Kamis, 30 Juni 2016

Cemburu

Seperti biasa kita bertemu di penghujung senja. Kau masih sama. Manis dan menenangkan.

Aku tersenyum menatapmu di bangku taman. Kau masih mengengam Al-Qur'an coklat pemberianku.

Terbesit rasa bersalah ketika mengingat kejadian semalam. Ketika laki-laki itu mengaku mencintaiku lagi. Entah bagaimana hancurnya hatimu jika tau kenyataan itu.

"Ada apa?" Katanya menatapku.

"Enggak ada apa-apa." Kataku sambil tersenyum padanya.

"Kamu enggak bakat bohong Noy." Katanya sambil melemparku dengan kertas.

"Beneran gapapa." Kataku meyakinkan, meskipun wajahku sangat tidak meyakinkan.

"Biar aku coba tebak."

"Apa deh kumis."

"Emmm.... mantan bilang suka lagi ya sama kamu." Katanya memvonis. Seketika aku pun langsung terbatuk.

"Tuh pasti bener." Lanjutnya lagi.

"Iya. Kamu marah ya? Maafin aku. Aku bener-bener minta maaf. Aku juga enggak tau, tau-tau dia bilang suka sama aku." Kataku panik. Aku benar-benar takut melukai hatinya.

"Oh begitu ya?" Katanya datar.

"Kamu marah ya sama aku?"

"Marah gak ya?" Katanya semakin membuatku bingung bagaimana menerjemahkan perasaannya.

"Kumis aku serius ih." Kataku semakin panik.

"Enggak Na, cuma heart attack aja. " Katanya mengedip genit ke arahku sambil memegang dadanya.

"Kumis ih!" Kataku sambil memukulnya dengan buku skripsi.

"Gak sekalian kamu pukul pake tiang lampu?" Katanya sambil mengelus tangannya.

"Maaf."

"Kamu mah minta maaf mulu kaya pak Ogah."

"Pak ogah mah minta duit kumis, bukan minta maaf."

Dia hanya tertawa kemudian memasukan al-qur'an nya ke dalam tas. Sekarang fokusnya ke arahku.

"Emang dia bilangnya gimana?"

Lalu aku pun menceritakan semua padanya. Dari bagaimana kita bertemu, hingga pertengkaran yang tak bisa di elakan. Kurang lebih memakan waktu selama hampir 10 menit.

"Jadi gitu.." kataku menutup cerita.

"Aku mau nanya dong."

"Boleh."

"Soal pelampiasan itu... apa bener?"

Aku hanya diam dan tak berani menatapnya. Sampai saat ini aku pun bingung bagaimana perasaanku pada Fahri.
"Yaudah kalau gak bisa jawab." Katanya tenang.

"Enggak kok." Kataku.

"Jangan bohong." Katanya

"Beneran sih."

"Aku emang gak sama kaya dia, sedikit pun enggak. Kita punya karekter masing-masing. Punya pemikiran yang beda dan cara pandang yang beda." Katanya

"Setiap dari kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing." Lanjutnya.

"Iya." Kataku singkat.

"Aku juga gak bisa kaya dia. Kamu juga tau keterbatasan aku..."

"Tapi aku tau lebih banyak kelebihan kamu." Potongku.

"Udah deh, gak usah dengerin atau kebawa hawa-hawa masa lalu. Sejauh ini toh kamu bisa jaga kepercayaan aku" Kataku simpel.

"Iya Noy."

"Nah gitu dong. Eh kumis aku mau nanya dong." Kataku

"Naon sih nanya mulu. Bayar!" Katanya memasang muka menyebalkan.

"Dasar mata recehan!"

"Dari pada mata keranjang. Pilih mana?" Katanya.

"Serius ih aku mau nanya."

"Yaudah sok nanya aja. Segala minta izin."

"Kumis, kamu produk gagal ya?" Kataku yang seketika membuat raut wajahnya berubah datar.

"Apa?"

"Iya, coba balik deh balik. " kataku sambil menyuruhnya memutar badanya.

"Apa sih Noy." Katanya bingung tapi tetap menurut.

"Tuh kan bener." Kataku dengan ekspresi seperti menemukan sesuatu.

