Rabu, 14 September 2016

Pendaki ku.

Selamat pagi pendaki. Aku harap setangkap rinduku telah di sampaikan oleh alam untukmu. Atau kalau tidak, biarkan Tuhan saja yang menyampaikan rinduku padamu.

Hai pendaki, bagaimana kabarmu? Ramahkah semeru pada tubuh kecilmu?  Baikah kau di alamnya? Dia tak  buat badanmu menggigilkan, atau kepanasan?

Jangan buat dia terlalu menderita Semeru. Walaupun dia sudah pernah menakhlukan Rinjani, Merbabu, bahkan puncak Himalaya aku tetap ragu.

Aku tau dia kuat, tapi bagaimana dengan badai dan hujan. Masihkah dia sekuat itu?

Dia selalu bilang. "Jangan takut, ketakutan hanya sebatas pemikiranmu saja." Aku hanya menganguk. Dia itu yang selalu menentramkan saat aku mulai ketakutan.

Biasanya dia yang menjamin keselamatanku. Kali ini siapa yang menjaminnya? Hanya Tuhan yang bisa menjaganya di alam terbuka.

Semeru, titip dia dan para sahabatnya. Hari ini pendakiannya di mulai. Aku harap dia selalu baik di alammu.

-Hana Larasati

Selasa, 13 September 2016

Idul Adha Tahun Lalu

Di bawah rimbunnya pohon yang memayungiku dari terik. Aku berkaca pada siang. Betapa lamanya perjalanan yang aku lalui ini.

Kau tau kan , selain menulis aku paling suka merenung. Saat ini, hal itu sedang ku lakukan. Dan dalam setiap renunganku aku selalu tersenyum. Entah untuk hal yang pahit atau manis.

Karena kau bilang, kita harus banyak bersyukur. Agar nikmat-Nya selalu di tambahkan.

Tak terasa ini sudah satu tahun semenjak aku di selamatkan olehmu. Tepat di hari raya idul adha tahun lalu. Kau datang kerumahku ketika mata ku sedang sangat sembab.

Saat itu kau tidak memelukku atau memujiku. Kau hanya berkata.

"Ikut gua yuk. Pakai gamis sama kaos kaki ya."

"Mau kemana?"

"Kampus gua."

Aku pun menurut. Kita pergi dengan sepeda motormu yang berwarna putih. Saat itu tampilanku jauh dari taqwa.

Sesampainya di kampusmu yang sangat teduh. Kau mengajakku duduk di sebuah pelataran. Kita sedikit bercengkrama.

"Hana tau gak kenapa ayu bawa ke sini?"

"Enggak."

"Cuma mau ngasih tau. Masih banyak laki-laki baik di sini." Katamu lembut. Sambil menoleh ke kerumunan para mahasiswa yang mengolah daging kurbannya.

Aku hanya tersenyum. Lalu kau berkata lagi.

"Tapi, yang baik harus di dapat dengan cara yang baik juga. Yang baik sama yang baik." Katamu.

Kemudian kau mengajakku untuk bergabung dengan mereka. Tapi aku sempat menolak.

"Kerudung gua gini yu."

"Gua bawa kerudung lagi. di dobel ya."

Aku selalu tersenyum jika mengingat kejadian itu. Tepat satu tahun yang lalu.
Ada lagi kejadian yang baru kemarin kita bahas.

Dulu aku belum terlalu peduli tentang foto yang tidak mengenakan hijab. Bagiku hijab ya di depan saja. Di foto kan gapapa. Tapi sahabatku yang satu itu selalu istiqomah untuk mengingatkan.

"Hana jilbabnya mana?"

Jujur aku sempat sebal haha. Banyak pertanyaan..

"Kenapa sih? Kan cuma di foto doang."

Tapi dia terus mengingatkan. Hingga akhirnya batu yang keras pun luluh karena air yang terus menjatuhinya.

Sampai pada suatu hari aku tau alasannya kenapa dia selalu mengingatkan.

"Ya sedih aja ngeliat orang yang deket sama kita terus masih foto kaya gitu. Gak pake kerudung. Kan itu aurat. "

Buatku sahabat bukan sekedar orang yang membenarkan kata-katamu. Bukan juga yang selalu memujimu.

