Selasa, 30 Agustus 2016

Pamit

" Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Kutetap teman baikmu "

-Pamit (Tulus)

Sudah hampir lima kali aku putar lagu itu di dalam handphone.

Kau menatapku ragu dari tempat dudukmu. Kita terdiam cukup lama. Mungkin kita sibuk dengan pikiran masing-masing.

Sampai jam menunjukan pukul 10:00 salah satu dari kita tidak ada yang mau menjelaskan apa pun. Ruangan pun seakan di buat mendingin.

"Pamit." Kau menyeringai ketika melihat playlist laguku.

Aku masih terdiam. Mungkin dinginnya hujan yang membuatku diam, atau adanya kamu?

Dia hanya tersenyum menatap mukaku muram. Sesekali membalik lembar catatannya dan menatapku lagi.

"Lu mau dia bawain apa dari gunung Han?" Kata temanku yang ada di dalam kelas juga.

Aku tersenyum lemah menghadapnya.

"Bawa pulang dia dengan selamat."

Mereka hanya tertawa.

"Kakak Andro mah strong gak usah di khawatirin." Kata Kamil

"Tuh. Aku mah kuat kaya superman."

Aku semakin sebal dengan jawabannya.

"Kan sekarang musim hujan. Nanti kalo longsor gimana?" Kataku menatap ke arahnya.

"Bukannya kemarau ya?" Kata Dio.

"Di rumah gua setiap hari hujan." Kataku polos.

"Itu karena rumah kamu di kota hujan." Katanya tertawa.

"Andromeda, udah biasa naik gunung Han. Gak usah khawatir." Kata Nuri menenangkan.

"Tapi..." kataku.

Sebelum aku bisa meneruskan ucapanku dia langsung mengeser 2 bangku yang dari tadi menjadi sekat antara kita.

"Ketakutanmu cuma sebatas pemikiranmu."

Aku hanya tersenyum.

"Kita berangkat jam berapa sih Ndro?"

"Dari sini habis dhuhur aja Mil." Katanya kepada temannya.

"Semuanya udah lengkap?" tanyaku kepadanya.

Dia memeriksa tasnya.

"Baju, jaket, obat, makanan, kaos kaki, minum, tenda.." katanya sambil melihat-lihat tasnya.

Aku memperhatikan dengan seksama. Sampai akhirnya dia berbicara lagi.

"Wah kurang satu lagi nih."

"Apa?"

"Kamu.  Buruan masuk ke tas."

"Tau ah. Serius."

"Udah Han."

"Tanda pengenal udah?"

"Ada nih. Andromeda Fahri, tanggal lahir 28 Maret 1995. Status belum menikah. Pekerjaan jagain Hana." Katanya sambil membaca kartu mengenalnya.

"Ciyeeeee." Serempak teman-temanku menyoraki kami.

Aku hanya tertawa.

Tak lama adzan dhuhur berkumandang. Dia dan teman-temannya bersiap ke musolah kampus untuk menunaikan solat dhuhur.

Aku dan Nuri yang memang berhalangan memutuskan untuk ke kantin. Di perjalanan menuju kantin, kami bertemu dengan seorang perempuan yang menurutku dia junior. Karena mukanya asing.

"Kalo cuma temenan jangan di atur-atur banget lah." Katanya melengking.

Aku yang tidak merasa kata-kata itu untukku berjalan saja dan mengabaikannya.

"Naik gunung aja gak boleh, harusnya mendukung dong." Dia mulai lagi.

Aku tetap diam. Buatku selama dia tidak menyebut namaku itu bukan untukku.

"Mentang-mentang senior dan seangkatan kak Andro gak usah belagu."

Kali ini aku berbalik. Aku yakin kata-kata itu untukku.

"Maaf, kamu itu siapa?" Kataku (mencoba) sopan kepadanya.

Dia terdiam sesaat.

"Gua, yang deket sama kak Andro."

"Terus atas dasar apa kamu bilang kaya gitu?" Kataku mencoba menekan amarahku.

"Atas dasar gua gak suka lu ngatur-ngatur kak Andro."

"Aku gak ngatur Andro."

"Lu kan yang nyuruh kak Andro gak naik gunung. Asal lu tau ya, selama kak Andro sama lu dia juga deket sama gua."

"Mana ada sih cowok yang mau diatur-atur. Dia pasti lebih milih cewek yang ngasih dia kebebasan." Lanjutnya

Aku menarik nafas panjang dan berlalu pergi menghiraukannya. Tapi dia menarik tas selempangku. Nuri yang kaget pun berbicara.

"Eh, lu maunya apa sih? Lu tuh cuma junior gak usah banyak tingkah deh. "Katanya emosi.

"Gua mau, dia jangan deket-deket Andro!" Katanya melengking sambil menunjuk ke arahku.

"Lu siapa!" Kata Nuri lebih tinggi.

