Jumat, 30 Desember 2016

Jalan Cinta Para Pejuang

Masih jam 07:00 pagi, terlalu dini untuk iri pada mereka yang membuat hati berseri. Terbayang bagaimana mereka jatuh cinta lalu melibatkan Tuhan nya. Cinta di atas titik ketaatan.

Mereka yang bisa menjaga matanya, mereka yang bisa menahan hatinya, mereka yang bisa berkomitmen atas dasar agama.

Sudah waktunya aku rasa. Membiarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci.Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi.

Tuan, maafkan hati yang dengan lancang memasukanmu dan menjadikanmu yang nomer satu. Aku harap kau maklum, seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat.

Berat itu pasti. Saat taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas. Tapi aku yakin, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Saatnya untuk memilih tinggalkan atau halalkan.

-Hana Larasati

Kamis, 29 Desember 2016

Mengakrabi Hampa dengan Aksara

Hanya suara detak jarum jam yang menemaniku malam ini. Aku merasa, suaranya lebih ramai dari biasanya atau mungkin hidupku yang terlalu sepi?

Sekarang sudah pukul 02:58 dan mataku masih saja terjaga. Akhir-akhir ini aku sering tidur larut. Aku tidak tau kenapa bisa begitu, yang aku tau kepala ku terasa berat. Seperti pengap, entah apa yang kupikirkan. 

Mereka bilang itu namanya hampa. Hampa? Apa benar itu yang ku rasakan? Tapi bagaimana hampa bisa begitu menyakitkan? Hampa harusnya berarti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa berarti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit.

Aku ingin sekali mengubah rutinitasku agar rasa hampa itu tidak lagi aku rasa. Tapi, bukannya mengubah rutinitas itu sama saja dengan menawar bumi agar berhenti mengelilingi matahari?

Sesaat aku menatap langit, lalu aku berpikir. Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang-bintang kita tetap disana. Bumi hanya sedang berputar.

Aku menarik nafas panjang. Jika sudah begini, hal yang membuatku sedikit lega adalah melampiaskan semuannya dalam aksara.

Buatku, bermain dalam kata sama halnya dengan berimajinasi tapi kau memiliki bukti yang nyata.

Saat semua penat terjun dan dideskripsikan dengan sebebas-bebasnnya, aku benar-benar merasakan puas.

Menulis buatku tidak hanya menyalurkan aspirasi, tapi lebih kepada media untuk berbagi ilmu, nasihat, peringatan, pengalaman dan hal lain yang menakjubkan.

Setiap penulis punya gayanya masing-masing. Ada yang suka berprosa, puisi, diksi, fiksi dan yang lainnya.

Tulisannya adalah identitas dirinya. Bagaimana dia menyampaikan makna yang tidak bisa di ungkapkan kata. Mengajak mata berkelana dan membiarkan otak mencerna maknannya.

Bukan mimpiku awalnnya menjadi seorang penulis, tapi takdirku yang mengajakku berjalan untuk menjadi sang penyampai pesan.

Walaupun banyak yang mengatakan takdir di luar kenadali kita. Sama halnya dengan nasib yang tidak bisa di tentukan, tapi aku lebih tau diriku. Buatku, takdir ku hidup di dalam diri ku.

Tidak ada kekangan dalam menyampaikan tulisan. Kau bisa menjadikan siapa pun untuk masuk dalam ceritamu.

Sudah pukul 04:00 dan tulisanku pun sudah hampir jadi. Cerita ini tidak melulu soal hati, tapi lebih kepada kita yang harus mawasdiri.

-Hana Larasati

Rabu, 28 Desember 2016

Guratan Cinta Dalam Kumandang Adzan

Tepat pukul 04:05 suara penyerumu telah di perdengarkan. Jika aku tak bangkit, maka apa bedannya aku dengan kaum munafik dan para pengungkit.

Adzan itu adalah tanda bahwa kita harus istirahat, dan mulai merancang percakapan bersama Tuhan.
 