Tapi sahabat orang yang mau membantumu keluar dari kubangan kesalahan. Menopangmu saat kau terjatuh dan menunjukan jalan yang benar kepadamu.

-Hana Larasati

Minggu, 11 September 2016

Perempuan Takbir

Gema takbir masih riuh di sini. Aku salah satu orang yang menyakini bahwa takbir itu adalah tanda kemenangan.

Sudah lama aku ingin menulis ini. Tapi jika temanya soal kamu. Aku selalu bingung harus memulai dengan kata apa.

Karena saat terbayang, begitu banyak kata-kata takjub yang akan keluar. Hingga aku sulit mengaturnya.

Ini tentang wanita yang memiliki mata indah. Yang meyakini bahwa takdir bisa di ubah jika ada kemauan.

Tidak melulu harus orang yang pintar dan kaya yang bisa memainkan takdirnya dengan leluasa.

Anak miskin seperti kita pun bisa. Walau biaya seadanya, ilmu sepunyanya, tapi jangan ragukan kemauan kita.

Aku suka saat dia tertawa. Walaupun begitu jelas aku lihat bayangan masalah di matanya.

Satu yang ia yakini hingga saat ini. Selama kita punya Tuhan, kita tidak akan sendirian. Karena Allah lebih dekat dari urat nadi kita.

Jika ada yang bilang dia adalah pelangi. Maka aku orang pertama yang akan menyangkalnya.

Dia bukan pelangi, tapi matahari. Pusat orbit yang di kelilingi oleh deretan planet-planet lain.

Perempuan yang buka sekedar indah di pandang. Tapi mampu menundukan sebelum sempat memandang.

Khadijah semoga sukses dengan segala harapanmu. Kami, akan selalu mendukungmu. Jangan sungkan, kita ada untukmu.

Kelak kami akan jadi orang yang pertama menyelamatimu saat takbir hidupmu berkumandang. Dan aku akan selalu menantikan saat itu. Khadijah kami. 😊

-Hana Larasati

Kamis, 08 September 2016

Selamat Tinggal.

Setiap keputusan yang di ambil selalu berat. Karena setiap keputusan akan melahirkan resiko.

Aku tau, ini sulit. Aku tidak menyangkalnya. Di saat aku yakin kamu yang terbaik dan tidak munafik hatiku pun sudah lama tertaut.

Tidak salah jika kamu marah. Keputusan tiba-tiba yang aku ambil ini, mungkin membuatmu terkejut.

Jika kamu membaca ini, kamu akan tau jawabannya. Jika tidak biar Allah saja yang memberi tau seiring berjalannya waktu. Tapi aku tau, kau akan membaca ini.

Kau tau, betapa banyak pertanyaan yang ingin ku sampaikan.Tapi...

Aku hanya ingin kau yang menjawab. Di waktu senggang antara ashar dan senja.

Aku teramat yakin, kamu akan menjawab. Namun, sang pemilik hati membisikan yang lain.

Bagaimana jika kamu Aku sandingkan dengan yang lain?

Lantas...

Siapa yang akan jawab pertanyaanku?

Aku tau setiap insan di perbolehkan berharap. Bahkan Dia pun menyuruh kita untuk selalu berharap padaNya.

Seperti yang pernah sahabatku sampaikan. Doa itu menganulir takdir.

Tidak ada salahnya diam-diam berdoa. Masalah nanti di bersamakan dengan siapa. Itu terserah padaNya.

Karena Dia yang Maha tau segala yang baik untuk hambaNya.

Tapi di sisi hati yang lain menjawab. Masalah nanti di bersamakan dengan siapa memang terserah padaNya.

Jika yang membersamai bukan yang disebut dalam doa, apa yang harus dirasakan?

Kiranya memang wajib aku menyimpan rasanya.Karena aku sudah terlalu sayang dari sekarang. Bahkan walau belum tau siapa dia.

Hingga tak ingin aku menyakitinya, dengan memendam rasa kepada lelaki siapa siapa.

Aku selalu menanamkan ini ketika jatuh cinta. Kita hanya punya dua pilihan. Memilih ciptaanNya atau Penciptanya.

