Minggu, 04 Desember 2016

Sama-Sama Saling Menyakiti

Pagi ini entah kenapa menjadi sangat kelabu, saat semua pesanmu dengan tidak sengaja aku buka lagi.

Kotak pandoraku yang aku jaga dengan sangat, kini terbuka ulang. Melemparkan seluruh kenangan yang sejujurnya tak ingin aku kenang.

Tersimpan air mata di sudut mataku. Ini tentang cerita yang berlalu. Yang karamnya dengan hal yang sampai detik ini tidak aku tau.

Entah waktu itu aku atau kamu yang terlalu bodoh, karena kita berdua tidak mengerti bagaimana cara mencintai seseorang. Atau entahlah apa penyebabnya.

Minggu 04 Desember 2016

Hari ini, aku bersiap untuk melihat penampilanmu. Hanya ingin tau, dan mungkin sedikit rindu.

Aku melihatmu di deretan penonton yang juga ingin tau. Kau bergelantungan di dinding itu. Dengan cekatan dan sigap kau mengambil langkah untuk sampai di atasnya.

Aku ikut bangga sama seperti yang lainnya, ketika juri bilang kau mampu menakhlukan tembok itu dalam waktu kurang dari 3 menit.

Mataku masih tertuju pada sosokmu. Sosok yang dua tahun lalu selalu menjadikan aku yang nomer satu.

Sosok yang pernah mendekatiku dengan cara yang tidak wajar dan sosok yang selalu berusaha supaya tidak menyakitiku.

Lamunanku terpecah dengan suara mereka saat meneriaki namamu. Kau menoleh dan kau sadar dengan hadirku.

Hari ini, matamu tepat menatap mataku. Kau tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku melihat senyum itu lagi.

Senyum dari pria kurus berahang kokoh yang dulu, selalu jadi favorite ku. Namun aku tidak membalasnya. Aku hanya diam.

Betapa ingin aku membalas senyummu.  Tapi kau tau, bekas luka ini masih menahan bibirku walau hanya sekedar tersenyum ke arahmu.

Kau berjalan menjauh. Menuju belakang tembok itu. Kakiku seolah mengajaku untuk  mengikuti mu, hingga aku lihat di depan mataku kau merangkul seorang gadis.

Gadis cantik dengan mata sipit dan kulit yang agak kecoklatan. Tidak munafik dadaku masih merasakan sesak saat melihat pemandangan itu.

Kau merangkulnya erat, dan sangat jelas terlihat kebahagiaan di wajahmu. Padahal saat kita bertengkar dan aku menginginkan perpisahan kau selalu bilang

"Kamu nyuruh aku bilang gak suka sama kamu, tapi kamu gak tau gimana perasaan aku sama kamu kan?!"

Apa ini yang waktu itu kau deskripsikan kepadaku berjudul 'perasaanmu'?

Tidak ada tangis hari ini. Tidak ada. Karena aku yakin di sudut hatimu masih tersimpan aku dengan baik.

Kalau aku sudah jauh tertinggal, kenapa sampai detik ini, kata-kata perpisahaan tak pernah terucap dari bibirmu?

Dalam perasaan yang entah aku tidak tau bagaimana. Aku mencari handphoneku dan menelpon seseorang.

"Kamu dimana?" Kata suara di dalam telepon.

"Di belakang papan wall climbing. "

"Aku kesana." Kata suara dalam telepon itu.

Beberapa detik kemudian dia ada di sampingku. Dengan kemeja kotak kotak dan rambut yang di sisir rapi.

"Gimana penampilanku tadi?" Katanya.

"Bagus. Keren." Kataku dengan segulum senyum.

"Jangan di sini ngobrolnya, ayo ke sana. Aku kenalin sama teman-temanku yang lain." Langkahnya mengajakku ke arah laki-laki yang dari tadi aku perhatikan dengan sangat.

Jantungku berdegup dengan kencangnnya saat dia membawaku ke tempat laki-laki itu.

Dia pun bersalaman dan berbincang dengan sosok yang sering aku kutuk dalam ratapanku.

"Tadi penampilan lu bagus. Kurang dari 3 menit ya sampai atas." Katanya kepada laki-laki itu.

Di saat itu aku hanya diam dan menunduk. Aku enggan menatapnya apa lagi berbicara padanya.

"Lu juga bagus. " Kata laki-laki itu dingin.