"Apaan?" Katanya yang semakin bingung dan mencoba melihat punggungnya.

"Masa malaikat gak ada sayapnya. Produk gagal berarti kamu." Kataku sambil tersenyum ke arahnnya.

Dia pun tersipu dan tersenyum menatapku. Sambil berkata

"Sa ae tukang kolak." Katanya

Kita bukan pasangan. Kita hanya dua orang yang di pertemukan di jalan. Yang kebetulan tak hanya ilmu kita yang sejalan tapi hati kita juga.

Penilaianku masih sama tentangmu. Kaku, polos, dan gila jika sudah kenal lebih jauh. Kita bukan anak einstein yang hatam rumus fisika, atau anak borju yang hidupnya jalan-jalan keliling dunia. Kita cuma teman perjalanan. Dan teman hidup kalau beruntung. 😆

Np : CERITA HANYA FIKTIF JIKA ADA KESAMAAN KEJADIAN ATAU NAMA. JANGAN BAPER!

-Hana Larasati

Selasa, 28 Juni 2016

Pertengkaran

Kita bertemu di persimpangan. Kau menatap ku lekat di tengah malam yang pekat. Tak ada bintang malam ini. Bulan pun sepertinya bersembunyi.

Aku berjalan tegap. Bukan menantang, hanya menunjukan bahwa aku benar-benar baik-baik saja semenjak keperergianmu.

Sorot mata yang ku tunjukan ini masih sama, hanya rasanya saja yang berbeda. Bukan lagi kasih sayang melainkan kebencian.

Aku harap kekasihmu sadar, dan berhenti menuduhku masih menyimpanmu dalam ingatan. Karena mau atau tidak mau prasangkanya harus di patahkan. Rasa sakit yang begitu besar mustahil masih bisa menyisakan cinta.

Derap langakah kaki semakin mantap. Dulu memang aku sangat rapuh. Untuk sekedar yakin saja, aku membutuhkan sahabatku. Tapi kini, aku lebih kuat dari yang kau tau.

"Assalamualaikum." Ucapmu sopan. Kau menyungingkan senyum kepadaku.

"Wa'alaikumusallam."

"Kita harus bicara."

"Maaf gua buru-buru." Kataku sambil berjalan melaluinya.

"Gak akan makan waktu lama." Teriaknya ketika aku hampir menjauh.

Aku berhenti. Menjauhnya aku bukan karena takut terjebak masa lalu. Hanya saja pahit saat semua yang sudah di kubur harus di bahas dan di bongkar ulang.

"Apa? Semoga ini penting." Kataku singkat.

Dia berjalan mendekat, gesture tubuhnya mengisyaratkan aku untuk mengikutinya duduk di bangku jalan.

Kita duduk dengan jarak. Mataku ku fokuskan untuk menatap jalan. Memang keluar dari adab berbicara. Tapi masih terlalu sakit untuk sekedar menatapnya.

"Maafin gua." Katanya sambil menatapku

"Apa butuh waktu sampai 4 tahun buat bilang maaf?"

"Oke gua salah, gua udah bikin hati lu sakit.."

"Sorry, wait wait.. apa gua keliatan sakit? Gua sangat baik-baik aja. Oke mungkin waktu itu gua sempet sakit hati. Tapi itu dulu."

"Na, gua punya penjelasan kenapa gua ngelakuin itu."

"Penjelasan lu cuma jadi alasan di mata gua. Kalo yang mau lu bahas soal itu sorry gua masih banyak kerjaan. Jadi.. Assalamualaikum."

Aku pun berdiri dan berjalan meninggalkannya. Dia ikut bangkit dan mengejarku.

"Na, gua sayang lu!" Katanya.

Amarahku rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Tanganku mengepal dan dadaku sesak. Aku pun berbalik dan menghampirinya.

"Lu gila ya! Lu sadar gak sih apa yang lu omongin itu!"

"Kenapa? Apa gua salah?"

"Pikirlah! Lu udah sama Asma, dan gua juga udah bahagia sama Fahri."

"Ya tapi gua sayangnya sama lu Na."

"Sakit lu ya!" Aku pun berjalan tak karuan sangking emosinya.