Kamil datang tepat waktu sebelum terjadi pertikaian yang makin besar. Dia sedikit berlari menghampiri kami.

"Ada apa ini?!"

"Itu kak dia nyolot!" Kata perempuan itu.

"Eh ngaca, yang mulai duluan siapa!"

"Udah, udah. Nuri, lu kan senior di sini kasih contoh dong ke yang junior."

"Tapi yang di kasih contoh gak punya otak Mil!" Kata Nuri sarkas.

"Kenapa sih awalnya?"

"Itu dia ngata-ngatain Hana. Ngaku-ngaku jadi pacar Andro lagi. Gak tau malu."

"Yaudah jangan berantem. Bubar.. bubar. Kalian mau nanti, kalo ketauan dosen di kasih SP?"

Kami pun akhirnya bubar. Kamil menemaniku dan Nuri, ke sebuah kelas kosong di lantai 1.

"Kamu ngapain sih Mil belain dia." Kata Nuri masih emosi.

"Aku bukan belain dia Nur, tapi aku ngelindungin kamu sama Hana. Kalian udah semester 7 sedikit lagi wisuda. Emang mau di kasih SP cuma karena masalah beginian?" Kata Kamil menenangkan. Sekedar informasi Kamil adalah pacarnya Nuri.

"Iya Mil, lu bener. Makasih ya." Kataku. Tapi Kamil sepertinya tau bagaimana perasaanku mengingat raut wajahku yang berubah.

"Dia bukan siapa-siapanya Andro, Han."

"Gua cuma heran kalo bukan siapa-siapanya kenapa dia bisa sepede itu?"

"Kamu mah Han, perempuan kaya gitu di dengerin." Kata Nuri.

"Dia bisa pede mungkin karena Andro pernah boncengin dia Han. Tapi percaya aja sama Andro. Gua yang tau dia. Dia sayang lu Han." Kata Kamil.

Tak lama Andro datang menemuiku. Nuri dan Kamil memberi jarak untukku dan Andro berbicara.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumusalam."

Dia terdiam. Aku juga.

"Udah solat kan? Yaudah siap-siap sana yang mau pergi. Hati-hati ya." Kataku mencoba tersenyum.

"Jangan mikirin. Itu gak bener."

"Suatu hari yang bener dan salah pasti kebongkar."

"Ayok ikut aku." Katanya seraya berdiri

"Kamu mau apa?"

Dia hanya terdiam.

"Kamu mau apa Andro."

"Tabayun. Kita ketemu sama anak itu. Kamil sama Nuri ikut ya." Katanya sambil menoleh ke arah Kamil dan Nuri.

Akhirnya aku menurut. Aku mengengam erat tangan Nuri.

"Jangan takut. Andro bela kamu."

"Itu yang aku takutin. Karena Andro selalu belain aku. Aku takut dia semena-mena."

"Hahaha Andro gak sejahat itu Han."

Sampailah kita pada tempat pertikaian tadi. Andro melihat perempuan itu dan memanggilnya.

"Bin. Sabrina sini." Kata Andro.

Perempuan itu pun berjalan mendekat. Aku sulit menerjemahkan raut wajahnya. Antara senang dan waswas.

"Ada apa kak?" Katanya.

"Kamu tadi ngomong apa ke Hana sama Nuri?"

"Enggak kak. Cuma bilangin dia jangan suka ngatur-ngatur kakak."

"Hana gak pernah ngatur-ngatur aku."

"Tapi dia gak ngebolehin kakak naik gunung."

"Kata siapa? Hari ini aku mau berangkat mendaki sama Kamil ke Semeru."

Dia hanya terdiam.

"Satu lagi. Aku gak pacaran dan aku gak punya pacar." Kata Andro tegas menatapnya.

"Aku punyanya temen dan temen hidup kalo beruntung." Lanjut Andro sambil menatapku dan tersenyum.

Sekarang dia benar-benar terdiam. Aku, Andro, Kamil, dan Nuri pun pergi meninggalkanya.

Karena sudah pukul 14:00 aku dan Nuri mengantar Andro ke mobil ayahnya.

"Keretanya berangkat jamberapa?" Kataku.

"Jam 5 atau setengah 6. Tapi kan trafic jadi dari sekarang aja."

"Hati-hati." Kataku sebelum dia masuk ke mobilnya.

"Itu kata-kata ke 2134 yang aku denger hari ini." Katanya

Aku hanya tertawa.

"Gak ada yang boleh nyakitin kamu Han. Gak ada."

"Makasih." Kataku

"Tapi kamu pernah boncengin dia ke kampus kata Kamil." Lanjutku.

"Waktu itu macet parah Han dan lagi UAS." Katanya.

"Tidak mencintai bukan berarti harus membencikan?" Lanjutnya.

Aku tersenyum.

"Yaudah masuk sana. Nanti ketingalan kereta lagi." Kataku.

"Aku naik naga."

Dia pun berlalu pergi aku dan Nuri melambaikan tangan mengantar kepergiannya.