Aku bisa lihat dari sudut mataku. Laki-laki itu agak kaku dan sedikit terkejut mungkin.
Kemudian dia mengenalkan ku pada laki-laki itu.

"Ini Hana, dia temen gua." Katanya kepada mereka berdua.

Aku tersentak kaget dan dengan sedikit kaku aku menyalami mereka berdua. Saat aku menatap matanya, matanya tajam menyorot ke mataku.

Kemudian perempuan yang ada di sampingnnya berkata.

"Temen apa temen?" Kata perempuan itu.

"Temen. Temen Hidup." Katanya sambil tersenyum ke arahku.

Mata laki-laki itu jadi semakin tajam saat, dia berbicara seperti itu.

"Dia itu penulis loh. " Pamernya kepada mereka berdua sambil tersenyum kepadaku.

"Wah keren." Kata perempuan itu.

Aku bisa melihat hawa kegelisahan mengelayuti perasaannya. Entah kenapa aku suka keadaan ini.

Ingin sekali aku bertanya padanya

"Bagaimana rasanya di permainkan perasaan?"

Tapi aku tak cukup nyali untuk melakukan itu. Yang aku lakukan hanya tersenyum sinis untuk semakin menyiksanya.

Aku jelas sudah hatam bagaimanan hatimu Tuan. Jangan salahkan aku di keadaan ini. Kan kau yang mengajariku caranya melukai.

Setelah berbincang cukup lama, kami pun memutuskan untuk pamit. Di saat itu aku merasakan jadi pemenang atau kami berdua yang sama-sama jadi pemenang? Dalam kontes sama-sama saling menyakiti.

FIKSI!

-Hana Larasati

#30DWC DAY 5

Sabtu, 03 Desember 2016

Senja

Senja, kau ini apa? Begitu baiknya engkau mempertemukan siang pada malam. Sedang  engkau? Hanya mendapat akhir panasnya siang, dan awal dinginnya malam.

Senja, aku minta waktu mu sebentar bisa? Hanya sebentar, untuk bercengkrama. Siapkah kau untuk mendengarkan ku bercerita?

Aku anggap kau bersedia. Jadi, baiklah aku mulai sekarang. Ini tentang seseorang yang ku suka. Aku malu sebenarnya. Tapi dia sudah lama mengusik rasa.

Tuhan tau aku suka dia. Dia hanya tersenyum. Karena melihat perilakuku yang bolak balik menyebut namanya di hadapan-Nya.

Tak taulah apa ini benar atau salah. Tapi aku sadar sepenuhnya Tuhanku sedang memandang dengan cemburu.

Bukan maksudku tentunya, kau tau kan senja. Hanya rasa ini sulit untuk di jaga. Ke khawatiranku mulai bertambah saat rasa mulai merusak iman.

Aku seperti menduakan Tuhan. Tapi sungguh bukan mauku. Jadi, aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan memperbaiki semuanya.

Bukannya tidak semua yang ku suka harus menjadi milikku saat itu juga? Karena tidak semua yang ku suka akan baik untukku. Pilih yang Rabbku suka, maka aku akan bahagia. Begitukah?

Senja, cahayamu muali temaram. Waktumu hampir habis di gantiikan malam. Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku. Aku anggap kepakan camar laut itu adalah caramu mengucapkan bahasa "sama-sama."

-Hana Larasati

#30DWC DAY 4

Kamis, 01 Desember 2016

Tentang Perebut

Tentang perebut.

Kau menyapaku pagi ini, saat aku sedang terduduk di cafe jalan Antasari. Aku menikmati tehku dan kau, sibuk menikmati dukamu.

Kau bercerita semuanya, tak lupa meminta maaf untuk sesuatu yang sempat membuatku luka.

Aku tertawa miris. Saat keadaan mulai baik, ada saja yang harus di ungkit.

Kotak pandoraku harus di bongkar ulang. Luka-luka lama harus di tarik dan di bawa pulang.

Kau tau bagaimana rasanya? 1000 kali aku jelaskan kau pun tak akan paham. Karena ini aku yang rasa, bukan kamu atau dia.

Oke, kita mulai. Jika membaca, jangan bawa perasaan. Karena ini hanya sebuah tulisan.

08:30 at Yesterday Cafe.

Dia masih terisak dan aku masih terlalu malas untuk bertanya "kenapa?"

Sekarang dia mulai menatapku, yang sedang menyeruput teh hangat tawar di meja nomer tujuh.

"Aku jadi tau gimana perasaanmu waktu itu Han." ucapnya memecah keheningan.