Dia hanya terdiam menatapku menjauh. Tak lama dia mengejarku.

"Kasih gua kesempatan ke dua Na."

"Pergi gua mohon." Kataku dengan suara yang mulai bergetar.

Dia berhasil merarik tanganku dan menghentikan langkahku.

"Apa setiap pembelaan yang gua kasih gak pernah bikin lu mikir!"

"Bukan gua yang harus mikir, tapi lu! Pikirin gimana perasaan Asma di sana. "

"Gua sama Asma udah putus hampir satu tahun yang lalu."

"Terus sekarang dengan lu dateng ke gua dan ngakuin perasaan lu, lu mau bikin gua putus juga sama Fahri?! Gak akan bisa. Gua udah bahagia sama dia."

"Lu yakin bahagia? Kebahagian lu itu cuma gua Na."

"Jangan terlalu percaya diri bung!"

"Gua tau, Fahri cuma jadi pelampiasan kan buat lu!" Katanya sarkas.

"Jaga omongan lu ya!"

"Lu gak pernah sayang sama dia. Lu cuma kesepian dan kebetulan Fahri selalu ada buat lu."

"Berhenti!" Kataku sambil menutup kedua telingaku dengan telapak tangan.

"Kenapa? Ada yang salah sama omongan gua?" Katanya yang semakin mendekat.

"Lu bener-bener..." Kataku putus asa.

"Na, berhenti pura-pura."

"Dulu, lu kan yang minta gua buat ngelupain lu? Sekarang setelah hubungan lu hancur sama Asma lu balik ke gua dan berharap hubungan gua juga ikut hancur kaya hubungan lu. Mau lu apa?"

"Gua cuma mau kesempatan kedua gua Na."

"Tapi gua gak yakin kalo kesempatan kedua yang gua kasih akan buat lu lebih baik dari kesempatan pertama." Kataku.

"Gak ada orang yang mau baca buku yang sama untuk ke dua kalinya. Assalamualaikum." Lanjutku.

Aku pun pergi meninggalkannya. Bersama angin malam yang menyapu membawa udara dingin.

Tidak ada air mata, hanya perasaan bersalah. Maafkan aku Fahri. Ujarku pelan. Tidak ada yang mau lukanya di bongkar lagi atas alasan apa pun.

-Hana Larasati.

Pertengkaran

Kita bertemu di persimpangan. Kau menatap ku lekat di tengah malam yang pekat. Tak ada bintang malam ini. Bulan pun sepertinya bersembunyi.

Aku berjalan tegap. Bukan menantang, hanya menunjukan bahwa aku benar-benar baik-baik saja semenjak keperergianmu.

Sorot mata yang ku tunjukan ini masih sama, hanya rasanya saja yang berbeda. Bukan lagi kasih sayang melainkan kebencian.

Aku harap kekasihmu sadar, dan berhenti menuduhku masih menyimpanmu dalam ingatan. Karena mau atau tidak mau prasangkanya harus di patahkan. Rasa sakit yang begitu besar mustahil masih bisa menyisakan cinta.

Derap langakah kaki semakin mantap. Dulu memang aku sangat rapuh. Untuk sekedar yakin saja, aku membutuhkan sahabatku. Tapi kini, aku lebih kuat dari yang kau tau.

"Assalamualaikum." Ucapmu sopan. Kau menyungingkan senyum kepadaku.

"Wa'alaikumusallam."

"Kita harus bicara."

"Maaf gua buru-buru." Kataku sambil berjalan melaluinya.

"Gak akan makan waktu lama." Teriaknya ketika aku hampir menjauh.

Aku berhenti. Menjauhnya aku bukan karena takut terjebak masa lalu. Hanya saja pahit saat semua yang sudah di kubur harus di bahas dan di bongkar ulang.

"Apa? Semoga ini penting." Kataku singkat.

Dia berjalan mendekat, gesture tubuhnya mengisyaratkan aku untuk mengikutinya duduk di bangku jalan.

Kita duduk dengan jarak. Mataku ku fokuskan untuk menatap jalan. Memang keluar dari adab berbicara. Tapi masih terlalu sakit untuk sekedar menatapnya.

"Maafin gua." Katanya sambil menatapku

"Apa butuh waktu sampai 4 tahun buat bilang maaf?"

