Kamis, 18 Desember 2014

Layaknya Matahari.

Layaknya matahari; akupun ingin abadi, selalu menemani meski berganti belahan bumi.

Layaknya matahari; aku ingin mencipta pelangi, usai hujan mewarnai hari.

Layaknya matahari; akupun tak ingin ingkar janji, sebab ia selalu hadir saat bulan berubah pasi.

Layaknya matahari; setia mengabdi hingga saat Ia memberhentikannya. Dan akupun sama, takkan istirahat hingga langkah ini menjejak surga. Amin.

Jangan Berharap.

Adakah orang yang memanah berharap anak panahnya kembali?

Tentu tidak.

Begitulah seharusnya saat kita berbuat baik.

Tak perlu berharap kebaikan yang kita berikan kembali dari orang yang kita beri.

Mengharapkan balasan dari sesama manusia bisa berujung kecewa dan derita.

Kita perlu terus menerus berlatih,

berharap mendapat balasan

hanya dari Sang Maha Pemberi.

Ketahuilah bahwa pikiranmu tidak mungkin mencakup semua hal.

Karena itu gunakan ia untuk hal-hal yang penting.

Bahwa hartamu tidak bisa membuat kaya semua orang,

karena khususkanlah ia hanya diberikan untuk pengikut kebenaran.

Bahwa malam dan siangmu tidak dapat memenuhi semua kebutuhanmu meskipun engkau bekerja keras sepanjang waktu,

alokasikanlah dengan baik antara pekerjaanmu dan istirahatmu.

Karena sesungguhnya apa yang menyibukkan pikiranmu dari hal-hal tidak penting,

adalah sebuah celaan terhadap hal yang penting.

Apa yang kau habiskan dari hartamu untuk kebatilan akan membuatmu merasa kehilangan ketika engkau ingin menghabiskannya untuk kebenaran.

Dan kesibukanmu di sepanjang malam dan siang di luar kebutuhan,

akan menghinakanmu pada saat kau butuh.”

- Abbas ibn Hasan Al Alawi-

Senin, 15 Desember 2014

Untuk Perempuan Kesayanganku II

Entahlah aku merasa jahat sekali. Karena satu kesalahanmu padaku menutup semua kebaikan yang belum aku tau. Aku sadar aku tidak boleh membenci seseorang yang belum aku kenal. Mungkin saja kau tidak seperti apa yang aku pikirkan.

Sepertinya wasiat sang nabi itu sangat berat : "Jadilah hamba-hamba yang bersaudara." Ketika masih ada sifat congkak dan perasaan merasa lebih baik dari orang lain.

Aku mohon maafkan aku atas segala prasangka buruk ku padamu. Aku sadar aku jauh dari sempurna. Maafkan aku atas perasaan tidak suka ini padamu. Sebab terkadang ketidaksukaan ku karena ketidaktahuanku.

Aku melakukan ini karena aku ingin mengikuti wasiat sang nabi untuk menjadi hamba-hamba yang bersaudara.

Untuk perempuan kesayanganku maafkan aku. :')

Ketetapan Hati.

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)” [Ali ‘Imraan : 8]

Dari Anas, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW banyak membaca doa “Yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbii ‘alaa diinik (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agama-Mu)”. Lalu aku (Anas) bertanya, “Wahai Nabi Allah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa, apakah engkau mengkhawatirkan atas kami?”. Beliau SAW menjawab, “Ya, sesungguhnya hati itu diantara dua jari-jari Allah. Dia membolak-balikkannya sesuai yang dikehendaki-Nya” [HR. Tirmidzi, juz 3, hal. 304]

Mohon Perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, dll

Dari Zaid bin Arqam, dia berkata : Aku tidak mengatakan kepada kalian kecuali seperti apa yang pernah disabdakan Rasulullah SAW. Beliau SAW berdoa, “alloohumma innii a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal bukhli wal haromi wa ‘adzaabal qobri. Alloohumma aati nafsii taqwaahaa wa zakkihaa, anta khoiru man zakkaahaa. Anta waliyyuhaa wa maulaahaa. Alloohumma innii a’uudzu bika min ’ilmin laa yanfa’u wa min qolbin laa yakhsya’u wa min nafsin laa tasyba’u wa min da’watin laa yustajaabu lahaa (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut, kikir, dari pikun dan siksa qubur. Ya Allah, berikanlah ketaqwaan pada jiwaku dan bersihkanlah. Engkau adalah sebaik-baik yang membersihkannya. Engkau adalah wali dan tuannya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan)”. [HR. Muslim, juz 4, hal. 2088]

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW bersabda, “Alloohumma innii a’uudzu bika minal arba’. Min ‘ilmin laa yanfa’u wa min qolbin laa yakhsya’u wa min nafsin laa tasyba’u wa min du’aa-in laa yusma’u. (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari empat perkara. Dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ dari jiwa yang tidak pernah kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan)”. [HR. Abu Dawud, juz 2, hal. 92]

Np: berbagi bersama nopindra.