Dalam hati -Bagaimana bisa tau jika tidak merasakan? Peryataan yang aneh.

"Sok tau haha." Aku mencoba tertawa, tapi terlalu terlihat pura-pura sepertinya.

"Kita sekarang berada di perahu yang sama Han." Katanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Sebagai manusia aku rasa wajar jika aku iba.

"Kata siapa? Aku sudah lama meninggalkan perahuku." Akhirnya aku mengeluarkan suaraku.

"Berhenti berbohong Han. Aku tau hatimu masih luka."

Sekarang aku merasa tidak enak. Ku tegakkan duduku dan ku fokuskan pandangaku padanya.

"Dan adanya aku disini, semakin membuka luka lama. Maafin aku." Sekarang tangisnya benar-benar pecah.

08:46 Perasaanku benar-benar di koyak tangisnya. Aku rasa wajar saat ada perempuan yang menangis di depan matamu, perasaan mu pun ikut luruh seiring air matanya terjatuh, mengabaikan siapa dia dan bagaimanan perlakuannya.

Walau berat ku dekatkan kursiku padanya. Ku elus lembut pundaknya.

"Abaikan segala rasa sakitnya Han. Kamu masih manusia yang punya rasa iba. Kamu pernah di posisinya." Batinku.

"Coba pelan-pelan cerita." Suaraku ku buat melembut. Sengaja agar bisa menyamankan hatinya yang patah.

"Tahun depan aku dan dia mau tunangan Han. Semua sudah siap, aku pikir semua akan berjalan lancar. Sampai..." Kata-katanya mulai terhenti.

"Kenapa?"

"Aku lihat dia sama perempuan lain Han. Dia merangkul perempuan itu."

Deg. Kau tau? Itu yang aku rasakan dahulu saat dia merangkul pundakmu.

Bayangan kehancuran semakin berkelebat dengan liar. -Abaikan Han abaikan. Batinku.

"Lalu sudah kamu pastikan dia siapa? Bisa jadi adiknya, atau saudaranya." Kataku berusaha melegakan.

"Jangan membuat dialog seolah dia malaikat Han. Kamu lebih tau, dia tidak punya adik perempuan. Dan saudara? Sudah lama sepupunya tinggal di Australia."

Aku terdiam.

"Aku bukan tipe orang yang pinter kasih solusi. Tapi sedikit aku kutip dari kata-kata Ummar bin Khatab.

Jangan khawatir, apa-apa yang meninggalkanmu berarti bukan menjadi takdirmu, dan apa-apa yang menjadi takdirmu tidak akan pernah meninggalkanmu."

Dia terdiam menatapku.

"Yang aku percaya, pasti ada kebaikan di balik keadaan semenjengkelkan apa pun."

"Aku tau ini susah. Aku pernah ada di posisimu. Gimana harus bangkit saat semua  rasanya sakit.

Pelan-pelan aja, kalau di rasa mau jatuh lagi, inget kamu pernah ngelewati masalah yang lebih besar dari ini. Jadi harus kuat!"

"Makasih Han." Katanya seraya memelukku erat.

"Kata-kata hanya akan menjadi kata-kata kalau gak ada tindakan langsung dari pendengarnya.

Semua kuncinya ada di kamu. Cuma kamu yang bisa milih mau terus patah hati, atau bangkit dan bangun hati kembali."

"Iya Han. I'm really really sorry." Dia mengengam tangganku erat.

"Iya. Aku sudah maafkan jauh sebelum ini." Kataku sambil tersenyum.

Pertemuan dengan seseorang yang sempat ku sebut "perebut" memberikan ku pelajaran berharga lagi tentang kelapangan dan keikhlasan.

Saat ikhlas dan kerelaan sudah dalam gengaman bahagia itu adalah hal yang sangat menyenangkan.

Tentang perebut. Tak pernah ku kutuk kau di depan Tuhanku. Karena aku sadar itu bukan kapasitasku.

Dan tentang perlakuanmu. Aku tak peduli itu. Sedalam-dalamnya laut hanya Allah yang tau. Sama, sedalam-dalamnya hatimu hanya engkau yang tau.

Bahagiakah aku? Tentu. Apa yang dulu menjadi musuhku kini, malah menjadi temanku. Roda memang tak tau ya akan berputar dimana?

