga 3 kali ketika sahabat bertanya siapa yang harus di hormati.

Dia itu, orang yang kalau dekat bikin nyaman dan kalau jauh tetap menjamin rasa aman.

Tidak ada habisnya jika menulis soal malaikat tak bersayap itu. Tapi terkadang aku sedih karena banyak janji yang belum bisa di tepati.

Semoga ibumu, ibuku, dan semua ibu yang ada di dunia selalu sehat sentosa dan sejahtera. Semoga kita anak-anaknya bisa membahagiakannya. Aamiin.

-Hana Larasati

Menyambut Fajar dengan Berseri

Hai, Fajar. Sinarmu pagi ini sangat hangat. Memecah dinginnya embun yang menerpa wajah.

Kau tau sesuatu? Hati ku sedang berseri hari ini. Malam ini aku melihat sesuatu yang mengetarkan hatiku.

Kau tau? Dia sepaham denganku. Selain rumah yang menjamin rasa aman, laki-laki yang takut akan Tuhan itu benar-benar menyejukan.

Dia bilang, "Bukan cinta namanya jika mengajakmu pacaran. Sebab cinta tak akan rela membawa orang yang dia cinta kepada murka Allah. Jika kau mencintai seseorang tahanlah dengan berpuasa dan perbanyak berdoa."

Aku sadar jika akhir-akhir ini aku sudah keterlaluan memaknai cinta dan melupakan cintaNya.

Kau tau fajar, saat bersujud hanya ada perasaan lega. Karena aku tidak salah mencintai seseorang.

Tidak ada yang lebih menyenangkan di banding, bahwa kau tau kecintaanmu ternyata dalam satu perjalanan menuju surga.

Demi Allah tidak ada yang lebih melegakan dibanding perasaan ini. YaAllah yang maha pembolak balikan hati teguhkanlah hati ini, hatinya dan hati para kaum muslimin pada tali agamaMu. Aamiin.

-Hana Larasati

Hujan yang Iri

Hujan, kau tau? Jika saja rintikmu tak membuat aku basah mungkin sekarang aku sedang berlari dan hujan-hujanan.

Kau adalah rahmat, sama seperti mereka, hujan. Orang-orang di balik layarku yang pernah aku tulis di sini.

Mereka semua mengagumkan, hujan. Dengan berbagai hal menakjubkan yang mereka tunjukan padaku.

Tidak berlebihan jika aku menyayangi mereka. Karena selama di samping mereka aku selalu merasa di sayang.

Tuhan selalu membuat aku tertawa atau sekedar nyengir saat ada di lingkungan mereka.

Karena rasanya Tuhan selalu dekat denganku. Bagaimana tidak, mereka itu selalu membuatku dekat dengan Tuhan.

Hujan, jangan iri. Kau juga punya teman baik. Angin dan awan.

Kadang yang baik itu tidak terlihat. Tapi bisa di rasakan. Oleh hati. 😊

-Hana Larasati

Sabtu, 20 Agustus 2016

Web

Hari itu, hari selasa. Langit tidak sendu. Dia cerah. Secerah jadwalku di hari itu.

Mata pelajaran saat itu pemrograman Web. Aku suka pelajaan itu. Lebih tepatnya aku suka pengajarnya.

Namanya pak Maulana. Tapi kami lebih sering memanggilnya pak Maul. Tanpa persetujuannya tentunya.

Aku selalu merasa rugi jika tertinggal satu detik saja pelajarannya.

Pak maul orang yang baik. Cara mengajarnya pun mengasikan dan tidak membosankan.

Pagi itu, tiba-tiba datang segerombolan siswa ke kelasku. Aku tau siapa saja mereka dan salah satunya ada dia.

"Ada apa ini?" Kata pak Maul.

"Kita boleh ikut pelajaran bapak? Dosen jam kuliah pertama gak masuk pak."

"Enggak. Rame gak kondusif kelasnya."

Sebagian dari mereka pun keluar. Hanya tersisa tiga orang. Salah satunya tentu kalian bisa menebak.

Pak Maul langsung mengarahkan matanya pada pemuda berkaos hijau toska dan berambut sebahu itu.

"Kamu ngapain?"

"Bertiga doang pak. Boleh ya."

"Enggak. Dari pada gak saya absen mau?" Katanya.

Dia pun keluar dengan terpaksa. Aku hanya terkikik menatap pungungnya.

Saat jam istirahat aku menghampirinya yang sedang duduk di tangga dengan laptopnya.

"Hei."

"Hai."

"Ngapain?"

"Ngerjain web."

"Bukannya tugas buat minggu depan ya?"

"Iya. Dikerjain sekarang biar nanti gak panik."

"Hahaha. Tadi kenapa tumben nurut sama dosen?"

"Pak Maul itu baik."

"Iya aku tau."

"Dia itu dosen yang selain suka ngomongin Pemrograman Web. Dia juga suka ngomongin kenaikan harga kangkung."

"Enggak ih. Ngasal. Hahah."

"Hahaha."

"Aneh aja liat kamu nurut."

"Pak mau itu baik. Jadi aku takut nyakitin."

"Gaya."

"Sama kaya kamu."

"Oh my God. Jangan lagi gombalnyaaaa."

"Belajar dong bedain mana gombal mana kenyataan."

"Hahaha aamiin."

Kau tau. Dia itu pandai dan rajin. Tapi sebagian orang menilainya beda. Karena tampilannya mungkin.