Berdiskusi adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Dan memendam bukan solusi dalam menghadapi masalah.

Hati-hati di jalan Andromeda. Sampaikan salam dariku untuk semeru.

-Hana Larasati






Minggu, 28 Agustus 2016

Kado Ulang Tahun.

Aku seperti di seret waktu menuju alam yang berbeda. Untuk pertama kalinya aku keluar dari zonaku.

Tak ada gedung, tak ada asap, tak ada mobil, tak banyak peradaban. Hanya ada pohon, hutan, air, dan kamu.

Takjub. Satu kata yang mewakilkan semuanya. Saat lidah tak bisa mengartikan rasa.

Ternyata ini kejutanmu sebelum meninggalkanku pergi bersama kawananmu. Kau selalu ingat setiap kata dan harapan yang dengan tidak sengaja aku ucapkan.

Seperti saat aku berkhayal.

"Ada gak ya, naik gunung tapi gak pakai mendaki."

"Kamu naik elang aja Han. Hahah."

Atau yang ini, ketika dia memasang foto di puncak merbabu tahun lalu.

"Aku mau kesituuuuuu."

"Emang boleh naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali?"

"Boleh. Kalo aku kuat!"

"Kalo gak kuat?"

"Naik gojek."

"Weh, gak ada woyy!"

"Yaudah naik kamu."

"Tak gendong kemana-mana~" katanya sambil bernyanyi.

11:58

Di bawah atap teduh langit Bogor. Kita pergi tanpa rencana. Dia membawaku ke jalan arah Bogor kota.

"Kita mau kemana sih?"

"Kan katanya mau ke Nurul."

"Tapi kok lewat Bogor?"

"Gapapa biar jauh."

"Kurang kerjaan."

"Dari pada kurang waras hahaha." Katanya.

Aku juga tertawa.

"Nanti kalau Nurul nanya, bilang kita habis dari Mesir." Lanjutnya

"Biar apa bilang gitu?"

"Biar gak percaya hahaha."

Aku pun tertawa lagi.

Jalan yang kami lalui semakin lama semakin asing. Gunung salak seakan dekat dengan jangkauan. Banyak sawah dan perkebunan di samping kanan kiri.

"Kita mau kemana sih?"

"Ke Nurul."

"Bukan ini jalannya. Kamu mau nyulik aku ya?"

"Hih ngapain. Kamu makannya banyak."

"Enak aja. Enggak tau!"

Setelah satu setengah jam lebih. Akhirnya aku tau kita kemana. Kita ke taman nasional halimun salak.

Suasana sejuk khas pengunungan menyambut paru-paruku. Pohon-pohon yang tinggi dan beberapa jenis pakis pakisan menambah eksotis gunung ini.

"Kamu kok tau........"

"Aku juga tau kok tanggal lahir kamu." Katanya memotong kalimatku.

Kemudian dia memberhentikan motornya di area hutan pinus. Aku pun masuk ke area hutan dan langsung mengisi paru-paruku dengan oksigen sebanyak-banyaknya.

Ketika aku sedang asik mengagumi ciptaan Tuhan. Dia berjalan mendekat ke arahku.  

" Selamat ulang tahun." Katanya.

"Udah lewat!"

"Bulannya kan belum."

Aku hanya tertawa.

"Ini kado buat kamu. Sengaja bukan barang. Kamu kan orangnya gak mau di kasih apa-apa."

Aku hanya tertawa.

"Kita ke gunung, versi kamu. Tanpa capek dan tanpa dingin banget. Jadi kamu aman, gak akan sakit dan alergi."

"Makasih." Ucapku terpana olehnya dan ciptaan Tuhan yang Maha Agung.

"Aku sekarang jadi tourguide kamu!" Katanya.

"Siap pak!"

"Kita ke curug mau? Harus mau! Kalo enggak pulang jalan kaki."

"Apa-apaan ini ngasih pilihan tapi tidak memperbolehkan memilih?!" Kataku sambil tertawa.

Kita pun kembali melanjutkan perjalanan. Di atas motor dia berbicara bagai tourguide profesional.

"Ini namanya pohon." Katanya.

"Ohh." Kataku seperti manusia yang belum pernah melihat pohon.

"Kalau yang ada airnya itu namanya sungai."

"Bukan got ya pak?"

"Bukan. Got yang airnya hitam. Kalau yang airnya jernih namanya sungai. Kalau yang cantik namanya Hana."

Aku hanya tertawa. Setelah menempuh perjalanan yang mengasikan kita pun sampai pada tujuan.

Di sini terdapat banyak air terjun. Tapi kita pilih yang paling tinggi. Curug kondang atau orang-orang menyebutnya curug ngumpet 2.

Terdapat sungai yang cukup lebar di sepanjang jalan menuju curug. Dihiasi dengan batu-batu kali dan di apit oleh tebing batu yang berselubung pohon.