#30SWC hari ke 2

-Hana Larasati

Rabu, 30 November 2016

Pengejar Mimpi

Kau tau rasanya saat harap berhenti di tengah peluh? Saat kau sadar berteriak pun rasanya percuma. Tidak ada yang bisa menerjemahkan kata ke dalam bahasa.

Lari, aku pikir itu cara yang efektif untuk membunuh semua kecewa. Tapi lariku seakan gontai.

Sempat terputus harapan di tengah perjalanan. Rasanya kaki ku tak kuat menyelesaikan setengahnya dan, air mata sudah habis tercurah dalam pahitnya perjuangan. Jadi kini menangis pun aku rasa percuma. Sama sekali tidak mengubah keadaan.

Entah sudah di kilometer berapa saat ini aku berlari. Mengapai tujuan yang masih terselubung dengan hal-hal yang tidak pasti. Entah bisa sampai atau tidak aku pada hal yang ada di benakku. Yang dari kecil menjadi mimpiku.

Aku sadar, berat memang jika perjalanan ini hanya di lalui sendiri. Tapi jika bukan aku siapa lagi? Kesuksesan tidak bisa di dapatkan dengan hanya berpangku tangan pada orang lain.

Jadi aku putuskan untuk terus berlari. Mengabaikan semua pencibir dan peragu mimpiku. Aku terus berlari dalam langkah yang terseok. Karena aku percaya tujuan itu ada walau entah dimana.

Akhirnya aku sampai pada sebuah titik terang. Dimana mimpiku mulai terlihat hasilnya. Walaupun lama dan banyak yang meragukan tapi aku terus berjuang demi mengapainya. Asalkan ada Allah aku kuat dan ikhlas. Karena aku percaya cintaNya selalu ada untuk orang yang mau berusaha.

-Hana Larasati

Rabu, 16 November 2016

Masa Lalu

Pagi ini aku menerima pesan dari seseorang di masa lalu. Seseorang yang dulu pernah memberiku mawar, tapi tidak pernah berani untuk memberiku mahar.

Seseorang yang sering bertanya kabar, tapi tak tau akan adakah dia di altar. Iya, orang itu, yang hampir 3 tahun lalu bertanya "Kamu suka aku gak?"

Pesan singkat itu sangup membuatku membatu di tengah kemacetan Flyover Ciputat kota. 

Kau tak tau kan bagaimana rasanya saat kenangan di seret paksa oleh sang waktu? Apa lagi saat hujan. Dan aku sedang merasakannya sekarang.

Tak ku jawab pertanyaanya hari itu. Hingga beberapa hari pun tak pernah ku bahas pertanyaan itu.

Jika kau tanya kenapa, maka ini jawabannya. Dia terlalu baik untuk aku jerumuskan.

Buatku jatuh cinta itu menjaga. Mengaja segala hal yang ada di hidupnya.

Banyak hal baik yang aku tau dalam dirinya. Hamba yang takut dengan Tuhannya. Membuat hatiku bertekuk lutut untuk hormat padanya.

Tapi akhirnya aku jawab pertanyaannya.

"Tanya aja sama Allah, hati ku milikNya."

Dia hanya membalas senyum.

Entahlah aku sulit mengkategorikan dia tipe makhluk seperti apa. Yang jelas dia suka hadir tiba-tiba. Membawa pertanyaan yang selalu membuatku bingung bagaimana menjawabnya.

Tepat 1 tahun yang lalu dia hadir lagi. Dia berdiri di depan rumahku dan bertemu dengan ibuku.

Wajahnya yang teduh, sanggup menundukan pandangan ku seketika.

Di saat itu, aku merasa bersalah. Hatiku sudah terisi orang lain. Yang aku pikir baik. Mungkin memang baik, bagi yang lain.

Dia bertanya "Tipe suami idamanmu yang bagaimana?" Pertanyaannya bagai kilat yang menyambar hingga ke relung rusuk.

"Yang mencintai Allah dan Rasull-Nya. Menjadikan orang tua sebagai rajanya."

"Dari segi fisik?"

"Kata ibuku gak boleh memetakan manusia."

Dia masih tersenyum. Dan aku terdiam.

Pagi ini, dia datang lagi. Kali ini tidak bertanya kabar atau memberikan mawar. Hanya memberitahu bahwa, dia hafal surah Ar-Rahman. Dan itu adalah surah kesukaan ku dari dulu.

-Hana Larasati

Gadis di Ruang Tunggu

Dalam kantuk yang kutahan, ada pesan yang sedang ku tunggu.