"Oke gua salah, gua udah bikin hati lu sakit.."

"Sorry, wait wait.. apa gua keliatan sakit? Gua sangat baik-baik aja. Oke mungkin waktu itu gua sempet sakit hati. Tapi itu dulu."

"Na, gua punya penjelasan kenapa gua ngelakuin itu."

"Penjelasan lu cuma jadi alasan di mata gua. Kalo yang mau lu bahas soal itu sorry gua masih banyak kerjaan. Jadi.. Assalamualaikum."

Aku pun berdiri dan berjalan meninggalkannya. Dia ikut bangkit dan mengejarku.

"Na, gua sayang lu!" Katanya.

Amarahku rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Tanganku mengepal dan dadaku sesak. Aku pun berbalik dan menghampirinya.

"Lu gila ya! Lu sadar gak sih apa yang lu omongin itu!"

"Kenapa? Apa gua salah?"

"Pikirlah! Lu udah sama Asma, dan gua juga udah bahagia sama Fahri."

"Ya tapi gua sayangnya sama lu Na."

"Sakit lu ya!" Aku pun berjalan tak karuan sangking emosinya.

Dia hanya terdiam menatapku menjauh. Tak lama dia mengejarku.

"Kasih gua kesempatan ke dua Na."

"Pergi gua mohon." Kataku dengan suara yang mulai bergetar.

Dia berhasil merarik tanganku dan menghentikan langkahku.

"Apa setiap pembelaan yang gua kasih gak pernah bikin lu mikir!"

"Bukan gua yang harus mikir, tapi lu! Pikirin gimana perasaan Asma di sana. "

"Gua sama Asma udah putus hampir satu tahun yang lalu."

"Terus sekarang dengan lu dateng ke gua dan ngakuin perasaan lu, lu mau bikin gua putus juga sama Fahri?! Gak akan bisa. Gua udah bahagia sama dia."

"Lu yakin bahagia? Kebahagian lu itu cuma gua Na."

"Jangan terlalu percaya diri bung!"

"Gua tau, Fahri cuma jadi pelampiasan kan buat lu!" Katanya sarkas.

"Jaga omongan lu ya!"

"Lu gak pernah sayang sama dia. Lu cuma kesepian dan kebetulan Fahri selalu ada buat lu."

"Berhenti!" Kataku sambil menutup kedua telingaku dengan telapak tangan.

"Kenapa? Ada yang salah sama omongan gua?" Katanya yang semakin mendekat.

"Lu bener-bener..." Kataku putus asa.

"Na, berhenti pura-pura."

"Dulu, lu kan yang minta gua buat ngelupain lu? Sekarang setelah hubungan lu hancur sama Asma lu balik ke gua dan berharap hubungan gua juga ikut hancur kaya hubungan lu. Mau lu apa?"

"Gua cuma mau kesempatan kedua gua Na."

"Tapi gua gak yakin kalo kesempatan kedua yang gua kasih akan buat lu lebih baik dari kesempatan pertama." Kataku.

"Gak ada orang yang mau baca buku yang sama untuk ke dua kalinya. Assalamualaikum." Lanjutku.

Aku pun pergi meninggalkannya. Bersama angin malam yang menyapu membawa udara dingin.

Tidak ada air mata, hanya perasaan bersalah. Maafkan aku Fahri. Ujarku pelan. Tidak ada yang mau lukanya di bongkar lagi atas alasan apa pun.

-Hana Larasati.

Sabtu, 25 Juni 2016

Kita

Tak mampu ucapkan kata-kata romantis saat bersama.. tak bisa seperti mereka .

Tak mampu ajak kamu makan berdua di restoran. Tak seperti mereka...

Tak mampu ajak kamu nonton berdua.. tak seperti mereka..

Tak mampu telfon setiap malam..
Tak seperti mereka..

Tak mampu ajak ketemu dan jalan-jalan bareng..
Tak seperti mereka..

Bukan kita orang ketinggalan zaman.
Cuma menghindari kemajuan zaman yang mulai aneh..
Tak cukup jika hanya sebagai sepasang kekasih tak karuan arah..
Harus ada pengikat..