Aku tau bagaimana perasaanmu padaku. Bagaimana kerasnya perjunganmu untuk membuatku selalu bahagia. Hingga terkadang kau harus mengalah.

Aku juga tau, kuatnya usahamu hanya untuk sekedar memastikan aku aman, dan tidak ada yang bisa menyakitiku.

Aku hargai semuanya. Tapi, sekali lagi sekuat-kuatnya cinta manusia pasti lebih kuat cinta Allah kepada hambaNya.

Jika ada yang berkata rugi. Iya, aku akui aku rugi memilih jalan ini. Di saat semua wanita iri pada posisi ku yang selalu di angungkan kamu.

Tapi, itu hanya dalam sudut pandang dunia. Mungkin di mata orang lain, wajar.  Tapi dari sudut pandang agama itu sudah keluar jalur.

Terima kasih, untuk kau yang tak hentinya membuatku tertawa. Tidak ada yang bisa ku janjikan saat ini. Semua hanya bisa aku doakan. Semoga apa yang menjadi harap terlaksana. Jika tidak? Allah tau yang lebih baik.

Perpisahan.

Pagi itu Niru datang dengan tergesah-gesah. Di tengah kepulan asap teh hangatku mukanya memerah dan penuh tanya.

"Assalamualaikum." Ucapnya.

"Waalaikumusalam."

Dia menatapku dingin.

"Ayo duduk. Kita nge-teh dulu."

"Iyah. Tidak usah repot-repot Han. Aku hanya sebentar."

"Aku yakin topik pembicaraanmu tidak akan sebentar."

Dia hanya diam. Wajahnya masih wajah bertanya-tanya.

Sambil aku menuangkan teh, dia memulai pembicaraan.

"Apa benar kamu dan Andro berpisah?" Katanya sambil mengigit bibir.

Aku mendongak dan menegakkan dudukku.

"Oh. Kabar itu, aku gak nyangka cepat sekali tersiar." Kataku sambil tersenyum.

"Jadi benar?"

"Iya."

"Apa salah Andro, Han."

"Tidak ada."

"Terus kenapa?"

Aku terdiam.

"Kamu punya yang lain? Apa Andro gak cukup Han. Dia itu sangat baik. Kamu tau itu. Dia itu selalu...."

"Berusaha bikin aku bahagia." Kataku memotong ucapannya.

"Iya."

"Memang karena ada yang lain aku pergi dari Andro."

Dia terbelalak

"Siapa? Bisa saja dia tidak lebih baik dari Andro."

"Dia sangat lebih baik dari Andro."

"Siapa?" Tuntutnya.

"Allah."

Dia terdiam.

"Terdengar idealis mungkin. Tapi ini menjadi pilihanku. "

"Hubungan kalian masih dalam batas wajar Han. Allah tidak akan marah."

"Wajar dalam sisi umumkan, dalam sisi kaidah agama bagaimana?"

"Kalian tidak bersentuhan."

"Apa ada yang bisa menjamin pikiran ku dan pikiran Andro tak mengelana. Karena bukan hanya jarak yang di jaga tapi jiwa juga. "

Dia diam.

"Demi Allah, aku sangat mencintai Andro. Tapi, aku sadar saat kita jatuh cinta. Kita di hadapkan oleh 2 pilihan. Penciptanya atau ciptaanNya."

"Tapi apa kamu tidak memikirkan bagaimana Andro? Saat ini Andro sangat kacau, Han."

"Aku juga. Wajar, ini adalah masa peralihan. Seiring berjalannya waktu, dia pasti akan tau dan berterima kasih karena aku telah memilih jalan ini. Dia laki-laki baik aku tidak ada bayangan dia akan melakukan hal yang bodoh."

"Kalau dia baik, kenapa kamu menyakitinya dengan pilihanmu?"

"Karena dia baik, jadi aku menjaganya. Kau tau, betapa pedihnya aku jika nanti Allah akan menyiksanya karena perlakuan kami."

"Aku selalu memikirkan itu. Kau tau ungkapan dari Hatim Al Asham beliau berkata 'Aku telah memperhatikan semua makhluk. Kudapati setiap orang memiliki kekasih, tapi jika sampai kuburnya kekasih itu meninggalkannya. Oleh karena itu, aku jadikan kekasihku amal-amal baikku. Agar dia di alam kubur bersamaku.'" Lanjutku.