Pesan singkat yang jadi penyebab senyumku merekah diam-diam di tengah malam.

Entah bagaimana cerita ini bisa ada. Sampai tulisan ini di buat aku tidak punya hipotesa yang jelas untuk memulai analisanya.

Yang aku tau malam ini, ada yang berusaha aku tekan agar tidak tumpah. Sesuatu yang aku takut untuk percaya. Harapan.

Di tengah ke ingin tahuan ku yang meninggi bila tiba dini hari. Tak sengaja aku membaca sebuah tulisan yang entah siapa pengarang pertamanya.

"Jangan sengaja pergi agar di cari. Jangan sengaja lari agar di kejar. Berjuang tak sebercanda itu. "

"Bagaimana jika yang pergi itu memang benar-benar ingin pergi. Bukan sekedar agar di cari?

Bagaimana jika yang lari itu memang benar-benar ingin lari. Meninggalkan yang menunggu jauh di belakang?

Lalu, aku yang posisinya sebagai gadis di ruang tunggu harus bagaimana?

Menurutmu menunggu apa sebercanda itu?" Pikirku tengah malam.

Lalu aku merevisi pikiranku yang melesat beberapa detik yang lalu.

"Kenapa sekarang aku jadi terdengar seperti gadis penuntut?

Bukannya sering aku bilang cinta itu reaksi, bukan ekspektasi.

Mungkin benar kata Prof. Albus Dumbledor ; bahwa yang terbaik dari kita pun bisa menarik kata-katanya."

Ah, kenapa jadi begini. Kenapa di kepalaku jadi penuh dengan orang itu. Kenapa intonasi di batinku sekarang, jadi terdengar mengekang. Aku siapa? Bukan hak ku atas itu.

Silahkan pergi jika ingin pergi. Silahkan lari jika mau lari. Kau punya kebebasan penuh atas dirimu.

Aku pun begitu. Akan menunggu semampuku. Semampu hati bisa bertahan dalam rindu. Tapi jika kau sudah kembali dari berpergian mu dan tak ada aku di ruang tunggu, jangan salahkan aku.

Karena kau tau, aku pun punya hak penuh untuk menentukan waktuku. Seberapa lama atau seberapa sebentar aku harus menunggu di ruang tunggu.

-Hana Larasati

Sabtu, 12 November 2016

Antalogi (2)

Aku masih membolak-balikan handphoneku.

"Ada apa?" Kata temanku yang langsung duduk di sebelahku.

Aku hanya tersenyum. Senyum yang menandakan (mungkin) aku baik-baik saja.

Dia melirik benda kotak yang ada di tanganku. Lantas dia pun tersenyum.

"Sibuk. Dia bukan mahasiswa kupu-kupu kaya kita."

Aku yang tadinya menunduk langsung tersentak.

"Bukan. Bukan itu yang aku pikirin."

"Lantas?"

Aku pun menunduk. Seperti biasanya berat untuk bercerita.

"Gak usah cerita. Nanti aku liat blogmu saja. Di situ juga ketauan."

Dia sukses membuatku tersenyum. Aku pun menarik nafas dan mulai mangatur suara.

"Jadi gini.."

"Iya?" Dia mendekatkan bangku ke arahku.

"Dia ngenalin aku ke temennya. Temennya itu solehah banget." Kataku menunduk.

"Teruss?"

"Kamu pasti tau terusannya."

"Kamu cemburu?"

Sekarang aku mulai mengalihkan pandanganku pada jendela kaca kelas. Di luar terlihat jelas hujan deras.

Dari derai rintiknya batinku mulai berkata. "Apa pantas aku cemburu?"

"Aku gak punya kapasitas buat itu." Kataku
"Setiap manusia berhak cemburu."

"Tapi aku manusia yang menyalahi haknya."

"Lah kok?"

"Udah lupain aja." Kataku sambil membereskan beberapa buku.

"Han, jangan pesimis."

"Aku gak pesimis, hanya realistis. Dia gak ada alasan buat nolak perempuan itu."

"Dan dia pasti ada alasan buat nerima kamu Han."

Aku menggeleng kemudian berujar.

"Aku masih bisa optimis kalau aku kalah dalam kecantikan, kekayaan, atau kepintaran. Tapi kalau sudah iman. Aku gak bisa. Aku lebih baik mundur."

"Kamu bisa berubah lebih baik supaya..."

"Demi mendapatkan dia? Hijrah buatku gak sereceh itu."

"Terus?"