Mungkin belum sekarang..
Tak mau banyak memaksa pada Allah..
Hanya mampu banyak-banyak bercerita ketika berduaan di sepertiga malam.. Mengadu semua hal.. .

Cukup dengar kabar..
Sehatkah?
Dimana kah?
Cukup.!

Nanti ada saatnya..😊 .

from  @febyanna_p -

Jumat, 24 Juni 2016

Amarah

Kali ini senja tak seindah biasanya. Untuk pertama kalinya dia membentakku. Sepertinya lukanya benar-benar parah.

Aku hanya menunduk tak berani menatapnya. Sebaliknya, dia berdiri dan menatapku tajam.

Aku sengaja tak bilang tentang ini. Aku pikir itu tak terlalu penting untuknya. Toh ini hanya masalah sepele dari masa lalu yang di ungkit lagi.

"Kamu harus selalu kaya gini?!"

"Apa salah aku?"

"Salahnya kamu gak pernah bilang kalau perempuan itu berkali-kali marah-marah sama kamu!"

"Ya karena itu enggak penting buat di bicarain."

"Terus buat kamu yang penting itu apa?!"

"Yaa.. banyak tapi bukan itu. Toh kalau pun aku bilang terus kenapa? Kamu mau balik marah sama dia gitu?" 

"Kamu tuh bener-bener ya. Di mata dia sekarang tuh kamu keliatan masih ngarep sama pacarnya. Kamu gak malu di tuduh gitu."

"Ya ngapain malu orang itu enggak bener."

" Astagfirullah Nirina!!"

"Astagfirullah Fahri."

"Aku tuh bingung mau gimana lagi sama kamu."

"Sama aku juga."

"Makanya kamu berhenti nulis masa lalu kamu. Banyak yang bisa kamu bahas gak cuma itu!"

"Tapi aku gak bisa berhenenti nulis."

"Aku gak nyuruh kamu berhenti nulis Na. Aku cuma mau kamu berhenti bawa-bawa masa lalu kamu."

"Itu sama aja kamu ngebatesin aku buat nulis. Apa bedanya sama nyuruh berhenti nulis?"

"Na.."

"Apa?"

Dia menatap putus asa ke arah ku. Dia pun memutuskan duduk di lantai, mungkin lelah menopang tubuhnya atau lelah menghadapi kenyataan bahwa aku menyebalkan.

"Fahri.." kataku yang ikut menyusulnya duduk di lantai tangga kampus.

Dia enggan menoleh ke arahku. Dia tetap duduk diam menatap jendela besar di samping tangga.

"Fahri, aku punya alasan kenapa aku gitu."

"Harusnya kalau kamu punya alasan kamu bilang ke aku."

"Percuma. Kamu juga gak akan ngerti."

"Kalau kamu mau jelasin aku pasti ngerti."

"Kamu gak akan ngerti gimana rasanya waktu kamu pertama kali jatuh cinta tau tau orang yang kamu cintai nyakitin kamu."

"Fix, i'm forgive but not forget. And you know,  Aku gak tau harus ngelampiasin kemana. Yang aku tau cuma nulis Ri. Kamu juga tau aku susah buat cerita sama orang lain."

"Tapi itu bukan alasan Na."

"Tuh kan bener kamu gak akan ngerti. Kamu gak ngeliat dari sudut pandang aku, kamu cuma ngeliat dari sudut pandang kamu, sama aja kaya dia." Kataku.

Dia hanya diam. Kemudian mengacak rambutnya dengan jari.

"Terserah kamu deh Na." Katanya sembari bangkit dan berjalan menjauh.

Aku hanya terdiam membatu melihat sosoknya yang berjalan menjauh. Tidak ada air mata hanya pengap dan sesak di dada.

"Aku pikir kamu bisa ngerti Ri." Kataku pelan. Tapi seberapa kuat aku tahan, bulir-bulir air mata ini akhirnya jatuh juga.

Beberapa menit meratap, akhirnya aku pun berdiri dan mengokohkan pijakanku. Berjalan gontai ke arah pintu. Dalam mata sembab yang terselubung air mata. Samar-samar aku melihat sosoknya duduk di atas motor.