اَللهُ اَكْبَر

Nyaring kalimat itu dalam panggilanNya. Suatu kalimat persaksian bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah, bahkan semesta pun tunduk pada perintahNya.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّاللهُ

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Seketika hatiku bergetar. Apa itu sudah ku lakukan dengan benar? Berkelabat rasa Takut, malu, merasa bersalah saat persaksian itu di kumandangkan.

Tertarik semua bayangan, saat dengan tidak sengaja aku sering menduakanNya, padahal mulutku sering bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia.
 

 اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Terbayang sikap teduh sang Nabi. Bagaimana dia mengimami. Menyuruh kita memahami, bukan hanya mengikuti sugesti. Ah, Muhammadku bisakah aku bertemu denganmu. Sepersekian detik saja. Aku rindu, dan semoga engkau sudi menemui aku, umatmu.

            حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

Marilah kita sholat. Dekatkan dirimu dalam taat. Menangislah dan berserah untuk imanmu yang harus maju.

               حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

Saat Tuhan sudah berseru kemenangan hanya sebatas kening dan sajadah, masihkah engkau ingkar atas nikmatnya? Masihkah engkau menyerah dalam setiap ujiannya?

             اَللهُ اَكْبَر , اَللهُ اَكْبَر

Ya, Allah hanya Engkau yang pantas di sebut Maha Besar. Bukan sombongku yang membuat arsy marah hingga bergetar. Ampuni aku dan segala perilakuku.

                  لاَ إِلَهَ إِلاَّالله

Tiada Tuhan selainMu. Dalam hati aku berseru hanya Engkau Yang Maha Satu. Demi Allah, tidak ada selainMu. Maka lindungi hatiku dan diriku untuk selalu taat padaMu.

-Hana Larasati

Selasa, 27 Desember 2016

Jika Pengagumku Seorang Penulis.

"When a writer falling in love with you. You never die."

Segelas kopi dan sepotong roti adalah menu yang menyambutku setiap pagi. Di temani laptop yang selalu menyala dan topi yang ada di kepala, aku menikmati seperti orang pada umumnnya.

Buatku pagi itu tentang belajar bersyukur. Bersyukur saat Tuhan masih sudi membangunkan tubuh sang pengeluh.

Pagi ini temannya masih tentang kamu. Tentang senyummu yang membuat aku malu. Bumi seperti berputar cepat, saat bayangnya datang berkelebat.

Tragedi ini terjadi saat aku menemuimu di depan pintu. Kau mengintip dengan mata sayumu. Saat mataku kubiarkan melihat matamu, kau malah menunduk malu.

Aku tebak, kejadian ini pasti akan menjadi tema tulisanmu. Walaupun aku tidak suka baca, tapi jika kau penulisnya aku akan berusaha suka.

Benar saja, hari ini aku lagi yang jadi objeknya. Fix, pengagumku seorang penulis ternyata, dan aku bangga.

Walaupun pada akhirnya rasa suka yang ada di dadamu harus tiada, namun aku masih ada dalam tulisanmu yang melegenda.

Aku suka caramu.  Di dunia nyata kau tak berani menyentuhku. Tapi dalam tulisanmu, aku lah peran utama yang mejadi pokok alur ceritamu

Jangan berhenti menulis, pengagumku. Ku relakan diriku menjadi objeknya, dan buatlah cerita yang bisa memberikan inspirasi untuk semua.

Tuangkan apa yang menjadi pemikiranmu, bagaimana kau memaknai sesuatu, dan tentang hal yang menjadi masa lalu. Tulislah, apa yang bisa menjadi manfaat untuk sekitarmu.

Aku pernah baca di satu tulisanmu.

"Menulis itu bukan tentang memenangkan hati siapa pun. Tapi lebih kepada memenangkan hatimu sendiri dan menebarkan cinta kepada para pembaca. Masalah bahagia atau tidak biar mereka yang memaknainnya." -Werry

Kau tau nona? Tanpa perlu berlomba, kau akan selalu jadi pemenangnya.