"Kita naik-naik ke puncak curug pakai tangga. Tenang gak tinggi-tinggi sekali kok." Katanya.

"Siap. Segini mah aku kuat!"

Kita pun berjalan menelusuri tangga. Lumayan untuk olahraga kaki. Akhirnya sampailah kita di air terjun.

Airnya dingin bagai es. Aku pun langsung mengulung celana ku dan bermain di pinggirannya.

Bagai anak kecil yang menemukan hal baru, aku riang bukan kepalang.

Dia duduk menatapku dari batu. Sesekali menjepretku dengan kameranya saat aku bermain cipratan air dengan anak kecil.

Dia tersenyum dan berkata.

"Alhamdulillah."

Aku pun tersenyum juga kemudian mencipratkan air ke arahnya. Dia pun turun dan bergabung dengan kita.

Bahagia itu bukan seberapa mewah tempatnya. Tapi seberapa besar kamu bersyukur.

Setelah puas bermain air dia mengajakku minum teh di sebuah warung di pinggir tebing yang viewnya menjorok ke arah kota Bogor.

"Makasih ya." Kataku.

"Makasih juga."

"Emang aku ngasih apa?"

"Ngasih kebahagiaan. Akhirnya kita bisa naik gunung bareng."

"Tapi masa gak mendaki. Malah naik motor."

"Yang penting kan naik gunung."

"Kamu seneng gak?" Lanjutnya

"Bangettt."

"In shaa Allah nanti kita naik gunung yang beneran."

Aku terdiam.

"Gak ada yang gak mungkin." Dia mulai tersenyum. Di sambut oleh sinar jingga senja. Kita menutup hari dengan bahagia.

"Kita pulang yuk."

"Gak mau nginep?"

"Enggak ah."

"Aku udah bawa tenda tuh."

"Gak mau. Tendanya cuma satu. Masa berdua."

"Kata siapa berdua. Itu mah buat kamu sendiri."

"Kamu?"

"Aku mah pulang. Biarin aja kamu nginep di jagain tenyom."

"Ciyalannnnnn."

"Hahahahaha."

Kita pun pulang menuju peradaban yang sumpek, berdebu, dan memusingkan. Terimakasih kamu untuk harinya dan kado ulang tahun antimainstreamnya. 😁

-Hana Larasati

Kamis, 25 Agustus 2016

Senja

Senja, sore ini kau begitu cantik. Sangking eloknya engkau, burung-burung camar dengan riang berterbangan di langit jingga mu.

Aku sebagai penikmatmu, memaknai ini dengan senang hati. Apa lagi ditambah roti coklat dan laki-laki kesukaanku. Sungguh bahagia itu sederhana.

Hari ini, dia ingin aku menemaninya duduk menikmati cahayamu di rooftop kampus. Tempat yang tidak lazim memang. Tapi jadi kesukaan.

Kita bercerita tentang ujian dan liburan. Kau tau, matanya sedikit redup sore itu.

"Kamu jadi naik gunung liburan nanti?" Kataku.

"Iyah."

"Gunung mana?"

"Semeru."

"Aku boleh nitip gak?"

"Jangan tulisan ah. Kaya anak alay. Gak mau aku."

"Bukan. Nitip pesen jaga diri baik-baik di sana."

Dia hanya tersenyum. Tapi matanya masih saja redup.

"Kamu kenapa?"

"Apanya yang kenapa?"

"Kok kaya gak semangat gitu."

"Enggak kok. Biasa aja."

"Sama anak-anak tongkrongan kan ndakinya?"

"Iya."

"Terus kenapa kaya gak seneng gitu?"

"Aku ndaki sama kamunya kapan?"

Sekarang mataku yang redup. Dia menatapku dalam. Kita terdiam cukup lama. Sampai akhirnya kata-kata itu keluar.

"Maaf ya. Aku belum bisa ikut naik gunung. Kita..... gak tau bisa atau enggak muncak bareng. " kataku sambil menunduk.

"Kenapa sih?"

"Ya, karena... aku alergi dingin. Sebenernya itu bukan alasan. Tapi, dari pada di sana aku nyusahin kamu. "

Dia tertawa dan aku bisa melihat matanya tak seredup tadi.

"Jangan gitu mukanya jelek!" Katanya.

Aku hanya tertawa. Tawa yang anta.

"Maaf." Kataku.

"Tenang aja. Aku bukan tipe yang cuma sekedar nyari yang bisa di ajak muncak bareng kok. " katanya

Aku masih saja diam dan menunduk memainkan sepatu.

"Itu gak penting. Kamu, gak tau sadar atau enggak. Gak tau sengaja atau enggak. Udah ngerubah aku." Lanjutnya.

Aku mulai berani mendongak dan menatap ke arahnya.

"Itu, itu yang lebih penting dari sekedar temen perjalan traveling, mendaki, baca buku, minum teh. Kamu, perempuan antik, aneh, susah di tebak. Yang udah jadi tourguide aku di jalanNya. Makasih."