"Han, apa kamu tidak menyesal?"

"Setiap insan akan di uji dengan sesuatu yang di cintai. Mungkin ini saatnya."

Dia tiba-tiba terdiam. Ekspresi wajahnya kaget. Aku pun heran dengan gesture tubuhnya.

"Ada apa?" Kataku sambil menoleh kebelakang.

Ku dapati sosok yang sangat aku kenal. Andro. Dia berdiri di halaman. Tampangnya masam, rambutnya yang sebahu biasanya tertata rapi kini berantakan.

Niru benar. Andro sangat kacau. Segera aku mengarahkan pandanganku ke Niru, dan Niru menatap ku dengan tatapan permohonan yang aku tau maksudnya.

Aku pun berjalan ke halaman. Menghampiri Andro yang berdiri terdiam di sana.

"Assalamualaikum." Sapaku.

Andro terdiam sesaat, sebelum akhirnya membalas salamku.

"Waalaikumusalam."

"Ikut gabung yuk di kantin, ada Niru."

"Gak usah."

"Yasudah, aku tidak memaksa." Kataku lembut.

Tapi dia masih diam. Di tengah tatapan kosongnya. Matanya mulai memerah dan berkaca-kaca.

"Ada apa Andro?"

"Tidak apa-apa!" Bentaknya.

Aku teresentak. Baru kali ini Andro membentakku. Dan di tengah para mahasiswa baru.

"Maafkan aku." Kataku bergetar.

Dia yang sadar dengan perlakuannya langsung ber-istighfar.

"Astagfirullah." Katanya. Sekarang matanya mulai mau dia alihkan ke arahku.

Aku yang masih kaget dan malu akhirnya memutar badan untuk pergi, karena semua tatapan mahasiswa baru tertuju padaku.

"Hana, aku tunggu jam 10: 00 di rooftop."

Aku tetap berjalan. Terlihat gurat penyesalan di wajah manisnya saat itu.

"Hana." Dia berlari mengejarku. Tapi aku teruskan langkahku.

"Maafkan aku." Katanya. Aku pun berhenti.

"Iyah." Kataku sambil memberikan segulum senyum.

"Andro, ayo kita bicara." Lanjutku.

Dia hanya diam. Kemudian dia berkata.

"Aku masih harus mengurusi mahasiswa baru, Han. Kalau jam 10:00 in shaa Allah aku bisa. "

"Iyah." Kataku.

Tepat jam 10:00 kita bertemu di rooftop. Andro mulai sedikit terlihat rapi. Kita tidak berdua, ada Niru. Tapi dia memilih menunggu di tempat yang agak jauh. Katanya supaya aku dan Andro bisa bebas berbicara.

"Niru sudah memberitau semuanya." Kata Andro langsung.

"Baguslah dia sudah menceritakannya."

"Dia tidak bercerita, tapi memberikan rekaman percakapan kalian berdua tadi pagi." Kata Andro.

"Hahaha. Anak itu." Kata ku tertawa.

"Hana, aku pikir kamu pergi karena ada yang lain."

"Memang karena yang lain." Kataku tersenyum.

"Bukan, laki-laki lain maksudnya."

Aku hanya tertawa.

"Sekarang semuanya sudah jelas." Katanya lebih berseri.

"Syukurlah. Jangan jadi kacau. Aku tetap mau kau jadi Androku."

"Aku janji, aku juga akan berubah."

"Janji pada diri sendiri saja dulu."

"Aku sayang kamu karena Allah, Han."

"Bilang yang seperti itu nanti saja di depan bapakku." Kataku terkekeh.

Itu adalah percakapan terakhirku dengan Andromeda. Percakapan berdua lebih tepatnya.

Kita berdua sama-sama sepkat untuk memperbaiki diri. Dan semakin jarang bertemu (memang seharusnya begitu.).

Andro sibuk dengan muridnya dan jadwal kuliahnya. Aku, aku sibuk mengurusi tulisan dan in shaa Allah buku yang mau terbit.

Andro sangat mendukungku dalam hal apa pun. Katanya selagi itu baik dan membuatku senang dia akan selalu mendukung.