Dia bisa menghargai jika dinhargai. Bisa menyayangi jika di sayangi. Bisa jahat juga, kalau di jahati.

-Hana Larasati

Jatuh

Bintang, aku baru dapat kabar dia jatuh dari motornya.

Seketika aku panik. Walau pun dia bukan siapa-siapaku. Tetap saja aku panik karena dia orang terdekatku.

Akhirnya untuk sedikit melegakan perasaan aku telpon saja dia. Sekedar bertanya kabarnya.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumusalama, ini siapa ya?"

"Aku, Hana heh!"

" Hananing."

"Hana? Hana mana? Gak ada orangnya suaranya doang." Katanya seperti bertanya pada diri sendiri.

"Heh serius!"

"Jangan serius-serius." Katanya menenangkan.

Aku semakin sebal dengan jawabannya. Dia selalu begitu.

"Biar aku tebak." Katanya seperti orang yang sedang main kuis.

"Apa?"

"Kamu, orangnnya cantik kan."

"Makasih."

"Matanya bagus kan."

"Hahaha."

"Sekarang lagi pakai baju biru."

"Salahhhh!"

"Di jadwalnya hari ini pakai baju biru."

"Ngaco. Hahah."

"Tapi di jadwal tulisannya gitu. Apa mau ganti baju dulu?"

"Gak mauu." Kataku tertawa.

Aku sampai lupa tujuanku tadi. Jadi aku kembali pada tujuan awal.

"Kamu jatuh dari motor ya?" Kataku langsung.

"Jatuh cinta aku mah."

"Serius ih."

"Iya. Tapi gapapa. Jangan khawatir."

"Aku gak khawatir cuma mau tau aja."

"Kaki ku patah sih."

"Tuh kan. Pasti parah jatohnya. Gimana sih. Makanya hati-hati. Kamu mah ih gak sayang badan banget."

"Katanya gak khawatir."

"Emang enggak. Cuma ngasih tau aja."

"Kamu." Seraya mengeja.

"Gak bakat bohong hahaha." Lanjutnya sambil tertawa.

Aku juga ikut tertawa.

"Tapi beneran patah?"

"Enggak. Bohong."

"Hih aku pikir bener."

"Enggaklah. Eh kamu lagi ngapain."

"Gak ngapa-ngapain. Kamu?"

"Aku lagi nangkepin nyamuk nih. Dapet dua. Kamu mau gak?"

"Enggak ah. Nyamuk di sini juga banyak."

"Tapi nyamuk di sini beda. Preman-preman semua. Pada mabok-mabokan. Habis di kasih obat sama mama aku."

"Mama aku tuh baik orangnnya. Nyamuk aja di kasih obat. Dia yang beliin lagi. Kalo anaknya mah suruh beli sendiri ke warung."

Aku hanya tertawa.

"Kamu gila." Kataku.

"Yang penting kamu bahagia." Katanya lembut.

"Makasih."

"Buat?"

"Bikin aku bahagia."

"Tugas aku."

Lalu aku pun bilang ke dia.

"Eh aku besok mau pergi."

"Kemana?"

"Bogor."

"Sama mantan?"

"Sama Riri."

"Ngajak mantan gak?"

"Enggak lah. Emang kamu."

"Dia gak jadi ikut touring. Tiba-tiba sakit."

"Oh."

"Aku curiga nih. Jangan-jangan kamu apa-apain."

"Ngaco weh! Hahah." Kataku

"Habis tiba-tiba sakit."

"Gak mau ketemu kamu kali."

"Iya kali ya."

"Eh beneran mantan gak ikut."

"Enggak ih."

"Yah."

"Kenapa, gitu?"

"Aku mau ikut kalo ngajak dia."

"Ngapain?"

"Mau pamer."

"Pamer apa."

"Aku bisa bikin kamu bahagia."

"Hih!"

"Hahahhaha." Dia mulai tertawa.

"Aku juga mau ngadu ke dia." Katanya lagi.

"Kamu mah aduan."

"Biarin. Habis kamu bikin aku jatuh."

"Ngarang. Orang kamu jatuh sendiri sih dari motor."

"Bukan. Jatuh hati."

"Bodo amatttttttt!"

Begitulah kita. Tak ada makna. Yang ada hanya bahagia.

-Hana Larasati

Omar, Alepo.

Hai Omar, itu namamu kan? Atau aku salah mengejanya. Maaf. Tapi aku tau kau.

Apa kabarmu? Semoga kau baik-baik saja. Aku kok merasa kata baik-baik saja itu tidak akan terjadi di negara konflik ya?

Tapi semoga Allah selalu melindungimu dan juga seluruh keluargamu.

Sayang, lukamu masih sakit kah? Aku lihat dengan jelas di foto. Kau hanya diam sayang.

Betapa kejamnya mereka yang meluluh lantahkan rumah mu omar. Entah dimana hati mereka.

Aku semakin yakin. Bahwa kepintaran tidak ada harganya tapa kemanusiaan.

Omar, kau menangis saat mengetahui ibu dan ayahmu selamat. Kenapa? Kau takut. Jika aku jadi kau aku juga akan melakukan hal yang sama.

Omar, aku selalu percaya bahwa Allah akan melindungimu. Sayang, jangan bersedih. Janji Allah akan selalu benar. Kau harus kuat.

Kaum muslim di dunia senantiasa mendoakanmu, ayahmu, ibumu, keluargamu, dan negaramu. Allah akan selalu melindungimu sayang.

-Hana Larasati