"Jadi, apa yang kamu lakukan jika pengagummu seorang penulis?" Begitu isi tulisanmu hari ini yang aku jawab dalam hati.

"Aku akan jadi pembaca, walaupun aku tidak suka baca. Karena menulis tanpa pembaca hanya akan menjadi hal yang fana."

Kita sudahi dulu berpetualang dalam ceritannya. Kini saatnya kembali ke dunia nyata dan melakukan rutinitas yang biasa. Satu pertanyaan untuk kalian semua.

"Apa yang kamu lakukan jika pengangummu seorang penulis?"

-Hana Larasati

Senin, 26 Desember 2016

Monumen Masa Depan

Setiap fajar menyingsing, pertanyaan mulai menuntut dan membuat bising. Pertanyaan tentang evaluasi diri untuk apa yang aku kerjakan kemarin.

Kenapa saya harus melakukan ini? Apa sebab saya melakukan ini? Adakah pengaruh saat saya melakukan ini? Dan beberapa hal semacam itu.

Aku selalu menulisnya dalam buku. Tentang sesuatu yang bisa aku kerjakan, tentang apa yang gagal, tentang luka dan sakit hati yang tidak bisa aku jelaskan.

Sahabatku bertanya.

"Kenapa kamu melakukan hal itu?"

"Untuk melegakan."

"Tidak se-simple itu aku rasa." Begitu balasnnya.

"Aku hanya terpikir tentang masa depan. Dia adalah apa yang aku usahakan sekarang."

"Baguslah, jadi luka sudah kau tinggal di belakang?"

"Tidak begitu yakin. Tapi aku berusaha untuk itu. Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin kan?"

"Mulai berpuisi lagi. Jadi intinya."

"Aku berusaha membuat diriku percaya untuk potensiku yang ada. Mencoba berdamai dengan luka, kecewa, dan hal lain yang menyesakkan dada."

"Fokus untuk apa yang terjadi hari ini. Mengevaluasi apa yang sudah kulakukan dan membuat rencana perbaikan untuk yang akan aku lakukan."

"Aku ingat kata Nabi, hari ini harus lebih baik dari hari kemari. Jadi aku tuliskan apa yang sudah kulalui dan belajar dari setiap salah yang terjadi."

Dia hanya tersenyum. Aku rasa penjelasanku terlalu panjang.

"Proud of you Noy." Dia meninju pundakku lembut.

Masa depan buatku bukan tentang bagaimana aku 10 tahun lagi. Tidak itu terlalu jauh aku rasa. Karena 1 detik yang ada di depanmu termasuk masa yang harus kau hargai kehadirannya. 

Aku membiasakan untuk menulis segalanya. Membuat semacam prasasti yang tidak dapat di sentuh tapi melegenda sepenajang masa.

Ini, monumen perbaikanku yang aku abadikan dalam buku. Aku beri judul masa depan. Walau isinya adalah masa lalu. Tapi buatku buku ini adalah pemandu, untuk masa depanku yang jangan sampai ada lagi kesalahan seperti masa lalu.

-Hana Larasati.

#30DWC
#Day27

Ruang Sendiri

Ruang Sendiri.
.
.
Kadang seseorang membutuhkan ruang untuk sendiri. Diam-diam menepi dan memberi jarak antara dia dan dunia. .
.
Bukan untuk menarik diri, tapi lebih kepada intropeksi diri. Mengevaluasi apa yang sedang terjadi, apa yang belum terjadi, dan apa yang akan terjadi.
.
.
Sunyi itu indah ternyata. Walau tak banyak yang bisa di dengar, tapi banyak yang bisa di telaah. .
.
Jam sudah menunjukan pukul 04:00, masih sangat pagi untuk meratapi. Sekarang waktunya berdiri dan keluar dari ruang sunyi. .
.
Kembali ke hingar bingar, bercengkrama dengan rasa kesal. Ah, siklus ini. Bosan aku dengannya. .
.
"Jika kamu bosan dengan sesuatu maka jadi lah pembeda." Begitu kata ibu. .
.
Pembeda yang seperti apa? Untuk yakin pada diriku saja aku ragu. Dalam hati ku katakan seperti itu. .
.
"Meski ragu pada dirimu, berusahalah untuk percaya. Pikirkan, apa yang kamu dapat mungkin masih menjadi mimpi orang lain." Ibuku lebih tau aku rasa. .
.
-Hana Larasati

#30DWC
#Daya 26

Sabtu, 24 Desember 2016

Indonesia Merdeka (?)