Sempat aku bercerita tentang seseorang yang protes di blogku dan Andro selalu sigap mendengarkan. Walaupun aku tau dia tidak begitu suka, karena itu menyangkut masa lalu.

Andro selalu jadi pendengar yang baik, pemberi solusi yang emm... aku rasa lumayan lah ya. Dan penghibur yang sangat menyenangkan.

Dia selalu mengodaku saat aku mulai sebal jika sudah membahas masa lalu. Katanya muka ku lucu jika sudah begitu.

Kita sangat jarang bertengkar dan sangat sering tertawa. Entah untuk hal apa pun. Andro selalu bisa membuat semuannya baik.

Dan untuk kamu, yang bertanya-tanya Andromeda itu nama samaran (jelaslah).

-Hana Larasati


Rabu, 07 September 2016

Taman Buah Mangunan.

Di tengah hujan yang menguyur Bogor, rinduku hanyut di dalamnya. Tak berani bicara. Begitulah aku.

Biarkan saja doa yang bermain dan Allah yang menyampaikannya kepadamu.

Di tengah lamunan ku bersama teh manis hangat, handphone ku berdering. Ternyata kau yang akan berbicara di dalamnya. Dengan segulum senyum aku mengangkatnya.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumusalam."

"Baru bangun ya?"

"Iyah."

"Kamu kalo baru bangun tidur jangan di biasain ngucek mata."

"Emang kenapa?"

"Nanti pelanginnya rusak."

"Hahahha."

"Aku lagi di Mangunan nih."

"Katanya mau ke Semeru?"

"Mampir dulu ke Jogja."

"Ngapain?"

"Mau ngeliat matahari terbit di taman buah Mangunan."

"Udah liat?"

"Belum."

"Emang jam segini matahari belum waktunya terbit."

"Iyah. Aku pikir yang terpagi itu matahari. Ternyata bukan. Tapi ingatan soal kamu. Orang-orang bilang itu rindu."

Aku hanya tersenyum.

"Makasih." Kataku.

"Senyum gak?"

"Iyah."

"Udah gosok gigi?"

"Udahlah."

"Kok bau belerang ya?"

"Mulut kamu kedeketan sama hidung."

"Hahahhahahaha."

"Ketawa lagi bukannya mikir." Kataku sambil tertawa.

"Aku mau ke daerah Maguoharjo ah."

"Mau ke stadion-nya ya?"

"Mau ketemu mantan kamu."

"Ngapain? Gak usah macem-macem deh kumis."

"Mau kenalan doang."

"Gak usah!"

"Yaudah mau laporan."

"Laporan apa?"

"Mantan-nya dia udah bahagia. Tapi masih galak."

"Apaan sih." Kataku menahan tawa.

"Tuh kan."

"Tau ah."

"Tuh, sebentar lagi keluar taring nih, lima menit lagi keluar bulu di semua badannya, 10 menit kemudian udah ada di atas pohon. Makan pisang." Katanya meledek.

Aku hanya tertawa. Jika saja dia dekat sudah aku jambak rambutnya.

"Eh kamu udah di Mangunan?" Kataku mengganti topik.

"Udah. Tapi gak tau ini di mananya."

"Lah kamu gimana. Tanya ibu-ibu sana."

"Gak ada ibu-ibu, adanya bapak-bapak."

"Yaudah sana tanya. Siapa kek."

"Gak usahlah. Aku pake google maps aja."

"Heh! Terserah."

"Tadi aku solat subuh di alam dong." Pamernya.

"Alam apa? Alam liar apa alam gaib?"

"Alam temenku. Wah parah kamu ngatain dia. Aku bilangin loh. Lam.. Hana ngatain kamu masa!!" Katanya sambil berteriak kepada seseorang.

"Heh, heh.. gak gitu maksudnya. Habis bahasa kamu ambigu." Kataku.

Tapi dia terus saja berteriak meldek ku seakan-akan melapor pada temannya.

"Udah aku bilangin Alam."

"Biarin."

"Alam mau ngomong sama kamu."

Belum sempat temannya berbicara handphonennya buru-buru dia ambil. Karena terdengar suara grasak grusuk.

"Kok gak jadi?" Kataku.