"Bohong. Aku tau kamu kecewa!" Kataku tanpa melihat ke arahnya.

"Terserah."

"Aku tau, kamu bilang begitu cuma bikin aku gak merasa bersalah aja kan."

"Enggak."

"Bohong."

"Penilaian bohong atau enggak itu tergantung pemikiran kamu dan kebenaran dari bohong atau enggak itu hanya Allah yang tau."

Aku masih terdiam.

"Ini kan hari terakhir kita ketemu sebelum liburan. Jangan gitu."

"Iyah."

"Kita main aja yuk main." Ajaknya.

"Main apa?"

"Main becekan."

Aku hanya tertawa.

"Kamu tau gak dulunya aku gimana?"

"Enggak."

"Mau aku ceritain apa enggak?"

"Aku boleh bilang enggak, gak?"

"Kenapa gak mau aku ceritain? Takut bosen ya dengerin cerita aku?"

"Bukan. Masa lalu itu punya kamu. Jangan di buka lagi aib apa yang udah Allah tutup."

"Iyah."

"Setiap orang punya masa lalu. Punya cara buat belajar dari masa lalu. Punya taktik buat menghindar dari kesalahan di masa lalu. Aku percaya kamu bisa. "

"Pround of you my beloved friend." Dia tersenyum menatapku.

Tak lama setelah percakapan kita.  Handphoneku berdering. Ternyata teman mengajarku yang menelpon. Hari ini memang aku izin untuk tidak masuk mengajar, karena ada UAS. Jadi dia yang menggantikanku.

"Assalamualayikum, Dina ada apa?"

"Waalaimussalam kak Hana. Gini soal Hasan, anak jilid dua kelas kakak."

"Iya ada apa denga Hasan?"

"Itu, Dina gak tau lagi harus bilangin dia kaya gimana. Bandel banget kak anak itu."

"Iya aku tau."

"Tadi dia ngelepasin ayam jagonya Bu Tami yang baru beli dari kandang. Aku marah-marahin, dia kaya gak ada takutnya kak. "

Aku masih mendengarkan.

"Aku gak bisa kaya kakak yang ngomongnya lembut 'anak soleh, anak pinter. Ayo duduk diem' aku greget. "

"Hahah. Setiap pengajar emang punya cara mengajarnya masing-masing. Kamu, aku, Bu Tami. Kita semua punya cara untuk berinteraksi dengan para santri."

"Sekarang aku tanya kenapa kalau kita marah kita teriak?"

"Karena untuk ngelampiasin emosi kak."

"Bukan, karena sewaktu kita marah hati kita jauh sama dia. Jadi kita berteriak walaupun jaraknya dekat. "

"Sekarang aku tanya, gimana caranya biar orang itu ngerti apa maunya kita?"

"Dengan berdiskusi lah kak."

"Nah itu. Diskusi adalah cara penyampaian pendapat yang dimana harus ada keselarasan pemikiran. Keselarasan pemikiran bisa terjadi kalo hati kita terkendali. Gimana mau selaras pemikirannya kalau hatinya jauh?"

" Itu sebabnya kenapa kalau aku menyikapi anak-anak yang... bukan bandel sih aku nyebutnya. Aku gak pernah bilang anak-anak bandel. Tapi butuh perhatian, dengan gak teriak ke mereka. Karena selain capek, mereka gak akan ngerti juga." Lanjutku.

" Mereka kan udah gede masa iya kak gak punya pikiran?" Katanya.

"Segede-gedenya mereka itu paling kelas 6 SD Na. 😂😂 Paling umurnya baru berapa, 12 tahunan kebawah."

"Sedangkan kita udah 20 tahunan ke atas. Beda antara pemikiran kita sama mereka. Ibaratnya kaya kita tanya ke mereka soal bintang. Mereka pasti bilang bintang itu kecil. Sedangkan kita yang pemikirannya sudah jauh, akan bilang bintang itu besar, kecil karena kita lihat dari jarak yang jauh."

"Kita gak bisa maksa mereka buat ikuti pemikiran kita. Mereka menganalisis masalah cuma dari apa yang mereka lihat, nah kalau kita berpikir dari analisis sumber-sumber yang dapat kita percaya."

"Jadi Dina salah kak marahin Hasan?"

"Enggak Na, enggak salah. Kan kaya yang aku bilang di awal setiap pengajar punya caranya masing-masing. Bu Tami dengan keseriusannya, aku dengan kelembutannya, kamu dengan ketegasannya. Setiap kita punya caranya."

"Dina bener-bener gak bisa ngomong lembut anak soleh, anak pinter kaya kakak."

"Gimana ya Na? hahah. Ya kamu gak perlu jadi aku. Jadi diri kamu aja sendiri. Kalo versi aku, setiap ucapan itu adalah doa, jadi yaudah aku bilang aja yang baik baik. Kalo gak ke kabul sekarang, in shaa Allah di masa depan. Aamiin."