Minggu, 14 Desember 2014

La tanza.

“Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita”; memihak dan membela, menjamin dan menjaga; meridhai dan mengaruniakan pahala.

“Janganlah berduka, sungguh Allah bersama kita”; di perjalanan yang panjang titiannya, sedikit pendukungnya, banyak timpaannya.

“Janganlah berduka, sungguh Allah bersama kita”; rasakan pengawasanNya, hati-hatilah dari mendurhakaiNya, takutlah akan murkaNya.

“Janganlah berduka; sungguh Allah bersama kita”; mohonlah ampunNya, pintalah rahmatNya, teruslah berbincang mesra denganNya.

“Janganlah berduka, sungguh Allah bersama kita”; malu-lah bermalas dan sia-sia; baguskan kinerja; berjuanglah puncakkan karya.

“Janganlah berduka, sungguh Allah bersama kita”; sucikan prasangka, lapangkan dada, maklumi kekurangan sesama, maafkan kesalahannya.

“Janganlah berduka, sungguh Allah bersama kita”; ingat dan dekatilah, takut dan berharaplah, memuji dan mengabdilah. Cintailah.

Don't Sad.

Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Seperti setetes air hujan. Mulanya ia hanya uap air tak terlihat, lalu terkondensasi menjadi titik-titik embun, berkumpul membentuk awan, diterbangkan angin, perlahan turun sebagai tetes hujan. Pernahkah kau berpikir tentang perjalanan setetes air hujan?

Ada tetes yang mampir di genteng-genteng rumah. Ada tetes yang singgah di dedaunan. Ada tetes yang meluncur ke jalan. Ada tetes yang langsung mengikuti aliran air selokan. Ada tetes yang tergenang dalam ceruk kaleng bekas. Ada pula tetes yang langsung hilang begitu menyentuh bumi, terserap akar pepohonan. Setiap tetes menempuh jalan yang berbeda, meski Tuhan menghendaki satu tujuan untuk mereka. Hujan diturunkan ke bumi untuk membawa kabar gembira, untuk menumbuhkan tanam-tanaman, untuk kehidupan hewan dan manusia, juga semua makhluk Tuhan lainnya.

Perjalanan setetes air hujan itu seperti kehidupan. Setiap orang punya jalan hidup dan ceritanya masing-masing. Bahkan kembar identik pun punya jalan hidup yang berbeda. Begitupula dengan aku, kamu, dia, juga mereka. Kita selalu punya cerita yang berbeda, tak pernah sama.

Kadang aku merasa bosan dengan hidupku. Kenapa begini-begini saja? Melihatmu, dia, mereka dengan hidup kalian masing-masing. Mungkin kau kini sudah melanglang buana, lulus kuliah, punya pekerjaan, bahkan banyak prestasi yang kau torehkan. Mungkin dia semakin sibuk dengan urusan bisnisnya, juga dengan amanah baru membina rumah tangga. Mungkin mereka juga sibuk dengan urusannya, ada yang belajar ke luar negeri, ada yang merantau ke luar Jawa, ada yang kembali ke kampung halamannya, ada yang berjuang mati-matian di kantor barunya, ada yang masih bingung mencari pekerjaan, ada pula yang masih pontang-panting memperjuangkan skripsinya.

Dan pertanyaanku selalu berujung pada satu jawaban. Aku, masih di sini berusaha dan berbahagia. Itu jawaban paling logis dan paling bijaksana yang tepat untukku saat ini. Tak ada kata-kata motivasi yang lebih tepat dari itu. Tak ada kata-kata penghibur yang lebih menggembirakan dari itu. Dan syukurku atas semua karunia yang Allah berikan untukku. Dia masih (selalu) sayang padamu, Maka Dia izinkan kau bernapas hingga hari ini, detik ini. Agar kau torehkan prestasimu, dalam lembaran-lembaran catatan amal yang dibawa kedua malaikat di samping kanan dan kirimu.

Maka tak ada alasan untuk bersedih. Maka habislah kata-kata untuk mengeluh. Setiap manusia punya jalan hidupnya masing-masing. Kau percaya itu kan?

“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al An’am: 162)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz Dzariyat: 56)

Cukuplah kiranya kedua ayat itu memberikan pelajaran bagiku, bagimu, bagi kita. Bahwasanya tujuan penciptaan kita sama, hanya jalan hidup kita lah yang berbeda. Maka setiap helaan napas kita pun hendaknya sama, untuk Allah saja.

Tak peduli sampai dimana kau kini berjalan

dan masih berapa jauh jalan yang harus kau tempuh.

Allah tujuan kita…

Np : berbagi bersama nopindra