"Janganlah. Nanti dia suka." Katanya

"Biarin aja." Kataku meledek.

"Yaudah." Lalu dia memberikan handphonenya pada temannya.

"Hei, ini Alam ya? Maafin kelakuan Andro ya dia emang begitu. " kataku langsung.

"Iya iya udah maklum." Katanya sambil tertawa.

Kemudian terdengar suara Andro yang berbisik pada temannya. Ceritanya agar aku tidak tau. Tapi, berhubung dia berbisik di kuping temannya yang ada handphonennya, maka suaranya sukses terdengar olehku.

"Itu, yang lagi ngomong namanya Hana. Gua suka sama dia. Tapi malu mau bilangnnya." Katanya berbisik ke temannya.

"Itu udah bilang Ndro." Kata temannya heran.

"Kan bilangnnya ke elu bukan ke dia." Katanya masih memakai intonasi berbisik.

"Lah tapi kan dia denger. " Kata temannya menahan tawa.

"Iya semoga dia suka juga. Doain ya." Katanya kepada temannya.

"Aamiin." Kata temannya.

Aku hanya tertawa. Heran. Itu saja yang ada di pikiranku. Kemudian tanpa menghiraukan Andro, aku bertanya pada temannya.

"Kalian udah di taman buah mangunan?"

"Udah Han, dari jam setengah 6 kurang."

"Hih, si gelo mah. Katanya kalian nyasar."

"Iya tadi sempet nyasar tapi gak jauh."

"Udah terbit mataharinya?"

"Udah, tapi ketutup kabut."

"Si Andro lagi ngapai?"

"Biasa, jeprat jepret pakai kamerannya."

"Oh, titip Andro ya. Jangan sampai hilang. Udah langka yang kaya begitu." Kataku terkekeh.

"Iya iya." Kata temanya ikut tertawa.

Tak lama, suara orang yang di dalam telephone berganti.

"Hallo." Katanya dengan nanda sopran.

"Ah, kok kamu." Kataku kepada Andro.

"Bosen?"

"Iya ih."

"Yaudah." Katanya datar.

"Jangan ngambek. Nanti pelangi dimatamu rusak."

"Gak ada pelangi. Adanya belek." Katanya.
"Hahahhaha. Yaudah jaga diri baik-baik."

"Iyah. Kamu juga. Sebentar lagi aku mau memdaki. Gak ada sinyal."

"Terus?"

"Gak bisa ngucapin selamat tidur. Tapi percaya aja, aku selalu bilang selamat tidur dari jauh. Kamu gak akan denger."

"Iya iya inget. Bye. Assalamualaikum."

"Waalaikumusalam."

Jangan iri ya. Kebahagian itu bisa kamu dapat kalau kamu mau menerima. Kaya kita.

-Hana Larasati

Jumat, 02 September 2016

Balasan Luka Penulis

Kau tau ungkapan ini kan?

Jangan pernah melukai hati seorang penulis, atau kau akan abadi dalam karyanya.

Itulah manisnya balasan, ketika kau melukai hati seorang penulis. Dia tidak akan melakukan apa yang pernah kamu lakukan tergadapnya.

Atau membalas semua perbuatan yang pernah kau perlakukan padanya. Tapi dia akan menjadikamu objek di setiap tulisannya.

Melampiaskan semua emosi, rasa sakit, kekecewaan dalam setiap tulisannya. Dan ceritamu akan selalu larut dalam kisah itu.

Kau tidak bisa menolak atau menyuruhnya berhenti. Karena itu sudah nalurinya.

Dia tidak akan menyentuhmu di dunia nyata. Tapi di imajinasinya kau adalah targetnya.

Kau tak perlu merasa terganggu. Karena dia tidak menggangumu. Dia hanya berekspresi dari setiap rasa sakitnya.

Dan kau harus menghargai itu. Jika kau tak mau, silahkan untuk menutup buku dan berhenti membaca setiap karyanya.

Sekali lagi. Dia tidak akan menggangumu jika tak kau ganggu. Dan tak akan pernah menyakitimu.

Saat lukanya sembuh dan dia sudah bahagia. Jangan datang lagi. Entah untuk alasan apa pun. Dia pun berhak untuk bahagia.

Kau juga harus menghargainya.