"Hahah iya kak aamiin."

"Eh iya, kamu masih di pengajian Na?"

"Masih kak."

"Masih ada Hasan?"

"Ada kak, anak-anak yang lainnya juga ada. Lagi pada nulis hadist buat hafalan hari Jum'at."

"Boleh kasih teleponnya ke dia? Aku mau ngomong sebentar sama dia."

"Oh iya kak."

Tak lama suara dari dalam telepon pun berganti orang.

"Asslamualayikum Hasan."

"Waalaikumusalam Mba Hana. "

"Anak soleh, kamu lagi nulis hadist ya? Tulisannya yang rapi ya. Nulis ro sama gho nya yang bener biar bisa kebaca. Jum'at hafalan kan?"

"Iya Mba. Mba Hana gak mau marahin Hasan?"

"Marahin? Emang kamu salah apa?"

"Kan kak Dina udah cerita ke Mba Hana."

"Itu kan kak Dina yang cerita, aku mau denger dari kamunya dong."

"Hasan ngelepasin ayam jagonya bu Tami yang baru."

"Kok? Emang kenapa?"

"Habis di suruh Dio."

"Kamu kok mau di suruh dalam kejahatan. Allah gak suka loh."

"Iya Mba." Katanya, aku mendengar ada nada penyesalan di suaranya.

"Udah minta maaf ke bu Tami?"

"Belum Mba."

"Minta maaf ya anak soleh, anak pinter, anak ganteng ke bu Tami. Inget surah Al-baqarah ayat 263 kan? Dan perkataan yang baik dan permohonan maaf lebih baik dari sedekah yang riya. "

"Iya Mba."

"Yasudah lanjutin nulis lagi sana. Assalamualaikum."

"Walaikumusalam Mba."

Sambungan telepon pun terputus dengan akhiran salam darinya.

Kau tau senja, kenapa Hasan jadi kesayanganku dan aku tidak pernah membentaknya?

Karena dia lahan pahala untukku. Pahala untuk belajar sabar. Aku tipe orang yang selalu percaya bahwa sekeras apa pun batu akan luluh dengan seringnnya terkena tetesan air.

Aku sampai lupa senja, aku sedang bersama dia. Dia menatapku dengan haru. Aku rasa dia dengar percakapanku.

"Aku makin yakin. Aku butuhnya kamu."

"Tapi aku gak bisa naik gunung."

"Aku gak butuh yang cuma bisa naik gunung, aku butuh yang bisa nuntun aku di jalanNya."

"Kita belajar sama-sama. Seiring lebih menyenangkan dari pada di giring dan mengiring."

Kita menutup senja dengan senyuman dan menutup akhir kuliah dengan menyenangkan.

-Hana Larasati

Tidak Perlu Tahu Siapa

*Tak Perlu Tahu Siapa*

Sepasang wisatawan asyik menikmati kopi di sebuah kafe terkenal di Venesia, Italia. Tak lama kemudian, datanglah seorang pria paruh baya, duduk di salah satu meja kosong. Ia memanggil pramusaji dan memesan : *“Kopi 2 cangkir. Yang 1 untuk di dinding.”*

Sang wisatawan merasa heran mendengar kalimat tersebut. Apalagi sang pria kemudian hanya disuguhi 1 cangkir kopi, namun ia membayar untuk 2 cangkir.

Segera setelah pria tersebut pergi, si pramusaji menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan *"Segelas Kopi"* di dinding kafe.

Suasana kafe kembali hening. Tak lama kemudian masuklah dua orang pria. Kedua pria tersebut pesan 3 cangkir kopi. Dua cangkir di meja, satu lagi untuk di dinding. Mereka pun membayar tiga cangkir kopi sebelum pergi.

Lagi-lagi setelah itu pramusaji melakukan hal yang sama, menempelkan kertas bertulis *"Segelas Kopi"* di dinding.

Pemandangan aneh di kafe sore itu membuat pasangan wisatawan itu heran. Mereka meninggalkan kafe dengan menyimpan pertanyaan atas kejadian ganjil yang disaksikannya, namun ia tidak sempat mengajukan pertanyaan, apa yang dimaksud dengan kopi di dinding tadi.

Minggu berikutnya, mereka mampir kembali di kafe yang sama. Mereka melihat, seseorang lelaki tua masuk ke dalam kafe. Pakaiannya kumal dan kotor. Setelah duduk ia melihat ke dinding dan berkata kepada pelayan : *“Satu cangkir kopi dari dinding."*

Pramusaji segera menyuguhkan segelas kopi. Setelah menghabiskan kopinya, lelaki lusuh tadi lantas pergi tanpa membayar. Tampak si pramusaji menarik satu lembar kertas dari dinding tersebut, lalu membuangnya ke tempat sampah.;

Kini pertanyaan pasangan wisatawan itu terjawab sudah.