Spontan aku langsung mengelap sisa-sisa air mataku. Ketika melihat sosokku dia berdiri dan menghampiriku.

"Aku pikir kamu udah pulang." Kataku dengan suara yang masih agak tersekat.

"Udah di elap dulu air matanya. Di pikir cantik apa kalo nangis." Katanya sambil tersenyum.

"Maafin aku." Kataku.

"Aku cuma gak mau kamu di tuduh macem-macem Nirina."

"Dia gak nuduh aku Fahri. Kita berteman kok."

"Kamu yakin berteman?"

"Iya." Kataku mantap.

"Na's gak ada sejarahnya mantan pacar sama pacar barunya mantan temenan."

"Kamu mah su'udzon terus orangnnya."

"Aku gak su'udzon. Cuma antisipasi toh prasangka itu manusiawi kan?"

"Aku percaya dia. Dimata aku perempuan itu selalu sama. Baik."

"Iya. Tapi jangan terlalu percaya sama orang Na."

"Iya Bang Kumis. Bawel nih!" Kataku sambil memukulnya dengan kertas.

"Oke siip." Katanya sambil mengacungkan jempolnya.

"Jadi? Ngambeknya gak jadi nih?" Kataku sambil tersenyum ke arahnya.

"Bodo."

"Yeeh. Padahal aku udah nangis tuh eh gak jadi." Kataku semakin meledeknya.

Dia menatapku sebal dan kemudian tertawa sambil berucap.

"Aku sayang kamu." Katanya pelan di perjalanan ketika mau mengantar ku pulang.

"Aku udah tau." Kataku yang kemudian lari dan masuk ke dalam angkot.

Dia hanya diam dan tersenyum di atas motornya. Sambil melambaikan tangan bibirnya bergerak mengucapkan hati-hati di jalan.

Entah makna cerita ini apa? Hahaha. Yang aku tau aku sayang dia.

Np : CERITA INI HANYA FIKTIF JIKA ADA KESAMAAN NAMA ATAU KEJADIAN JANGAN BAPER!

-Hana Larasati

Rabu, 22 Juni 2016

Untuk Idolaku

Mungkin ini waktunya. Sayap-sayap malaikat yang sempat menjadi hijab untuk memisahkanmu dengannya kini mulai tersingkap membuka.

Perempuan ayu yang dulu pernah luka hatinya. Kini muncul ke permukaan dengan cahaya keimanan dan kepintaran yang menyinari sekitarnya.

Masa-masa jahiliah pernah di lewatinya. Saat hati menolak untuk berpisah. Sangat wajar karena itu sebagian proses dari kehidupan manusia.

Laki-laki itu meninggalkannya karena satu alasan yang dulu sempat di tolak oleh akal manusia.

Dia meninggalkan perempuan ayu itu karena satu hal. Takut pada Sang Maha Kuasa. Alasan yang klise memang dan terselubung kebohongan apa lagi di usia yang sangat belia.

Tapi dia serius dengan ucapannya. Tak pernah ku lihat dia menyentuh perempuan yang bukan mukhrimnya. Jangankan menyentuh sekedar menatap pun dia tak bisa.

Di belahan bumi yang lain. Perempuan ayu itu pun mulai membenahi lukanya. Membalut sedikit demi sedikit dengan ilmu dan iman.

Hingga pada suatu masa dia benar-benar siap berdiri tegap di atas kakinya. Pikiranya lurus, selurus jalanMu menuju surga.

Hanya Engkau satu-satunya yang kini menjadi cinta di hatinya. Dia terus bergerak, berjuang melawan nafsu dan kebodohan di jalanMu.

Aku selalu banga dengan sosoknya. Perempuan akhir zaman yang menjadi pelita bagi sahabatnya.

Matanya yang teduh dan tutur katanya yang lebut tapi tegas untuk segala hal kemunkaran.

Dia tak hanya sahabat di mataku. Tapi guru dan teman hidup yang selalu menuntun jalanku.

Tak lepas lisanku mendoakan kebahagian mereka. Dua insan yang sempat terpisah karena taat pada Allah menjadi teladan untuk semua.

Mereka sadar ketika jatuh cinta Pencipta di urutan tertinggi dari pada ciptaanNya. Di jalan yang sulit, mereka berdua sama-sama menjadikan Allah sebagai pelindungnya.