Aku terpikir tentang merdeka. Merdeka itu bukannya definisi dari bebas ya? Jika aku tidak salah.

Bebas berbicara, bebas berperilaku, bebas memilih dan menentukan pilihan. Lantas, kenapa akhir-akhir ini kebebasan itu malah menjadi pembatas?

Kau tak mengerti maksudku? Begini. Ah aku merasa umurku bertambah banyak jika mulai serius.

Akhir-akhir ini kebebasan sudah jadi pembatas. Bebas berbicara contohnya, endingnya malah masuk penjara. Atau bebas berperilaku, malah lebih parah. MBA di mana-mana.

Atau kita yang salah mengartikan definisi dari "bebas"? Bebas bukan hanya sebebas bebasnya manusia tanpa tau norma dan etika.

Kita bukan orang hutan yang hidup semaunya. Kita bebas, tapi kita punya norma. Tidak seperti satwa yang hukum rimba jadi pegangannya. Tapi jika ingin di samakan dengan satwa silahkan. Tidak ada paksaan.

Jika di ingatkan alih-alih sadar, malah berkata ini negara merdeka! Merdeka yang bagaimana menurutmu, penerus?!

Aku rasa Soekarno, mengikrarkan proklamasi bukan untuk ini. Jika dia tau bangsanya akan berakhir seperti ini, aku pikir dia tidak akan mati-matian berjuang.

Kau tau, menurut pendapat pribadiku. Aku tidak menampik bahwa Indonesia negara yang merdeka. Iya kita merdeka, tapi kita masih terjajah denga pemikiran pendek kita.

Jiwa merdeka, bagaimana dengan akhlak? Bukannya Indonesia adalah salah satu negara muslim terbesar di dunia? Tidak, ini tidak bermaksud SARA. Ini untuk kita semua.

Kita adalah pemegang dasar negara pancasila. Tapi nilai-nilai moralnya malah enyah semua. Beberapa poinya akan aku sebutkan. Hanya beberapa, takut kalau banyak akan miris.

Ketuhanan yang maha esa, yakin menjadikan Tuhan satu-satunya? Sedangkan kriminalitas dimana-mana. Hak asasi manusia seakan tidak ada harganya!

Kemanusiaan yang adil dan beradap. Apa masih bisa di bilang manusia jika membunuh dan memperkosa anak di bawah umur oleh 14 pemuda?

Persatuan Indonesia. Saling cela satu sama lain dalam memperebutkan kekuasaan apa masih bisa di sebut bersatu? Padahal mereka pemimpin loh.

Tapi aku harus adil jika aku memperlihatkan sisi yang negative aku juga harus menampakan sisi yang positif. Sekarang mari kita lihat betapa indahnya Indonesia.

Negara dengan banyaknya pulau pulau. Pantai-pantai yang indah dan gunung-gunung yang menjulang seakan mengajak untuk di jelajahi.

Kita kaya, kita punya semua. Orang-orang kita pun orang-orang cerdas. BJ.Habibie, Sri Mulyani, Rio Haryanto, Liliana, Tomi Sugianto dan masih banyak lagi.

Jangan sedih, memang banyak kekurangan tapi kelebihan yang kita punya juga lebih banyak.

Cobalah memanusiakan manusia. Coba, jangan seperti hewan yang sekali kesal langsung hukum rimba.

Kita Indonesia. Kita ramah. Kita sopan. Kita kaya. Kita cerdas dan kita berakhlak.

Wujudkan Indonesia impian kita dan impian anak-anak kecil yang berpikir Indonesia indah.

-Hana Larasati