Begini rupanya cara penduduk kota ini menolong sesamanya yang kurang beruntung, dengan tetap menaruh respek kepada orang yang ditolongnya. Kaum papa bisa menikmati secangkir kopi tanpa perlu merendahkan harga diri untuk mengemis secangkir kopi. Bahkan mereka pun tidak perlu tahu siapa yang *_“mentraktirnya”._*
Suatu tatanan hidup bermasyarakat yang amat menyentuh dan mengharukan.

Seorang guru besar yang meyakini bahwa kita tidak bisa hidup lebih baik tanpa memberi dan menerima cinta, perhatian, dan bantuan dari orang lain.
*“Terlalu sering kita meremehkan kekuatan sebuah sentuhan, sekilas senyuman, sebuah kata, mendengar keluhan orang lain, pujian tulus atau tindakan kecil membantu orang lain, yang semua itu punya kekuatan untuk mengubah kehidupan,”* katanya.

Secangkir kopi di dinding adalah wujud cinta yang ikhlas, tanpa menyikapi orang miskin dengan cara arogan : *_aku memberi kepadamu._*

*Tidak penting seberapa banyak kita sudah memberi yang lebih penting adalah bagaimana cara kita memberi….*
#copas

Tidak Perlu Tahu Siapa

*Tak Perlu Tahu Siapa*

Sepasang wisatawan asyik menikmati kopi di sebuah kafe terkenal di Venesia, Italia. Tak lama kemudian, datanglah seorang pria paruh baya, duduk di salah satu meja kosong. Ia memanggil pramusaji dan memesan : *“Kopi 2 cangkir. Yang 1 untuk di dinding.”*

Sang wisatawan merasa heran mendengar kalimat tersebut. Apalagi sang pria kemudian hanya disuguhi 1 cangkir kopi, namun ia membayar untuk 2 cangkir.

Segera setelah pria tersebut pergi, si pramusaji menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan *"Segelas Kopi"* di dinding kafe.

Suasana kafe kembali hening. Tak lama kemudian masuklah dua orang pria. Kedua pria tersebut pesan 3 cangkir kopi. Dua cangkir di meja, satu lagi untuk di dinding. Mereka pun membayar tiga cangkir kopi sebelum pergi.

Lagi-lagi setelah itu pramusaji melakukan hal yang sama, menempelkan kertas bertulis *"Segelas Kopi"* di dinding.

Pemandangan aneh di kafe sore itu membuat pasangan wisatawan itu heran. Mereka meninggalkan kafe dengan menyimpan pertanyaan atas kejadian ganjil yang disaksikannya, namun ia tidak sempat mengajukan pertanyaan, apa yang dimaksud dengan kopi di dinding tadi.

Minggu berikutnya, mereka mampir kembali di kafe yang sama. Mereka melihat, seseorang lelaki tua masuk ke dalam kafe. Pakaiannya kumal dan kotor. Setelah duduk ia melihat ke dinding dan berkata kepada pelayan : *“Satu cangkir kopi dari dinding."*

Pramusaji segera menyuguhkan segelas kopi. Setelah menghabiskan kopinya, lelaki lusuh tadi lantas pergi tanpa membayar. Tampak si pramusaji menarik satu lembar kertas dari dinding tersebut, lalu membuangnya ke tempat sampah.;

Kini pertanyaan pasangan wisatawan itu terjawab sudah.

Begini rupanya cara penduduk kota ini menolong sesamanya yang kurang beruntung, dengan tetap menaruh respek kepada orang yang ditolongnya. Kaum papa bisa menikmati secangkir kopi tanpa perlu merendahkan harga diri untuk mengemis secangkir kopi. Bahkan mereka pun tidak perlu tahu siapa yang *_“mentraktirnya”._*
Suatu tatanan hidup bermasyarakat yang amat menyentuh dan mengharukan.

Seorang guru besar yang meyakini bahwa kita tidak bisa hidup lebih baik tanpa memberi dan menerima cinta, perhatian, dan bantuan dari orang lain.
*“Terlalu sering kita meremehkan kekuatan sebuah sentuhan, sekilas senyuman, sebuah kata, mendengar keluhan orang lain, pujian tulus atau tindakan kecil membantu orang lain, yang semua itu punya kekuatan untuk mengubah kehidupan,”* katanya.

Secangkir kopi di dinding adalah wujud cinta yang ikhlas, tanpa menyikapi orang miskin dengan cara arogan : *_aku memberi kepadamu._*

*Tidak penting seberapa banyak kita sudah memberi yang lebih penting adalah bagaimana cara kita memberi….*
#copas

Keriting Rambut

Assalamualayikum fajar. Hei, kau tau apa yang ku alami hari ini? Sangat mengesankan.

Pagi ini di bawah sinar hangatmu aku menjejakan kaki untuk berangkat ke kampus.