Semoga kalian selalu bahagia. Bagaimana pun jalannya kedepan. Entah kalian akan di bersatukan lagi atau sama-sama mendapatkan yang terbaik, itu masih jadi rahasia.

Satu yang aku tau. Kalian adalah salah satu teladan di akhir zaman ini. Yang walau pun aku tau keterbatasan manusia dalam melawan nafsunya, tapi kalian bisa meredamnya.

Benar-benar menjaga izzah dan iffah hingga kata halal terucap. Semoga terus menjadi contoh untuk para sahabat mu ya. Kalian pasti lebih tau bahwa yang baik untuk yang baik. Semoga kalian berdua mendapatkan yang terbaik. Aamiin.

-Hana Larasati

Ar- Rahman dan Al-Qur'an Coklat

Aku mengintipnya dari sudut mataku. Dia duduk tepat di depanku. Kali ini dia mengenakan koko coklat.

Rambutnya yang biasanya tergerai sebahu, kali ini dia ikat rapi. Aku terus menatapnya. Tak terasa sesunging senyum terlontar untuknya.

Dia berjalan dengan tegap keluar kelas, ketika pergantian mata kuliah. Aku masih saja mengintipnya dari bangku.

Ingin sekali mulutku mencegahnya pergi. Tapi... ah lancang sekali lisan ini. Jadi aku memutuskan untuk merunduk lagi.

Dari tiap detik yang berpendar hanya dia yang melekat dalam ingatan. Membuat senyum terkembang dengan lebar.

Tiba akhir jam mata kuliah, dan mataku terus mencari sosoknya. Dalam derap langkah para mahasiswa yang keluar dari kelasnya. Mataku tak lepas mencari dimana dia?

"Nyari siapa non?" Suara yang aku kenal betul siapa orangnya. Aku pun memejamkan mata malu dan berbalik berharap tebakan ku salah.

Dia sudah berdiri gagah di hadapanku. Seakan dari tadi menungguku keluar pintu. Seketika terlihat semburat merah jambu di pipiku.

Aku mencoba menenangkan debar ini saat berpapasan dengannya. Tapi dia seolah memiliki telepati ke otakku hingga selalu tau bahwa aku sedang meredam perasaanku.

"Gak nyari siapa-siapa." Kataku singkat.

"Mana mungkinnnnn." Katanya mengejek. Dia benar-benar menyebalkan jika sudah begini.

Aku pun berlalu pergi. Usaha yang jitu untuk menetralisir detak nadiku. Tapi dia mengikutiku seperti Tinkerbell dengan Pater Pan.

Aku pun melangkah kan kaki dengan sedikit berlari. Dia masih saja mengikutiku di belakang. Hingga kita berpisah di suatu lorong. Dia masuk ke salah satu kelas di sana. Aku pun menghela nafas lega.

Dia pria pendiam yang hanya mengamatiku lewat senyum dan tatapan mata. Entah kenapa akhir-akhir ini dia menjadi agak menyebalkan.

Muncul tiba-tiba, tanpa suara dan selalu mengagetkan. Aku pun duduk di pinggir taman. Membuka halaman perhalaman bukuku. Mencoba mengerjakan tugas-tugas yang aku rasa baru bisa menyelesaikan semua tugas ini ketika lulus.

"Mau di bantuin gak?" Suara itu lagi. Benar kan kataku, dia selalu datang tiba-tiba bagai hantu.

"Enggak." Kata ku singkat.

"Kenapa? gua bisa kok ngajarin lu." Dia sekarang duduk di sampingku.

"Karena, lu bukan ngajarin gua, tapi ngerjain tugas gua. Gimana gua mau bisa kalo gitu terus?" Kataku yang masih sibuk menghitung rumus fuzzy.

Dia hanya mengangkat bahunya kemudian menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.

Kita terdiam cukup lama. Hanya suara angin dan deru kendaraan yang membuat suasana tak begitu sunyi.

"Mantan masih ngehubungin?" Katanya yang langsung membuka percakapan tanpa basa basi.

"Enggak kok, terakhir dia cuma ngehubungin pas awal puasa." Kataku yang masih saja menulis.