"Kamu pasti pernah baca tulisanku. Buatku asal dia bahagia, asal dia bisa jadi lebih baik dari dia yang dulu aku juga bahagia. Aku relakan diriku untuk perempuan itu, dan aku relakan hatiku untuk kebahagiaannya."

"Emang kamu yakin perempuan itu lebih dari temen buat dia?"

"Gak begitu yakin. Tapi aku ngerasai perasaan ini lagi."

"Perasaan 2014 itu lagi?"

Kali ini aku tertawa. Dia memang yang paling tau segala tentang aku.

"Malah ketawa."

"Yaudahlah."

"Yaudahlah apa?"

"Gak usah di bahas."

"Andai mereka tau kamu sebaik aku. "

"Kenapa?"

"Gak akan ada yang berani ninggalin kamu sejengkal pun."

"Kok?"

"Gak ada yang rela ninggalin berlian sendirian."

"Aku egois, pemarah, mau menang sendiri, aneh. Di mana letak berliannya."

"Di sini." Dia menunjuk ke dadanya.

Aku hanya tersenyum.

"Sok tau."

"Emang tau."

"Dari mana?"

"Dari dulu."

Aku pun tersipu. Orang yang dari tadi kita bicarakan pun menghampiriku.

Dia tersenyum. Aku menunduk.

"Masih disini?" Sapanya.

"Iya. Tapi sekarang aku mau pulang, gak tau Hana?" Kata temanku sambil bangkit dari tempat duduknya.

Aku pun menengadahkan kepala menghadap padanya. Dia mengedipkan matanya kepadaku.

"Aku juga mau pulang." Lanjutku buru-buru.

"Aku gak mau nyebrangin loh Han." Temanku terkikik dan berjalan cepat meninggalkan ku di belakang.

"Ri.." Tapi dia sudah hilang dari balik pintu.
Saat ini hanya ada aku dan dia.

"Allah jaga hatiku." Batinku.

Dia menatapku. Kemudian mengambil salah satu bangku dan duduk tidak jauh dari tempatku berdiri.

"Aku mau pulang." Pamitku.

"Kamu bawa payung?"

Bagaimana bisa aku lupa soal hujan.

Aku hanya menggeleng.

"Yaudah tunggu reda aja dulu di sini."

Dengan sedikit terpaksa aku pun menunggu.

Mungkin hampir 30 menit kita tidak berbicara sepatah kata pun.

"Gimana bukumu?" Akhirnya dia membuka percakapan. Di saat ini aku merasa menang.

"Alhamdulillah. Sudah di terima. "

"Alhamdulillah."

Sepersekian detik hening lagi.

"Buku untuk temanmu baru mau aku kirim. Tapi, aku gak punya nomernya." Untuk pertama kalinya aku sesak membahas perempuan itu.

"Oh, punya Aisyah."

"Iya."

"Tanya di line?"

"Belum di baca."

"Aku ada, tapi enggak tau aktif atau enggak." Dia pun menyodorkan handphone nya kepadaku.

"Iya."

"Dia itu jarang on. Paling kalau on cuma kalu ada wifi aja."

"Tau banget ya." Kataku mencoba tersenyum.

"Tau aja sih enggak banget. Haha." Katanya mulai tertawa.

"Oh gitu." Balas ku dingin.

"Kok gitu?"

Lama hening.

Aku pun tersenyum sambil menggeleng.

"Gapapa."

"Ish."

"Kenapa?"

"Kenapa apanya."

"Kenapa nanya kok gitu."

"Ya gapapa hahah."

Kemudian dia pun memulai percakapan lagi.
"Waktu itu mau nanya apa?"

"Bukannya udah tau. Kan aku bilang mau nanya tugas."

"Aku pikir bukan. "

Damn. Dia tau aku bohong.

"Nanya apa hayo." Katanya mendesak.

"Engg..." aku hanya mendengung.

"Apa?"

Aku pun menarik nafas dan berkata padanya.

"Kamu mau dateng ndak di lauching buku antalogi-ku yang inshaa Allah kalau jadi di istiqlal?"

Dia tersenyum menatapku.

"Wes jan, mbak Hana. Ngalor ngidul ngechat ternyata nanya itu tho. "

Pipiku langsung merah.

"Jadi? Bisa ndak?"

"Inshaa Allah. "

Aku tersenyum getir.

"Inshaa Allah orang islam mba Hana."

Seketika senyumku sumringah.

-Hana Larasati