Aku melewati rute yang berbeda dari biasanya. Aku pikir aku bisa sampai lebih cepat. Tapi dugaanku sepertinya salah.

Kau tau kenapa? Rute yang aku pikir lancar tanpa ada halangan perbaikan jalan ternyanta mengalami masalah.

Dua truk tronton terguling di jalanan dan membuat macet yang sangat panjanggg. Kau tau? Aku baru beberapa kali melewati rute tersebut dan aku tidak tau jalan-jalan itu.😂

Supir angkotku memberhentikanku di sebuah puskesmas dan aku tidak tau itu di jalan mana dan seberapa jauh lagi untuk sampai pada tujuanku.

Beruntungnnya aku ada satu keluarga baik yang mau menolongku. Mereka terdiri dari ibu, dan dua orang anak. Satu anak laki-laki yang aku taksir umurnya sekitar 3 atau 4 tahun dan satu lagi anak perempuan sekitar 9 atau 10 tahun.

Keluarga itu aku tebak bukan berasal dari pulau jawa. Logat mereka yang membuat aku tau.

"Aduh parah sekali ini kita terjebak e. Hei mel ayo cepat kita jalan kaki saja ke sekolahmu." Ibu itu berbicara pada anak perempuannya yang sudah lengkap memakai atribut sekolah beserta rambut kerintingnnya yang dia gulung ketat.

Aku memperhatikan mereka saja dengan wajah bingung. Aku rasa ibu itu tau. Dia pun bertanya padaku.

"E kakak mau kemana?"

"Mau ke prumpung bu."

"Oh sama e saya juga."

"Boleh saya bareng ibu?" Kataku karena aku bingung daerah itu baru beberapa kali aku lewati.

"Iya, bareng saja. Tapi kita jalan kaki saja e. Tidak ada mobil. Macat."

"Iya." Kataku dengan senang hati dan aku pun mengikuti keluarga kecil itu.

"Tapi prumpung sedikit jauh e."

"Iya tidak apa-apa." Kataku percaya diri. Aku pikir "agak jauh" versi ibu itu dan aku sama. Ternyata... "agak jauh"nya ibu itu sama dengan jauh bangetnyaaaaa aku. 😂😂

Tapi namanya Indonesia, walaupun nyasar tetap berasa gak kesasar. Aku pun bercengkrama dengan anak perempuan ibu itu. Membunuh waktu dan menyamarkan rasa capek.

"Hei kamu, kelas berapa?" Kataku sambil mengandeng tangannya. Karena kita berjalan di pinggir jalan.

"Kelas empat kak."

"Kamu namanya siapa?"

"Amel kak. Kalau kakak?"

"Hana."

Kemudian aku yang penasaran pun bertanya pada ibu itu.

"Bu, ini dari kapan ya macetnya kaya gini?"

"Baru mulai semalam sih. Tapi yang besar itu sudah 2 hari e." Kata ibunya lugas.

"Sudah tau jalanya seperti ini e, masih saja memaksa. " Lanjut ibu itu.

Pikirku "Benar juga, hal nekat tanpa perhitungan hanya akan membawa kesia-siaan dan kerugian untuk diri sendiri dan orang lain."

Kau tau aku menyikapi ini bukan sebagai hal yang menyedihkan atau mengenaskan. Tapi lebih ke suatu hal yang mengesankan.

Banyak pelajaran yang aku terima hari ini. Salah satunya, aku menemukan ke ajaiban Indonesia lainnya yang tak di tulis di buku wonderful world. Yaitu keramahan, kepercayaan, dan ketulusan.

Jika mau berpikir negatif ibu itu, bisa saja tidak mempercayaiku. Secara aku orang yang baru dia kenal dan bukannya tidak mungkin aku membahayakan. Tapi ibu itu percaya padaku dan mau menolongku untuk sampai pada tujuanku.

Bisa juga sebaliknya, jika mau berpikiran negatif aku tidak akan meminta bantuan ibu itu. Bisa saja dia perampok atau pencopet. Tapi nyatanya aku percaya padanya. Mempercayakan tujuanku padanya.

Kau tau kenapa masing-masing kita bisa saling mempercayai? Karena kita lahir di Indonesia. Dimana kebudayaan, keramahannya sudah mendarah darah daging dan mengendap.

Kita bisa saling mempercayain tanpa takut menyakiti. Aku bangga aku Indonesia. Dan aku bangga mengnal sosok mama itu. Pround of you mama.

-Hana Larasati



Selasa, 23 Agustus 2016

Niat

Kebanyakan orang berubah berawal dengan niat yang salah. Tapi seiring berjalannya waktu Allah yang akan meluruskan niatmu.

Tanamkan dalam diri pertanyaan-pertanyaan sederhana. Kenapa saya melakukan ini? Apa yang mendasari saya melakukan ini? Dan saya melakukan ini untuk siapa? Lalu tarik garis lurus jawaban menuju Allah.

Semoga berkah.

-Hananing S. Larasati