"Apa?" Matanya mulai fokus padaku.

"Dia bilang gua suruh ngelupain dia." 

"Haha. Orang mah bulan puasa dateng minta maaf, ini minta di lupain. Antik." Dia tertawa mengejek.

"Gak taulah. Setelah 2 tahun ngilang tanpa kabar, dateng-dateng cuma bilang minta di lupain. "

"Lah udah kaya film AADC."

Dia mulai mendekatkan letak duduknya denganku. Dan berbisik pelan di kupingku.

"Bilangin dia Han. Kurang-kurangin yang kaya begitu." Lanjutnya

"Sudi!"

Dia tertawa mengejek. Tersemat lesung pipi pada kedua pipinya. Aku suka jika sudah begitu. Wajahnya benar-benar sangat manis.

"Lu sakit hati gak Han? Atau kesel gitu?" Katanya.

"Sakit hati buat masalah kaya gitu? Lu bercanda? Banyak yang harus di pikirin."

"Tapi perlakuannya."

"Ya dia begitu mungkin karena emang gua salah dari sudut pandangnya." Kataku santai.

"Lu masih sayang ya Han?" Katanya yang sekarang mulai mendekatkan mukanya ke binderku. Meneliti rumus-rumus yang aku gunakan dalam mengerjakan tugasku.

"Ada gitu hubungannya? Itu cuma pemikiran gua aja." Kali ini aku menutup bukuku tepat di depan mukanya yang ingin tau.

"Tapi itu lu ngebela." Katanya tak mau kalah. Sekarang dia benar-benar sangat menyebalkan.

"Harus ya setiap kita ketemu, masa lalu yang harus di bicarain?!"

"Ya.. karena gua masih aja rancu."

"Kita gak mau ngomongin soal kita?" Kataku yang membuat matanya menyorot ke mataku.

"Kita?"

"Iya. Gimana tilawahnya? Yang janjiin surah Ar-Rahman apa kabar ya?" Aku menatapnya mengejek. Dia sedikit salah tingkah dan aku suka.

"Em... baru hafal 5 ayat Han." Katanya malu.

"Semangat ya." Kataku.

Dia hanya tersenyum simpul dan langsung membacakan 5 ayat yang berhasil dia hafal.

"Ar Rahman. Allamal qur'an. Khalaqal insān. Allamahul bayān. Asy syamsu wal qamaru bihusbān."

Aku hanya tersenyum menatapnya menghafal. Dengan mata tertutup, hanya bibir yang mengantup-antup membuat kumisnya yang tipis bergoyang mengumamkan ayat suci Al-qur'an.

Mungkin dia bukan laki-laki dengan tipe penampilan anak masjid. Walaupun dia selalu berusaha begitu. Tapi usahanya selalu saja membuatku terkikik.

Walaupun begitu dia selalu menjauhi hal-hal yang dilarang selama hidupnya berkat nasihat ayahnya. " Sebelum kamu melakukan sesuatu, ingat kamu menyandang nama Muhammad."

Aku masih saja menatapnya. Dia masih tertunduk membuka aplikasi Al-qur'an dalam handphonenya. Bibirnya masih mengantup-antup mengumamkan ayat-ayat yang ada di dalamnya.

"Jangan ngeliatin nanti batal puasanya." Katanya yang sukses membuat aku jadi salah tingkah.

"Fa bi'ayyi ala'i rabbikuma tukazziban." Kataku membalasnya.

"Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?" Aku mengerling ke arahnya dan mulai menatap jalan lagi.

Dia hanya tersipu malu. Dan bergumam pelan.

"Makasih kamu mau mengenalkan aku pada Tuhanku dan Tuhanmu."

"Aku tidak mengenalkan hanya sedikit mengajak mu menjadi teman perjalanan. Dan dalam perjalanan aku sedikit bercerita tentang tempat tujuan kita. Alhamdulillah kamu mau tau, dan akhirnya jatuh cinta pada tempat tujuanmu."

"Terima kasih." Katanya yang masih mengengam Al-Qur'an coklat hadiah ulang tahun ke 21 nya yang aku berikan beberapa bulan yang lalu.

-Hana Larasati